TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas mengkritisi langkah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, menjajaki kerja sama dengan perusahaan asal China untuk menggarap hilirisasi industri unggas dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Akhirnya program MBG tampak bergerak menjadi program yang lebih berpihak kepada pengusaha besar dan asing ketimbang UMKM," kata Anwar Abbas dalam keterangannya, Sabtu (25/4/2026).
Baca juga: MBG dan Koperasi Merah Putih Murni untuk Rakyat, Bukan Mobilisasi Politik
Hal itu kata Anwar Abbas, dikarenakan hitung-hitungannya secara makro perlunya kehadiran usaha besar untuk menutupi kebutuhan yang ada.
Sehingga Kadin merasa perlu untuk membangun kerja sama dengan para investor asing terutama dari China untuk mengembangkan hilirisasi dan memperkuat industri unggas dalam negeri.
"Dalam hitung-hitungan Kadin untuk kepentingan MBG secara nasional diperlukan 24 juta telur per hari atau sekitar 700 juta telur per bulan. Untuk satu kali memasak masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dibutuhkan sekitar 3.000 butir telur," imbuhnya.
Jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN) per 24 April 2026, terdapat 26.487 SPPG yang beroperasi di seluruh Indonesia.
Berdasarkan data-data tersebut pihak Kadin kata Anwar Abbas, terdorong untuk bekerjasama dengan pihak asing agar dapat memastikan stabilitas pasokan protein bagi anak sekolah dalam program MBG.
Anwar Abbas menilai langkah penjajakan kerja sama dengan pihak asing tersebut tidak mencerminkan jiwa nasionalisme.
"Apa yang dilakukan Kadin tidak mencerminkan pengusaha pejuang yang memiliki nasionalisme yang tinggi. Karena kebijakannya tampak tidak berpihak kepada pengusaha dalam negeri tetapi lebih berpihak kepada pengusaha asing," kata dia.
Ia menyatakan dalam cara berpikir sebagai pemimpin, segala sesuatu yang masih dapat dilakukan sendiri sebaiknya tidak diserahkan kepada pihak asing, melainkan harus dikerjakan secara mandiri.
"Ini penting kita lakukan agar sebesar-besar kemakmuran rakyat seperti yang diamanatkan konstitusi dapat kita wujudkan," jelasnya.
Diketahui Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) saat ini sedang menjalin kerja sama dengan pengusaha dari China untuk memenuhi kebutuhan telur dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang membutuhkan sekitar 700 juta butir telur per tahun.
Kerja sama ini dianggap penting karena kapasitas produksi dalam negeri belum mampu memenuhi lonjakan permintaan dalam waktu singkat.
Kebutuhan nasional sekitar 24 juta butir telur per hari atau lebih dari 700 juta per tahun.
Contoh di Aceh, sekitar 600.000 butir telur per hari hanya untuk dapur MBG di provinsi tersebut.
Selain telur, program juga membutuhkan daging ayam dan susu sebagai sumber protein tambahan.