Laporan Wartawan Serambi Indonesia Dede Rosadi I Aceh Singkil
SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Selama 27 tahun perjalanan Kabupaten Aceh Singkil adalah rentang waktu yang sangat panjang untuk menilai arah pembangunan, capaian, sekaligus tantangan yang masih harus dihadapi.
Sejak resmi berdiri pada 20 April 1999 melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1999, kabupaten ini menjadi rumah bagi harapan masyarakat yang ingin melihat perubahan nyata dalam pendidikan, infrastruktur, kesejahteraan, dan penguatan budaya.
Pegiat literasi Kabupaten Aceh Singkil, Wanhar Lingga, menyampaikan refleksi terkait persoalan pendidikan, infrastruktur kesehatan dan penguatan budaya.
Refleksi yang ia sampaikan merupakan ajakan untuk menimbang kembali apakah cita-cita awal perjuangan pemekaran sudah terwujud, atau masih tersisa pekerjaan besar yang menanti generasi penerus.
Pendidikan menurutnya merupakan jantung pembangunan. Tanpa kualitas pendidikan yang baik, mustahil sebuah daerah mampu melahirkan generasi yang siap bersaing di tingkat nasional maupun global.
Baca juga: Hari Ini Minggu 26 April, Empat Kecamatan di Aceh Singkil Diguyur Hujan
Selama 27 tahun, Aceh Singkil berusaha memperluas akses pendidikan dengan membangun sekolah di berbagai kecamatan, termasuk wilayah kepulauan.
Namun, tantangan nyata masih terlihat, kualitas tenaga pendidik belum merata, fasilitas belajar terbatas, dan angka partisipasi pendidikan tinggi masih rendah.
Dalam pandangannya gedung sekolah memang penting.
Tetapi lebih penting lagi memastikan guru memiliki kompetensi memadai, kurikulum relevan dengan kebutuhan lokal, serta dukungan teknologi digital yang membuka akses pengetahuan lebih luas.
"Bayangkan jika setiap anak Singkil memiliki kesempatan belajar dengan fasilitas setara kota besar.
Dalam 10–20 tahun ke depan, akan lahir generasi yang cerdas secara akademik sekaligus peduli terhadap budaya dan lingkungan daerahnya," ujarnya.
Baca juga: Segera Daftar! Pemasangan Listrik Gratis di Aceh Singkil Sampai 3 Mei 2026
"Pendidikan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan program sesaat," tambah Wanhar.
Infrastruktur dan kesejahteraan jalan menuju kemajuan
Infrastruktur adalah tulang punggung kesejahteraan, sehingga keberadaan jalan, jembatan, listrik, air bersih, dan jaringan telekomunikasi merupakan syarat mutlak agar masyarakat dapat bergerak maju.
Selama hampir tiga dekade, pembangunan infrastruktur di Aceh Singkil memang menunjukkan kemajuan.
Namun ia menilai pemerataan masih menjadi pekerjaan besar.
Beberapa desa menghadapi akses jalan rusak, jembatan rapuh, dan keterbatasan transportasi menuju pusat kabupaten.
Kondisi ini berdampak langsung pada ekonomi masyarakat. Hasil pertanian dan perikanan sulit dipasarkan, biaya logistik tinggi, dan peluang usaha terbatas.
"Kesejahteraan masyarakat sangat bergantung pada kualitas infrastruktur," kata Wanhar.
Jalan yang mulus membuka pasar lebih luas, listrik dan internet menjangkau pelosok memberi kesempatan belajar tanpa hambatan dan fasilitas kesehatan yang mudah diakses meningkatkan angka harapan hidup.
Oleh karena itu momentum 27 tahun ini semestinya menjadi penegas bahwa pembangunan infrastruktur adalah investasi sosial.
Lantaran infrastruktur yang baik melahirkan kesejahteraan berkelanjutan, mengurangi kesenjangan antarwilayah, dan memperkuat rasa keadilan bagi seluruh masyarakat Aceh Singkil.
Wanhar Lingga berpendapat Budaya adalah jiwa daerah. Tanpa budaya sebutnya, pembangunan kehilangan arah dan makna.
Aceh Singkil memiliki kekayaan budaya yang unik, tari dampeng, tradisi lisan, bahasa Singkil, serta berbagai ritual adat yang menjadi penanda identitas masyarakat.
