TRIBUNMANADO.CO.ID - Tentara Romawi berkuda muncul di jalan AA Maramis, Manado, provinsi Sulut, Sabtu (25/4/2026) sore.
Warga yang memadati pinggir jalan itu pun heboh.
Mereka mendekat, kemudian mengabadikan dengan ponsel peristiwa tak biasa ini.
Saat itu berlangsung selebrasi Paskah anak sekolah minggu Sinode GMIM di wilayah Mapanget, Manado.
Dan tentara Romawi berkuda itu adalah bentuk kreativitas yang ditampilkan oleh anak sekolah minggu GMIM.
Tujuannya untuk mengumandangkan bahwa Yesus mati demi menebus dosa manusia dan kini Ia sudah bangkit. Dosa dan maut telah dikalahkanNya. Semua untuk kemuliaan nama Tuhan.
Ada dua tentara Romawi penunggang kuda.
Keduanya anak sekolah minggu dari wilayah Tondano 6.
Salah satunya bernama Gianluigi Krisnugraha Ngantung.
Usianya baru 12 tahun. Dari Gereja GMIM Betlehem Tataaran II.
Gianluigi terlihat gagah di atas kuda.
Tampak ia sangat menjiwai perannya sebagai pemimpin pasukan berkuda Romawi.
Kudanya paling depan serta dadanya dibusungkan.
Mimiknya penuh keberanian serta ketenangan.
Christy Natalia Rengkuan sang ibu mendampingi anaknya.
Juga Graziella, adik Gian.
Christy bercerita, Gian adalah anak yang rajin mengikuti ibadah sekolah Minggu dan Rabu Gembira di jemaat GMIM Betlehem Tataaran II.
Dari para guru, Gian sudah mendengar bahwa anak sekolah Minggu jemaat tersebut akan mengikuti pawal alegori kegiatan selebrasi paskah anak sinode GMIM 2026 di Manado.
"Tak disangka Gian yang ditunjuk untuk menunggang kuda, dan ia mengiyakan," kata dia kepada Tribun Manado via WA Minggu (26/4/2026).
Sewaktu Gian menyampaikan hal itu, keluarganya sempat khawatir.
Namun keyakinan Gian membuat keluarga luluh.
"Akhirnya keluarga memberi izin," katanya.
Ia menuturkan, latihan naik kuda dilakukan sehari sebelum kegiatan.
Gian tampak enjoy. Tak sedikit pun tampak bahwa ia takut.
"Mereka dilatih joki joki hebat dan didampingi kakak kakak dan guru guru sekolah minggu," katanya.
Sedang Gian mengaku antusias karena ini tahun terakhirnya ikut selebrasi Paskah anak sekolah Minggu.
Tahun depan ia sudah berusia remaja.
"Karena di tahun berikutnya saya sudah beranjak ke remaja," katanya.
Ungkap Gian, sewaktu diminta jadi prajurit penunggang kuda, dirinya sampat terdiam. Namun Gian mengambil keputusan dengan cepat.
"Gian, Moh Iko Selebrasi paskah Moh jadi prajurit kong Moh nae kuda? Kita sempat ta badiam, tapi kita Iyo akang apa yang guru-guru sekolah Minggu da tanya." katanya.
Gian jadi bersemangat karena semua keluarga mendukungnya.
Lebih dari itu, Gian yakin Tuhan pasti memampukannya.
Keyakinan Gian nampak saat dirinya berlatih sehari sebelum mentas.
"Tidak ada rasa takut di saya karena saya yakin bisa," kata dia.
Di hari H, mereka berangkat pagi pagi. Rombongan mengikuti ibadah dan setelah itu dilaksanakan pawai.
Gian pun menaiki kudanya.
Dia tampak seperti sudah pro, padahal baru latihan sehari sebelum tampil.
Dirinya membeber rahasianya.
"Dengan percaya diri saya menunggangi kuda tersebut di bawah terik matahari Kota Manado. Saya percaya ini bukan sekadar memakai kostum dan menunggangi kuda semata, tapi sedang menceritakan kabar baik kepada semua orang yang menonton di pinggir jalan." kata.
Memang Tuhan dapat memakai siapapun, dan sarana apapun untuk kemuliaanNya. (Art)
Baca juga: Meriahnya Selebrasi Paskah Anak Sekolah Minggu di Manado
(TribunManado.co.id/Art)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini