Dua Wajah Sungai Martapura: Berkilau Saat Malam, Keruh di Pagi Hari
GH News April 25, 2026 09:09 PM
Jakarta -

Suara mesin klotok terdengar berderak pelan, memecah hening malam Sungai Martapura. "Tak... tak... tak..." Di atas permukaan air yang gelap, kerlap-kerlip lampu kota memantul dan bergetar mengikuti riak kecil yang ditinggalkan perahu.

Aroma khas sungai yang lembap bercampur dengan angin malam pelan menyapu wajah kami. Dari atas perahu klotok, Banjarmasin tampak seperti kota cahaya yang mengalir di atas air.

"Setahu saya wisata ini sudah ada sejak 2010," kata Agus Suryono, pengemudi sekaligus pemandu kami malam itu, Selasa (21/4/2026).

Ia biasa mengantar jemput tetamu BRI regional Banjarmasin sejak 22 tahun lalu. Kala itu kawasan siring mulai ditata sebagai penguatan identitas kota sebagai "kota sungai".

Begitu klotok bergerak menjauh dari dermaga, suasana berubah perlahan. Cahaya kota berpendar di permukaan sungai, membentuk jalur cahaya yang mengikuti arah perjalanan.

Wisata Sungai MartapuraWisata Sungai Martapura Foto: Sudrajat/detikTravel

Namun keindahan itu sesekali terganggu oleh sampah eceng gondok yang berpadu dengan sampah rumah tangga dan sisa pembuangan lainnya. Karena itu laju perahu sesekali melambat, atau berkelok untuk menghindar.

Fakta itu menjadi pengingat bahwa Sungai Martapura yang punya lebar sekitar 100 meter dan panjang hampir 100 km itu bukan hanya ruang wisata, tetapi juga ruang hidup yang masih menghadapi persoalan lingkungan.

Di sepanjang perjalanan, kehidupan di bantaran sungai sebagian masih tampak jelas. Ada warga yang menjala ikan dengan perahu mungil, memancing di tepian, hingga aktivitas rumah tangga di rumah-rumah panggung di atas air. Di beberapa titik terlihat pula aktivitas mandi dan mencuci.

"Wah, itu mereka pakai air sungai juga? Buat masak juga," kata Andi Raviali, staf BRI Pusat, takjub bercampur heran.

"Kalau untuk memasak dan mandi warga menggunakan air dari PAM," jelas Agus.

Rute yang kami tempuh malam itu adalah rute pendek: dari Menara Pandang menuju Kampung Hijau dan Kampung Biru, lalu kembali ke titik awal. Tarifnya sekitar Rp10 ribu per orang.

Sebagian wisatawan lain ada yang melanjutkan hingga Museum Wasaka Banjarmasin atau ke hilir Sungai Barito, tempat kapal tongkang besar melintas di alur sungai yang lebar.

Sebenarnya, sempat terbayang untuk melanjutkan perjalanan lebih jauh ke Pelabuhan Sungai Barito, namun rasa lelah membuat rencana itu kami urungkan. Apalagi kami juga belum makan malam.

Agus sempat menawarkan pengalaman lain: menyusuri pasar terapung di pagi hari. Hal menarik di sana adalah menyaksikan transaksi perdagangan yang dilakukan di atas perahu.

Pengunjung juga dapat menikmati sarapan soto Banjar bisa dinikmati langsung di sungai. Namun karena harus berangkat sekitar pukul lima subuh, rencana itu kami tunda. Jadwal penerbangan kembali ke Jakarta terlalu mepet.

"Bila Tuhan menghendaki, insyaallah kita akan mengunjunginya di lain waktu," kata wartawan senior Latief Siregar yang membersamai kami dengan bijak.

Dalam perjalanan kembali, kami melewati warung soto Banjar legendaris Yana-Yuni, yang kini disebut mulai meredup pamornya dibandingkan pendatang baru seperti Soto Banjar Bang Amat.

Pagi harinya, sebelum sarapan, saya dan Latief kembali lagi ke kawasan Menara Pandang. Kali ini suasananya benar-benar berbeda. Kami berjalan kaki santai mengelilingi kawasan siring selama sekitar satu jam, dengan jarak tempuh empat kilometer.

Wisata Sungai MartapuraWisata Sungai Martapura Foto: Sudrajat/detikTravel

Di pagi hari, baru terlihat jelas warna Sungai Martapura yang keruh kecokelatan, mengalir tenang di bawah cahaya matahari. Tanpa gemerlap lampu malam, sungai ini tampil lebih jujur-sekaligus lebih apa adanya. Bunyi mesin kelotok lebih meriah oleh perahu-perahu yang lebih ramai hilir-mudik.

Kawasan siring juga ramai oleh warga yang berolahraga sebelum ke kantor. Ada yang jogging, jalan pagi, atau sekadar duduk menikmati udara segar. Di beberapa titik, kami melihat fotografer jalanan yang menawarkan jasa foto candid kepada pengunjung.

Mereka menangkap momen spontan orang yang berolahraga atau berjalan santai. Satu foto dijual sekitar Rp6 ribu, sebuah bentuk ekonomi kecil yang tumbuh dari keramaian ruang publik ini.

Wisata Sungai MartapuraFotografer Yoga Febriyan Foto: Sudrajat/detikTravel

Salah satu fotografer yang kami temui adalah Yoga Febriyan. Ia bekerja dengan cara yang berbeda karena tuna rungu dan tuna wicara. Komunikasi dengannya dilakukan melalui bahasa isyarat dan gestur sederhana.

Pagi itu, Menara Pandang tidak hanya menjadi titik wisata sungai, tetapi juga ruang sosial yang hidup-tempat sungai, kota, dan manusia saling berkelindan dalam ritme yang berbeda dari malam sebelumnya.

Dari malam yang penuh pantulan cahaya hingga pagi yang memperlihatkan realitasnya, Sungai Martapura menghadirkan dua wajah yang kontras namun saling melengkapi. Di balik tantangan sampah dan eceng gondok, tersimpan harapan besar: agar sungai ini dapat terus dibenahi, dijaga kebersihannya, dan dikembangkan sebagai destinasi wisata air yang lebih berkelas.

Jika dikelola dengan lebih profesional, bukan mustahil Martapura bisa berdiri sejajar dengan ikon-ikon wisata sungai dunia seperti Sungai Thames di London, kanal-kanal di Venesia - Italia, atau setidaknya Sungai Chao Phraya di Bangkok. Bayangan itu semakin kuat ketika membayangkan hadirnya restoran terapung, kafe di atas air, dan ruang-ruang publik yang benar-benar menyatu dengan sungai.

Sudrajat
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.