Saya Tak Sanggup, Cerita Heroik Mayang Berusaha Selamatkan Bocah Hanyut di Pantai Ujung Karang
Arif Ramanda Kurnia April 26, 2026 09:27 AM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Berawal saat piknik, Mayang bersaudara dan temannya menyaksikan dua bocah hanyut di Pantai Ujung Karang, belakang kampus UBH, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sabtu (18/4/2026) siang lalu.

Kejadian itu tak pernah mereka duga, sebab saat piknik di batu pinggir pantai Ujung Karang, harus menyaksikan kejadian tragis tersbeut.

Empat orang ini merupakan saksi mata, mereka di antaranya Annisa Nurfenti (30), Mayang Permata Sari (28), Dian Milasari Eka Putri (37) dan Sri Puji Astuti (33).

Setiap Sabtu sore, mereka selalu duduk bersama sembari membawa anak-anak masing-masing untuk menikmati pemandangan pantai.

Mereka juga makan bersama, menyuapi anak di bawah pohon rindang dan angin sepoi-sepoi.

Saat piknik dan makan itulah, datang segerombolan bocah SD, dua di antaranya merupakan korban hanyut di Pantai Ujung Karang, yakni Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9).

Korban masih belum ditemukan hingga hari ketujuh pencarian oleh Tim SAR gabungan. Kemudian pada hari kedelapan, BPBD bersama nelayan setempat juga sempat melakukan pencarian.

Namun, keberadaan dua korban ini masih belum ditemukan. Sehingga, TribunPadang.com mencoba menggali informasi mengenai kronologi kejadian kepada saksi mata.

Berdasarkan pengakuan Mayang Permata Sari (27), bocah tersebut datang sebanyak enam orang ke Pantai Ujung Karang.

Merasa curiga gerombolan bocah tersebut ingin berenang, Mayang bersama teman-temannya lantas melarang mereka.

"Saya, kedua kakak serta teman sempat melarang mereka mandi-mandi, namun tidak didengarkan. Kami ketika itu duduk di batu, sembari menyuapi anak makan," kata Mayang saat ditemui di Pantai Ujung Karang, Sabtu (25/4/2025).

Akan tetapi, gerombolan bocah itu tak mengindahkan dan langsung pergi ke tepi pantai untuk berenang.

Ketika itu ujar Mayang, kondisi laut memang sedang surut. Lantas, Mayang bersama saudara serta temannya lanjut makan.

Beberapa menit berselang, Mayang menyaksikan satu orang dari enam anak terseret ombang. Sebelumnya dua di antara mereka berenang di pinggir pantai.

Empat lainnya berenang sedikit ke bagian tengah dan hanyut saat tersapu oleh ombak.

Namun, ombak terus membesar hingga dua dari empat orang gerombolan bocah tersebut terseret ke bagian tengah.

Bahkan, makanan mereka terpaksa harus ditinggalkan. Pikiran mereka hanya terfokus untuk menyelamatkan korban.

Akan tetapi, besarnya ombak dan banyaknya karang, Mayang tak mampu menyematkan bocah tersebut. Sebab, posisinya semakin menjauh ke tengah laut.

"Saya ingin menyelamatkan, namun posisinya semakin ke tengah, banyak karang dan di balik karang airnya dalam. Saya tak sanggup, apalagi perempuan," sebutnya.

Baca juga: Disdukcapil Padang: 1.621 KTP Hilang di April 2026, Pengurusan Kembali Gratis

Sementara Annisa, Dian dan Sri meminta pertolongan warga sekitar hingga nelayan yang melaut untuk meminjam ban dalam.

Bantuan ban dalam sempat datang dari nelayan, namun, kedua korban sudah menghilang akibat air laut pasang saat kejadian.

Bahkan, bantuan dari mahasiswa UNP yang sedang berada di kampus UBH juga datang kata Mayang. Mereka berenang menyelamatkan korban hingga kakinya terluka.

Namun korban tak berhasil diselamatkan, lantaran sudah tak nampak dari pandangan akibat terbawa arus ombak ke tengah laut.

"Mahasiswa UNP ini berenang untuk menyelamatkan, kaki mereka terluka karena karang. Selain itu, bantuan yang dicari Dian, Sri dan Annisa juga datang, nelayan setempat langsung berenang, namun korban sudah hilang, mungkin karena sudah kehabisan napas," ujarnya.

Hingga akhirnya, masyarakat satu persatu berdatangan ke pinggir pantai. Tak lama berselang, TIM SAR datang untuk melakukan pencarian.

Sampai pencarian hari ketujuh, korban tak kunjung ditemukan. Mayang beserta saudara dan temannya masih memikirkan mereka.

Ingin mencoba menyelamatkan, hanya saja kondisi laut yang tak memungkinkan. Hingga kini, mereka hanya berharap jasad mereka bisa ditemukan.

"Harapan saya dan yang lainnya bisa ditemukan jasad mereka, karena masih terbayang-bayang hingga sekarang," tambahnya.

Kesaksian yang sama juga diberikan oleh Dian, Annisa dan Sri saat ditemui di Pantai Ujung Karang pada Sabtu (25/4/2026).

Mereka mengungkapkan kisah yang sama dengan Mayang, mencoba menyelamatkan namun kondisi laut tak memungkinkan.

Mereka hanya mampu meminta tolong kepada warga dan nelayan setempat untuk membantu korban hanyut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.