Dokter Indonesia Tak Kalah dari Luar Negeri, Ahli Jantung Ungkap Tantangan Layanan Jantung di RI
Whiesa Daniswara April 26, 2026 01:20 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri ketika mengalami penyakit jantung.

Namun di balik fenomena ini, ada persoalan mendasar yang jarang dibahas.

Bukan hanya soal jumlah dokter, tetapi juga persepsi terhadap kualitas layanan di dalam negeri.

Ahli Kardiologi sekaligus Chairman & Founder Siloam Heart Hospital Prof. Dr. dr. Harry Suryapranata, M.D, Sp.JP, Ph.D menegaskan bahwa kualitas dokter Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan luar negeri.

“Saya sudah berkeliling ke mana-mana, mengajar dokter-dokter muda dan yang saya lihat dokter-dokter Indonesia itu tidak kalah kualitasnya dengan dokter-dokter luar negeri. Tidak kalah," ungkapnya pada konferensi pers Siloam Cardiac Summit 2026 di hotel Fairmont Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2026). 

Namun, keterbatasan jumlah tenaga medis dan fasilitas membuat persepsi masyarakat menjadi berbeda.

“Cuma mungkin karena kita kekurangan dokter dan kekurangan perawat dan sebagainya, sehingga bagi pasien-pasien tersebut mendapat kesan bahwa di Indonesia ini kualitasnya kurang dibandingkan luar negeri," ucapnya. 

Fenomena banyaknya pasien Indonesia berobat ke luar negeri bahkan sempat membuat Prof. Harry terkejut.

“Saya sering ke Malaysia. Setahun itu kira-kira empat kali setahun. Suatu hari saya lihat pasien-pasien yang di Malaysia itu orang Indonesia semua. Saya syok," katanya.

Kondisi ini menjadi titik balik baginya untuk kembali berkontribusi di Indonesia.

Baca juga: Dokter Jantung: Diare Bisa Jadi Pertanda Serangan Jantung

Masalah Akses di Daerah Masih Nyata

Selain jumlah dokter, persoalan lain yang krusial adalah akses layanan kesehatan, terutama di wilayah terpencil.

Bahkan untuk layanan dasar, masyarakat harus menempuh perjalanan yang sangat jauh.

Kondisi ini menggambarkan betapa tidak meratanya layanan kesehatan di Indonesia.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, pemanfaatan teknologi menjadi salah satu solusi yang mulai dikembangkan.

“Jadi, mimpi saya di depan itu, itu yang saya namakan Remote Monitoring and Management.”

Dengan pendekatan ini, data pasien bisa dikirim ke pusat layanan untuk mendapatkan arahan dari dokter spesialis.

“Jadi kalau di sana tidak ada ahlinya, kirimlah data-datanya ke suatu pusat yang kita bisa bantu, kalau pasiennya harus begini, harus begini," lanjutnya. 

Pemanfaatan teknologi, termasuk internet dan AI, diharapkan bisa menjembatani kesenjangan layanan kesehatan di berbagai daerah.

Masalah jantung di Indonesia bukan hanya soal penyakit, tetapi juga sistem layanan, pemerataan, dan kepercayaan masyarakat.

Selama persoalan ini belum teratasi, tantangan akan terus berulang.

Namun dengan peningkatan kualitas, pemerataan akses, dan pemanfaatan teknologi, harapan untuk layanan jantung yang lebih baik tetap terbuka.

Karena pada akhirnya, setiap pasien berhak mendapatkan penanganan terbaik, tanpa harus pergi jauh ke luar negeri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.