Tribunlampung.co.id, Lampung tengah - Kapolsek Terusan Nunyai, AKP Daniel Hamidi, menegaskan bahwa pihaknya belum menerima pengaduan resmi terkait dugaan hilangnya sejumlah aset di Balai Kampung Gunung Agung, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah.
Ia menyebut hingga kini tidak ada laporan baik dari masyarakat maupun instansi terkait yang masuk ke kepolisian.
“Tidak membuat laporan terkait itu ke polsek, mas. Mereka tidak lapor ke polsek,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (25/4/2026).
Dugaan kehilangan aset tersebut mencuat setelah segel kantor Balai Kampung Gunung Agung dibuka oleh Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Terusan Nunyai pada Rabu (22/4/2026).
Pembukaan dilakukan secara simbolis oleh Camat Terusan Nunyai, Adri Yulizar, dengan disaksikan unsur kepolisian, TNI, perangkat kampung, serta tokoh masyarakat setempat.
Kondisi di dalam bangunan yang sebelumnya disegel itu pun memunculkan keprihatinan.
Sejumlah fasilitas penting dilaporkan telah raib, bahkan terdapat kerusakan pada bagian bangunan.
Salah satu tokoh agama setempat, Wajib, mengungkapkan bahwa berbagai perlengkapan kantor tidak lagi berada di tempatnya.
“Pintu, jendela, AC, meja, kursi, dan perabot lainnya sudah tidak ada. Bahkan tembok dijebol untuk mengeluarkan barang,” katanya.
Hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab atas dugaan pencurian tersebut.
Warga pun mulai berinisiatif melakukan gotong royong membersihkan area kantor dari puing-puing bangunan dan sampah yang berserakan, termasuk memperbaiki bagian tembok yang rusak.
Sebelumnya, Balai Kampung Gunung Agung sempat disegel oleh ratusan warga pada Senin (24/2/2025) sebagai bentuk protes terhadap Kepala Kampung Sukardi.
Aksi tersebut dipicu dugaan penyelewengan bantuan sosial berupa beras.
Seorang warga, Taufik, menyebut kepala kampung diduga telah beberapa kali menjual beras bansos dengan jumlah yang cukup besar.
Ia mengungkapkan bahwa total beras yang diduga dijual mencapai lebih dari 50 ton, dengan kejadian terakhir pada Januari 2025.
“Total sudah 4 kali Kepala Kampung Gunung Agung menjual beras bansos, terakhir dia tepergok menjual 4 ton beras kemasan 10 kilogram ke Tulangbawang Barat,” ujar Taufik.
Menurutnya, tindakan tersebut sangat merugikan masyarakat yang seharusnya menerima bantuan, terutama warga kurang mampu yang bergantung pada program tersebut.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)