Sayang arus modernisasi dan globalisasi sering mengikis nilai budaya lokal.
Generasi muda lebih akrab dengan budaya populer dari luar ketimbang tradisi daerahnya sendiri.
"Jika dibiarkan, warisan yang seharusnya menjadi kebanggaan bisa hilang," ujar Wanhar.
Memperkuat budaya berarti memberi ruang bagi masyarakat untuk merayakan identitasnya.
Pemerintah daerah bersama komunitas budaya perlu menjadikan budaya sebagai bagian dari pembangunan.
Festival budaya, pendidikan berbasis kearifan lokal, serta dukungan terhadap seniman dan budayawan adalah langkah konkret yang harus diperkuat.
Budaya juga dapat menjadi motor ekonomi. Lantaran pariwisata berbasis budaya adalah peluang besar bagi Aceh Singkil.
Dengan pesona alam Kepulauan Banyak yang indah, ditambah kekayaan tradisi lokal, Aceh Singkil bisa menjadi destinasi yang menawarkan panorama sekaligus pengalaman budaya autentik.
Tata kelola pemerintahan masukan untuk kepemimpinan Oyon-Hamazah
Dalam refleksi ini, kepemimpinan Bupati Aceh Singkil Safriadi Oyon dan Wakilnya Hamzah Sulaiman dalam pandangan Wanhar, memiliki peluang besar untuk meninggalkan jejak kuat melalui penerapan prinsip good government.
Tata kelola pemerintahan yang profesional, transparan, dan berorientasi pada pelayanan publik akan menjadi fondasi keberhasilan.
Penguatan SDM aparatur sipil negara perlu ditempatkan sesuai kompetensi, dengan pelatihan berkelanjutan agar mampu menjawab tantangan zaman.
Sistem rekrutmen dan promosi jabatan harus berbasis meritokrasi, bukan kedekatan personal.
Selanjutnya konsistensi visi dan misi program pembangunan dengan indikator capaian yang jelas dan terukur.
Tanpa melupakan keterlibatan masyarakat dalam evaluasi akan memperkuat legitimasi kebijakan.
Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran harus terbuka, dengan laporan yang mudah diakses masyarakat.
Kemudian mekanisme pengawasan internal dan eksternal perlu diperkuat agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang.
"Dengan tata kelola yang baik, pendidikan, infrastruktur, dan budaya dapat berkembang lebih terarah. SDM pemerintahan yang profesional adalah jembatan antara cita-cita masyarakat dan realisasi kebijakan," tukasnya.
Kepemimpinan Oyon-Hamzah dapat menjadi teladan bahwa pemerintahan yang bersih dan teratur mampu mewujudkan visi misi yang direncanakan.
Usia 27 tahun Kabupaten Aceh Singkil adalah waktu yang cukup untuk belajar dari pengalaman.
Pendidikan, infrastruktur kesejahteraan, budaya, dan tata kelola pemerintahan adalah empat pilar yang saling terkait.
Pendidikan melahirkan generasi yang mampu mengelola infrastruktur dengan bijak.
Infrastruktur membuka akses bagi masyarakat untuk menikmati hasil pendidikan dan budaya.
Budaya memberi arah agar pembangunan tidak kehilangan identitas. Sedangkan tata kelola pemerintahan memastikan semua pilar berjalan konsisten dan berkesinambungan.
Harapannya sebut Wanhar, ke depan lahirnya Aceh Singkil yang lebih maju, sejahtera, dan berbudaya.
Sebuah daerah yang dikenal karena keberhasilannya membangun manusia, kesejahteraan, menjaga identitas, serta menata pemerintahan dengan baik.
Menurutnya refleksi 27 tahun Kabupaten Aceh Singkil adalah sebuah cermin.
Di dalamnya terlihat capaian sekaligus kekurangan, harapan sekaligus tantangan. Pendidikan, infrastruktur kesejahteraan, budaya, dan tata kelola pemerintahan adalah jalan yang harus ditempuh bersama.
"Jika semua pihak mampu berjalan seiring, maka 20 tahun ke depan Aceh Singkil akan berdiri lebih kokoh, menjadi rumah yang membanggakan bagi seluruh warganya," demikian Wanhar Lingga. (*)