Tribunlampung.co.id, Jakarta - Kondisi Gubernur Kaltim Rudy Masud hingga akhirnya menginginkan kursi pijat seharga Rp125 juta.
Gubernur Kaltim rupanya merasa letih mengemudi mobil sendiri selama seharian penuh. Karena itu, dia menginginkan kursi pijat nyaman ratusan juta.
Jumlah tersebut dianggap cukup besar untuk sebuah kursi pijat. Terlebih Pemerintah Pusat tengah menggaungkan efisiensi anggaran.
Banyak pos anggaran yang diefisienkan dialihkan ke program prioritas. Bukannya melakukan pembangunan daerah, Rudy justru mengalokasikan anggaran daerah untuk membeli kursi pijat.
Meski demikian, dia menyebut para stafnya kasihan melihat kondisinya yang kelelahan.
Baca juga: Gubernur Kaltim Ogah Temui Demonstran, Kalau Saya Dilempar Gimana?
"Kasihan lihat gubernurnya jalannya bawa mobil sendiri, ya kan. Perjalanannya ribuan kilo," kata Rudy, dikutip dari TribunJatim, Sabtu (25/4/2026).
Rudy mengaku membutuhkan waktu tempuh yang begitu panjang setiap kali bekerja.
"Kami kalau jalan matahari belum terbit, kami jalan. Matahari sudah terbenam kami belum sampai. Bawa sendiri lagi mobilnya," katanya.
Lalu meski sudah memiliki istri, Syarifah Suraidah, Rudy justru mengaku selalu sendiri di rumah.
"Saya cuma sendiri di rumah," katanya.
Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Masud, enggan menemui ribuan massa demonstrasi di depan kantornya di Jalan Gajah Mada, Kota Samarinda, pada Selasa (21/4/2026) lalu.
Rudy Masud menjelaskan bahwa berdasarkan informasi sehari sebelum aksi (H-1), ia mengetahui tujuan utama massa sebenarnya adalah gedung DPRD Kaltim.
Ia sempat mengira massa akan tetap berada di sana, namun ternyata aspirasi tersebut dialihkan ke Pemprov Kaltim.
Rudy Masud menegaskan pada dasarnya ia siap menerima aspirasi tersebut, namun bukan di tengah jalan.
"Di kantor Gubernur Kaltim tidak pernah menyampaikan bahwa untuk bertemu, tetapi saya sudah menyampaikan dengan Pak Kapolda bahwa kita siap untuk berdialog, tapi tidak untuk dikerumunan massa. Satu adalah karena keamanan, dua adalah berkaitan dengan protokolnya," ujar Rudy Masud, dikutip dari BanjarmasinPost, Jumat (24/4/2026).
Ia menegaskan sebenarnya pintu kantor maupun rumah jabatan selalu terbuka 1x24 jam untuk berdialog.
Menurutnya, berdialog secara langsung jauh lebih efektif karena suasana yang lebih tenang akan menghasilkan resolusi yang konstruktif bagi pembangunan daerah.
Ia juga sempat menawarkan pertemuan dengan perwakilan massa, namun tawaran itu ditolak.
"Saya sudah menawarkan, tapi teman-teman itu perwakilan tidak mau. Karena waktu itu hari itu sudah sore sekali tepatnya, kira-kira sudah jam 17.45, jadi hampir jam 18.00, walaupun setelah itu adik-adik mahasiswa membubarkan diri," terangnya.
Rudy Masud mengaku menyaksikan langsung momen kericuhan tersebut dari dalam kantor Gubernur Kaltim.
Ia melihat botol air mineral hingga pecahan batu dari trotoar dilemparkan oleh oknum massa ke arah aparat keamanan yang berjaga.
"Menurut saya ini yang tidak cocok. Bapak Ibu bisa membayangkan kalau saya ada di tengah-tengah situ terus dilempar begitu gimana?," ungkapnya.
Adapun aksi yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Kaltim tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa hingga ormas.
Meski telah berorasi selama berjam-jam, Rudy Masud tidak kunjung keluar menemui demonstran.
Akibatnya, massa memilih bertahan di lokasi meski pihak kepolisian sudah memberikan imbauan untuk membubarkan diri tepat pada pukul 18.00 WITA.
Kekecewaan massa pun pecah lewat aksi pelemparan botol air mineral hingga batu, yang membuat demo berakhir ricuh setelah aparat kepolisian mengambil tindakan tegas untuk membubarkan kerumunan.
Selain alasan keamanan, ia menyatakan tidak bisa mengambil keputusan secara sembarangan di tengah kerumunan tanpa membuka data-data terkait tuntutan yang diajukan.
Ia meminta para mahasiswa dan seluruh aliansi untuk memahami bahwa setiap pernyataan pemerintah harus berlandaskan data yang valid.
"Kami mendengarkan sekali dan saya langsung memberikan komentar melalui media sosial kami bahwa kami ingin sekali bahwa seluruh adik-adik mahasiswa aliansi-aliansi seluruh masyarakat menjadi mata telinga kami di dalam membangun Kalimantan Timur ini," pungkasnya.