Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Di teras rumah sederhana di Dusun Merbau Pendek, tumpukan sayur segar terlihat tertata di atas gerobak.
Di sanalah Adena Yusri (58) memulai hari-harinya, sambil terus memupuk harapan yang ia rawat sejak puluhan tahun lalu.
Warga Desa Karang Jaya, Kecamatan Marbau Mataram, Lampung Selatan ini menyisihkan uang koin Rp1.000 dan Rp500 hingga total Rp35 juta dalam 6 ember, dari berjualan sayur demi bisa berangkat ibadah haji.
Saat ditemui di kediamannya, Sabtu (25/4/2026) siang, Adena ditemani istri tercinta, Aljariya (54), nampak menata sayuran dari dagangan di depan rumah.
Pria paruh baya tersebut tampak bersemangat menata sayur di atas gerobak tersebut.
Baca juga: Kisah Sedih di Balik Keberangkatan Jemaah Haji Termuda asal Pringsewu Lampung
Sementara motor Honda Revo hitam yang digunakan untuk mengangkut dagangan tersebut di taruh di garasi rumah.
Di balik aktivitas sederhana itu, tersimpan cerita panjang tentang kesabaran dan ketekunan.
Calon Haji Adena Yusri mengatakan, ia harus menyisihkan uang dagangannya berupa koin dikumpulkan sejak 20 tahun silam.
"Alhamdulillah, berkat mengumpulkan uang koin puluhan tahun, dan atas izin Allah, saya berangkat ibadah haji tahun ini," kata Adena Yusri, Sabtu.
Adena pun mengisahkan, bagaimana ia mengumpulkan uang koin hingga mencapai puluhan juta tersebut.
"Jadi setiap pulang dari pasar, saya taruh ember seadanya, ada Rp1.000 dan Rp500 dan ada uang logam kuning," tutur Adena.
Adena bersyukur, keempat anaknya serta para cucunya yang berjumlah 10 orang, mendukungnya untuk berangkat menunaikan rukun iman yang kelima tersebut, pada 5 Mei mendatang.
Adena juga menceritakan kesehariannya sebagai pedagang sayur keliling. Sejak awal ia memang berniat menyisihkan sebagian penghasilannya untuk tabungan haji.
Kemudian uang dari hasil dagang itu menjadi tambahan untuk mempercepat tabungannya.
Para pelanggan pun ikut senang ketika mendengar dirinya akhirnya bisa berangkat ke Mekkah.
"Banyak sekali rintangannya. Waktu anak-anak masih kecil, uang sering terpakai untuk bayar SPP, anak mondok, sampai membeli buku sekolah," ucap Adena.
Beberapa keluarga maupun orang lain sempat meragukan niatnya untuk bisa berangkat haji.
"Perasaan ada yang ragu, tapi tidak disampaikan langsung," tutur Adena.
Setiap hari ia berangkat berjualan setelah salat subuh. Jika rutenya dekat, ia sudah pulang sebelum zuhur.
"Kalau jauh sampai Tanjung Bintang, saya pulang ke rumah bisa lewat zuhur sekitar pukul 13.30 WIB," sebut Adena.
Ia mengaku keuntungan yang didapat tidak besar, hanya sekitar Rp500 hingga Rp1.000 untuk setiap ikat sayur.
"Kalau saya jual mahal nanti pelanggan lari karena saingan banyak. Rezeki itu dari Allah," ujar Adena.
Selama 20 tahun menabung, hampir semua pelanggannya mengetahui niatnya untuk berangkat haji.
"Tidak menyangka doa keluarga dan para pelanggan akhirnya membuat saya bisa naik haji juga," kata Adena.
Setelah selesai berkeliling, ia pulang ke rumah untuk merendam sayuran agar tetap segar. Sementara ikan dagangannya dicuci lalu dimasukkan ke dalam kulkas.
"Dagangan kadang habis, kadang tidak. Keuntungan sehari biasanya di bawah Rp100 ribu," imbuh Adena.
Jika sayur masih segar akan direndam kembali, tetapi jika sudah layu biasanya diberikan kepada tetangga.
Adena sebenarnya berharap bisa berangkat haji bersama istrinya, namun Aljariya belum bisa ikut berangkat tahun ini.
"Harapannya dulu bisa naik haji bareng. Kami memulai hidup benar-benar dari nol, bahkan pernah bekerja menanam jagung dan singkong di sawah bersama," kata Adena.
"Saya dulu susah senang dari nol bersama istri saya. Dari nanam jagung, singkong, sampai padi di sawah bareng-bareng," sambungnya.
Adena sempat ragu mendaftar haji karena ingin berangkat bersama istrinya.
Namun, saat itu ia mendapat informasi dari pihak Kementerian Agama, pendaftaran berbeda waktu tidak bisa berangkat bersamaan dalam satu keberangkatan.
Kabar tersebut membuatnya sempat putus asa dan tidak segera mendaftarkan sang istri.
Sementara itu, sang istri Aljariya mengaku justru mendorong suaminya untuk mendaftar haji terlebih dahulu.
"Saya kasihan melihat suami saya sering jatuh dari motor saat jualan sayur di jalan rusak, apalagi kalau hujan," kata Aljariya.
Ia baru mengetahui belakangan bahwa sebenarnya ada aturan penggabungan mahram. Namun tabungan yang sempat disiapkan untuk keberangkatannya sudah terpakai untuk biaya pernikahan anak mereka sepekan lalu.
"Jadi tabungan yang tadinya untuk saya berangkat haji sudah dipakai untuk menikahkan anak," kata Aljariya.
Adena pun mengajak masyarakat lain untuk lebih giat menabung, agar bisa mewujudkan cita-cita.
"Ajakan saya buat semuanya untuk bersemangat menabung. Orang kampung harus sabar dan sungguh-sungguh kalau ingin naik haji. Insyaallah niat tercapai, apalagi kalau dibarengi sedekah subuh," ajak Adena.
Menurutnya, ibadah haji bukan hanya soal kemampuan ekonomi, tetapi juga soal keimanan dan kesungguhan untuk berusaha.
(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)