TRIBUNNEWS.COM - Delegasi Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mendarat di Islamabad, Pakistan pada Jumat (24/4/2026).
Dalam kunjungan itu, Araghchi bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif dan Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar.
Araghchi tiba di Pakistan dengan misi khusus, yakni menyampaikan 'syarat mati' Iran untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Namun, ada satu pesan tegas dari Araghchi, yakni tidak ada meja perundingan langsung dengan Washington.
Meski Pakistan dikenal sebagai mediator kunci, Araghchi menegaskan kehadirannya di Islamabad bukan untuk duduk bersama delegasi AS.
Melalui Pakistan sebagai jembatan komunikasi, Iran hanya ingin menyampaikan poin-poin krusial atau "pertimbangan" mereka agar konflik bersenjata ini benar-benar bisa berakhir.
Mengutip Tasnim, kunjungan maraton ini tidak hanya berhenti di Pakistan.
Araghchi dijadwalkan terbang ke Oman dan Rusia untuk memperkuat barisan dengan negara-negara mitra di tengah situasi regional yang kian memanas.
Kini, Araghchi telah meninggalkan Pakistan setelah mengadakan pertemuan tingkat tinggi seharian.
"Delegasi tersebut menyampaikan daftar tuntutan resmi mereka untuk mengakhiri perang AS-Israel kepada para pemimpin Pakistan sebelum berangkat," lapor Osama Bin Javiad dari Al Jazeera.
Baca juga: Temui Panglima Pakistan, Iran Tegaskan Syarat Gencatan Senjata dengan AS
Presiden AS, Donald Trump sebelumnya telah mengutus utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner untuk terbang ke Pakistan.
Kehadiran dua sosok kepercayaan Trump ini awalnya diharapkan dapat membuka ruang dialog langsung dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Namun, secara mendadak Trump membatalkan rencana pengiriman delegasi tingkat tingginya ke Pakistan.
Keputusan pembatalan ini disampaikan Trump langsung dalam wawancara dengan Fox News pada Sabtu (25/4/2026) waktu setempat.
Trump mengaku enggan membiarkan utusannya membuang waktu untuk pembicaraan yang dianggapnya tidak membuahkan hasil.
"Saya katakan kepada tim saya saat mereka sedang bersiap-siap berangkat, 'Tidak, jangan pergi'."
"Tidak perlu terbang 18 jam ke sana hanya untuk duduk dan membicarakan hal yang tidak ada gunanya," tegas Trump sebagaimana dikutip dari Fox News.
Presiden AS itu menegaskan bahwa posisi Washington saat ini sangat kuat dalam negosiasi tersebut.
Ia merasa tidak perlu mengejar pihak Iran dan justru menunggu mereka yang bergerak lebih dulu.
"Kami memegang semua kartu kendali. Mereka (Iran) bisa menelepon kami kapan saja mereka mau," tambah sang Presiden.
Baca juga: Iran Kembali Membuka Penerbangan Komersial dari Bandara Teheran Sejak Perang dengan AS
Sedianya, kehadiran Kushner dan Witkoff di Pakistan dimaksudkan untuk membuka babak baru pembicaraan damai guna meredakan tensi konflik yang telah mengguncang pasar global dan menyebabkan ribuan korban jiwa.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sudah mendarat di Islamabad sejak Jumat (24/4/2026).
Meski berada di kota yang sama, pihak Teheran melalui juru bicaranya berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak memiliki agenda untuk bertatap muka langsung dengan delegasi Amerika Serikat.
Hal ini diduga menjadi salah satu pemicu Trump merasa negosiasi tersebut hanya akan menjadi perjalanan yang sia-sia.
Langkah mendadak ini menambah ketidakpastian baru dalam upaya diplomatik mengakhiri perang di Timur Tengah, di tengah situasi gencatan senjata yang masih sangat rapuh.
(Tribunnews.com/Whiesa)