Sosok Alif Bangun Cokelat Mojopahit, Dari Kakao Murah Jadi Produk Mahal 
Wiwit Purwanto April 26, 2026 03:32 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA - Berawal dari usaha wisata desa, Alif Wahyu Dewa, warga Dusun Jlaget, Desa Randugenengan, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, bisa mengembangkannya menjadi industri cokelat premium. 

Alif yang kini menjabat sebagai CTO (Chief Technology Officer) Cokelat Mojopahit ini terinspirasi dengan kehadiran pohon cokelat yang berbuah, dan saat dijual mentah nilainya sangat rendah.

"Awalnya kami punya wisata desa. Kemudian ada banyak pohon kakao yang buahnya hanya dijual mentah dan nilainya sangat rendah," kata Alif, mengisahkan pengalamannya bersama JNE, Kamis (23/4/2026).

Mulai Budidaya Kakao Gandeng Petani Lokal 

Melihat peluang tersebut, keluarganya mulai mengembangkan budidaya kakao dengan menggandeng petani lokal. 

Perlahan, ekosistem pun terbentuk. Petani yang sebelumnya tidak menanam kakao, mulai beralih hingga menciptakan desa berbasis komoditas kakao.

Baca juga: Keluarga dengan Tiga Anak Yatim di Sekaran Lamongan Bangkit, Kini Rintis UMKM Mandiri

Cikal bakal bisnis ini berangkat dari sektor pariwisata keluarga di Mojokerto sejak 2004. Titik balik terjadi saat mereka mulai masuk ke industri pengolahan.

Pada 2018, fasilitas produksi sudah dimiliki. Namun saat itu, mereka belum memiliki identitas brand. 

Nama “Mojopahit” kemudian dipilih, merujuk pada sejarah besar wilayah Mojokerto sebagai pusat Kerajaan Majapahit.

“Kenapa Mojopahit? Karena semua orang tahu. Ini memudahkan kami memperkenalkan produk sekaligus membawa cerita sejarahnya,” jelas Alif.

Namun kekuatan Cokelat Mojopahit tidak hanya pada nama. Mereka mengusung konsep hulu ke  hilir. Mereka mengontrol proses dari biji kakao hingga menjadi produk jadi.

Baca juga: Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Resmi Gandeng 38 Hotel Serap Produk UMKM

"Proses ini tidak singkat. Mulai dari fermentasi selama lima hari, pengeringan, sortasi sesuai standar, hingga pengolahan menjadi pasta kakao," ungkap Alif.

Pasta kakao diolah lagi menjadi berbagai produk seperti cokelat batang hingga bubuk. Cokelat itu aslinya pahit. 

"Rasa manis itu datang dari proses dan tambahan bahan. Jadi prosesnya sangat menentukan kualitas,” imbuh Alif.

Di tengah pasar yang didominasi produk cokelat massal, Cokelat Mojopahit memilih jalur berbeda. Mereka fokus pada produksi cokelat jenis couverture, kategori premium yang masih jarang ditemukan di Indonesia.

“Selama ini masyarakat banyak mengonsumsi cokelat imitasi atau kompon. Padahal itu lebih banyak gula dan lemaknya. Kalau couverture, bahan utamanya benar-benar dari kakao,” tegas Alif.

Menurutnya, edukasi menjadi tantangan tersendiri. Banyak masyarakat yang masih memiliki stigma bahwa cokelat identik dengan makanan tidak sehat. Padahal, cokelat asli justru memiliki manfaat jika diolah dengan benar.

Karena itu, selain menjual produk, mereka juga aktif mengedukasi pasar. Salah satunya dengan membuat berbagai inovasi olahan cokelat yang lebih dekat dengan selera masyarakat Indonesia.

“Orang Indonesia suka snack. Jadi kami tidak hanya jual cokelat batang, tapi juga berbagai jajanan cokelat supaya lebih mudah diterima,” ujarnya.

Menariknya, konsep bisnis mereka juga terintegrasi dengan wisata edukasi. Pengunjung tidak hanya membeli produk, tetapi juga bisa melihat langsung proses produksi cokelat, bahkan mencoba membuatnya sendiri.

“Dari awal memang konsepnya bukan sekadar pabrik. Kami ingin orang datang, belajar, dan merasakan langsung prosesnya,” imbuhnya.

Selain toko yang terintegrasi dengan wisata desa Ia juga melayani pengiriman cokelat ke luar kota. 

Dalam hal ini, Alif mempercayakan pengiriman Cokelat Mojopahit kepada JNE. 

“Justru awalnya itu ada customer yang membeli produk dan minta dikirim lewat JNE, karena aman, sampai tepat waktu dan pelayanannya baik maka berlanjut hingga saat ini," beber Alif.

Melalui pendekatan dari hulu ke hilir, inovasi produk, serta penguatan identitas lokal, Cokelat Mojopahit mencoba menjawab tantangan tersebut. 

Mereka membuktikan bahwa brand lokal tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga membawa cerita, nilai, dan kualitas dalam setiap produknya.

“Intinya kami tidak bisa memaksakan produk ke pasar. Kami harus mengikuti apa yang dibutuhkan konsumen, tapi tetap menjaga kualitas,” pungkas Alif.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.