POSBELITUNG.CO – Motif kasus dugaan di balik penganiayaan yang dilakukan senior terhadap junior di SMK Taruna Nusantara Manokwari, Papua Barat, pada Rabu (22/4/2026) malam terbongkar.
Sejauh ini, polisi telah mengantongi 19 nama senior yang diduga terlibat melakukan penganiayaan.
Polresta Manokwari tengah mendalami kasus dugaan penganiayaan tersebut.
Baca juga: Biodata Praka Rico Pramudia yang Gugur Setelah 4 Pekan Dirawat Intensif di Lebanon
Hal itu seiring penyidik telah memeriksa 12 korban sebagai saksi dan masih akan melanjutkan pemeriksaan terhadap korban lainnya.
"Secara prosedural kita sudah periksa kemarin ada 12 orang, namun masih ada korban lain, kita jadwalkan hari Senin," kata Kasat Reskrim Polresta Manokwari AKP Agung Gumara Samosir, Sabtu (25/4/2026), dilansir dari Kompas.com.
Terkait motif penganiayaan, lanjut Agung, hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa aksi kekerasan dipicu karena para senior merasa tidak dihargai oleh junior.
"Motifnya ada diduga junior yang masih kelas X, berdasarkan keterangan seniornya tidak menghargai mereka, sehingga terjadilah aksi pemukulan," tandasnya.
Berdasarkan keterangan awal, para korban diarahkan ke sebuah ruangan oleh para senior. Lampu kemudian dimatikan sebelum korban mengalami pemukulan.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 20.00 WIT. Para korban juga telah menjalani visum untuk keperluan penyelidikan.
Baca juga: Biodata Brigjen Pol Purn Raziman Tarigan, Polisi Korban Tabrak Lari, Dulu Wakapolda Metro Jaya
Kapolresta Manokwari Kombes Pol Ongky Isgunawan menegaskan proses hukum akan berjalan sesuai prosedur tanpa intervensi pihak luar.
"Kita lakukan saja sesuai prosedur dan tetap profesional untuk menangani kasus ini," katanya.
Namun, penanganan kasus ini tetap memperhatikan ketentuan hukum anak karena para pelaku masih berstatus pelajar.
Kepala Sekolah Taruna Nusantara Manokwari, Yusuf Ragainaga menegaskan, siswa yang terbukti melakukan pelanggaran berat seperti pemukulan hingga menyebabkan cedera akan diproses sesuai aturan sekolah.
“Siswa yang terbukti melakukan pelanggaran berat akan dikembalikan ke orangtua. Jumlahnya bisa 20 sampai 30 siswa.
Ini sesuai aturan, karena tidak boleh berkelahi apalagi sampai mencederai sesama siswa," ujarnya, Kamis (23/4/2026), dilansir dari TribunPapuaBarat.
Selain itu, pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan di asrama, mulai dari peran guru, pamong, hingga petugas keamanan.
"Evaluasi ini dilakukan untuk memperkuat pengawasan dan mencegah kejadian serupa terulang," imbuhnya.
Kepala Dinas Pendidikan Papua Barat Barnabas Dowansiba menyatakan pihaknya mempersilakan orang tua korban menempuh jalur hukum.
"Iya silakan saja, itu hak mereka masing-masing," katanya.
Baca juga: Kronologi Detik-detik Brigjen Pol Purn Raziman Tarigan Tewas Ditabrak, Terduga Pelaku Melarikan Diri
Barnabas juga menegaskan perlunya evaluasi sistem pendidikan di sekolah tersebut, mengingat kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya.
Ia memastikan evaluasi akan dilakukan tahun ini oleh Dinas Pendidikan Papua Barat.
Ada yang Patah Tulang
Dugaan penganiayaan terhadap siswa kelas X terjadi di lingkungan SMK Taruna Nusantara Kasuari, Manokwari, Papua Barat, Rabu (22/4/2026) malam.
Insiden tersebut menyebabkan sejumlah siswa mengalami luka, bahkan ada yang dilaporkan mengalami patah tulang.
“Kita lagi belajar persiapan ulangan tiba-tiba sekitar 40 Orang masuk, Saya kena pukul awal dari belakang kepala lalu dihajar pakai doka di depan,” kata AS, salah satu siswa kelas X yang mengaku menjadi korban.
Menurut AS, saat kejadian sekitar pukul 08.00 WIT, ia bersama sekitar 10 siswa lain sedang belajar mandiri di dalam kelas sebelum puluhan senior masuk dan melakukan pemukulan.
Ia mengaku tidak mengetahui kesalahan apa yang dilakukan hingga para siswa diminta meletakkan buku sebelum dipukul.
Puluhan orangtua siswa yang anaknya diduga menjadi korban penganiayaan mendatangi sekolah setelah sebelumnya membuat laporan polisi.
Mereka mendatangi kompleks Balai Latihan Kerja (BLK) Sanggeng, Manokwari, tempat sekolah tersebut berada. Pihak sekolah sempat menutup pagar gerbang.
Baca juga: Biodata Dani Hollat, Kematiannya 2019 Silam Jadi Pemicu Dendam Hendrikus Atlet MMA Habisi Nus Kei
Namun, sejumlah orangtua yang tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu akhirnya menerobos masuk.
“Pendidikan karakter seperti apa begini, kita punya darah daging diperlakukan begini,” cetus salah satu orangtua murid saat menerobos pagar sekolah.
Para orangtua berharap ada perbaikan sistem pembinaan di SMK Taruna Nusantara Kasuari agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Terduga Pelaku Ketua Paguyuban Siswa Angkatan V, Markus Waran, menyesalkan kejadian tersebut.
Ia mempertanyakan adanya benda seperti doka atau besi yang digunakan dalam insiden pemukulan di lingkungan sekolah.
Sementara itu, Kepala SMK Taruna Nusantara Kasuari, Yusuf Ragainaga, mengatakan sebanyak 60 siswa yang diduga terlibat telah dikeluarkan dari sekolah.
“60 siswa sudah kita keluarkan tadi mereka keluar dengan koper,” kata Yusuf.
Ia juga menyatakan pihak sekolah mengakomodasi usulan evaluasi terhadap pola pembinaan berbasis asrama yang selama ini diterapkan.
Dinas Pendidikan Sarankan Korban Segera Visum Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, Barnabas Dowansiba, mengatakan pihaknya menyarankan orangtua siswa korban segera melakukan visum sebagai dasar proses lanjutan.
Menurut dia, dinas akan bersikap adil dalam menangani kasus tersebut.
“Pelaku dalam insiden ini harus di proses dan sesuai dengan aturan perundang-undangan dan hukum yang berlaku. Dan pelaku harus bertanggung jawab sesuai dengan perbuatan yang dilakukan,” kata Barnabas Dowansiba.
Ia juga menyesalkan adanya kejadian di luar batas kewajaran yang disebut beberapa kali terjadi sebelumnya di lingkungan sekolah tersebut.
Barnabas menambahkan, pemerintah provinsi sedang menyiapkan pembangunan gedung sekolah baru yang lebih representatif di Warmare dan ditargetkan dapat digunakan pada 2028 dengan fasilitas yang lebih memadai.
(TribunPapuaBarat/Kompas.com/Bangkapos.com/Posbelitung.co)