TRIBUNSTYLE.COM - Sebuah tabir kelam baru saja tersingkap dari balik dinding daycare Little Aresha di Sorosutan, Umbulharjo. Tempat yang seharusnya menjadi rumah kedua yang aman bagi para balita, justru berubah menjadi panggung trauma yang memilukan.
Kasus yang menggemparkan publik Yogyakarta ini bukan sekadar angka, melainkan cerita tentang keberanian seorang mantan karyawan yang tak sanggup lagi melihat penderitaan jiwa-jiwa mungil di sana.
Kejahatan ini mungkin masih tertutup rapat jika saja nurani seorang mantan pengasuh tidak terusik. Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Eva Guna Pandia, mengungkapkan bahwa penggerebekan pada Jumat (24/4/2026) bermula dari laporan eks karyawan yang merasa perlakuan di tempat tersebut sudah di luar batas kemanusiaan.
Mantan karyawan tersebut memutuskan untuk resign karena merasa suasana kerja tidak lagi sejalan dengan hati nuraninya. Namun, keputusannya keluar justru berujung pada penahanan ijazah oleh pemilik daycare.
“Ijazahnya ditahan sama pemilik sehingga dia melaporlah ke kita. Sehingga kami dapat informasi seperti itu. Langsung ditindaklanjuti,” beber Pandia, Sabtu (25/4/2026).
Baca juga: Fakta Meita Irianty, Guru Daycare Terekam Siksa Balita, Padahal Profesi Influencer Parenting
Data yang dihimpun kepolisian sangat mengejutkan. Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizky Adrian, menyebutkan total korban mencapai 103 anak. Dari jumlah tersebut, 53 anak terkonfirmasi mengalami kekerasan fisik secara langsung.
Yang lebih memprihatinkan, polisi menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak diperlakukan secara keji saat penggerebekan berlangsung. Bayangkan saja, bayi dan balita yang belum bisa membela diri ditemukan dalam kondisi terikat.
“Petugas kita memang melihat langsung bahwa anak tersebut diperlakukan tidak manusiawi. Ada yang kakinya diikat, tangannya diikat, dan sebagainya,” tandas Adrian.
Bagi orang tua, kenyataan ini seperti petir di siang bolong. Aldewa, salah satu orang tua korban, menceritakan bagaimana ia sempat mengabaikan sinyal bahaya pada anaknya yang berusia 3 tahun. Luka lebam di kaki sang buah hati sempat ia kira hanya karena terjatuh saat bermain.
Namun, trauma psikis tidak bisa berbohong. Setiap pagi, sang anak selalu menunjukkan ketakutan hebat saat akan diantar ke sekolah.
“Biasanya kalau mau sekolah mesti nangis. Tapi kalau udah sampai 'cep' diem,” kenang Aldewa sedih.
Hingga saat ini, pihak kepolisian telah bergerak cepat dengan mengamankan sedikitnya 30 orang, mulai dari pengasuh hingga jajaran pejabat yayasan. Pemeriksaan intensif terus dilakukan di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Yogyakarta untuk menyeret pihak yang bertanggung jawab ke meja hijau.
Tragedi Little Aresha menjadi pengingat keras bagi seluruh orang tua untuk lebih peka terhadap setiap perubahan sekecil apa pun pada anak, serta menjadi teguran bagi penyedia jasa penitipan anak agar tidak pernah bermain-main dengan amanah dan kemanusiaan.
(TribunStyle.com/Kompas.com)