Menghadapi Hipnotis Tepuk Bahu dan Sejenisnya, Intinya Jangan Melamun
Moh. Habib Asyhad April 26, 2026 05:34 PM

Hipnotis model tepuk bahu dan sejenisnya masih marak terjadi hingga sekarang. Korbannya aneka ragam. Kuncinya, jangan melamun.

Tayang pertama di Majalah INTISARI edisi Februari 1995 dengan judul "Menghadapi Hipnotis Tepuk Bahu" | Penulis:Yan/Rye/SL

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Penipuan yang didahului dengan tepukan bahu, bersalaman, pandangan mata, sapaan ramah, atau kepulan asap rokok, masih sering terjadi hingga saat ini. Korbannya beragam, dari pembantu rumah tangga sampai ibu-ibu kaya.

Barang yang berpindah tangan pun, dari belanjaan pasar sampai perhiasan. Memang sukar menghentikan aksi licik ini namun bukan berarti tidak bisa diatasi.

Bangi, seorang bapak yang tinggal di Kampung Jogokariyan, Yogyakarta, bisa dikata punya "kemampuan" lebih. Tak heran kalau ia kerap dimintai tolong mencari barang hilang.

Kadang orang juga memintanya untuk mengobati penyakit. Menurut salah seorang pengguna jasanya, kemampuan Bangi memang dapat diandalkan.

Toh lelaki yang kuat puasa ngebleng tiga hari tiga malam dan dianggap punya "pagar" ini ketiban sial juga. Suatu siang tahun 1990, di sebuah perempatan di Yogya, ia dihampiri dua orang berkendaraan sepeda motor.

Sesudah berbasa-basi dan meminta api rokok, salah seorang bertanya, apakah Bangi ingin memperoleh rezeki. Kalau ya, katanya, Bangi disuruh membeli kupon SDSB.

"Saya juga baru beli dan dapat. Ini, saya belikan motor," kata salah seorang sambil menunjukkan motor dengan plat yang masih gres.

Belum sempat berpikir, Bangi diminta menyerahkan uang Rp10.000 dari sakunya, yang sebelumnya telah ditebak oleh seorang dari mereka. "Uang Bapak tak cuma ini 'kan? Di saku bawah ada lagi, Rp115.000," lanjut orang itu. Lagi-lagi tebakan ini tepat.

Ketepatan tebakan itu membuat Bangi percaya, mereka memang orang "pintar", dan nomor tebakan yang diberikan pasti tepat. Lalu, seperti kena sihir, Bangi menyerahkan uang sejumlah Rp115.000 yang digulung bersama kertas berisi nomor tebakan.

Tak lama kemudian gulungan itu dikembalikan kepadanya dengan pesan agar dibuka di rumah. Dua orang "pintar" itu pun ngeloyor pergi.

Beberapa puluh meter melangkah, Bangi seperti tersadar. Dia buka gulungan itu, tanpa mempedulikan pesan si orang "pintar" tadi. Ternyata kosong.

"Uang yang rencananya akan saya belikan perhiasan pun raib," kata Bangi lemas.

Aini (sebut saja begitu), ibu 2 anak, karyawan humas pada sebuah restoran internasional, mengalami nasib yang sama. Minggu pagi bulan Oktober 1994, ia bermaksud ke toko emas langganannya di sebuah pasar modern di Jakarta Selatan, untuk bertukar tambah perhiasan.

Tiba-tiba dua orang pria menyusulnya dari belakang. "Lo, Mbak ... ngapain ke sini?" tegur salah seorang sambil menepuk bahu kanan Aini. Langkah wanita itu pun terhenti.

"Siapa, ya?" katanya sambil menatap kedua pria tadi.

"Saya teman Dodi di SMA." Dodi adalah adik tunggal Aini.

Rasanya, wajah kedua orang itu tak terlalu asing. Tapi … belum sempat Aini berpikir, si penegur melanjutkan pembicaraan.

"Dulu kami sering datang. Tapi Mbak sibuk, jarang di rumah. Kalau ibu jelas hafal sama kami. Eh, gimana kabar beliau? Saya dengar sempat operasi segala," lanjutnya.

Aini masih terpaku antara ingin tahu siapa gerangan "teman Dodi" itu dengan rasa heran, kok dia tahu ibunya habis menjalani operasi.

"Eh, Mbak mau belanja, ya?" Aini mengangguk tanpa berkata-kata. "Awas, Mbak, di sini banyak orang jahat. Mbak bisa dirampok," lanjut pemuda satunya. "Perhiasannya juga terlalu mencolok. Sini, titipkan saja ke saya, kami tunggu di parkiran."

Bagaikan tak sadar, Aini mencopoti perhiasannya yang bergram-gram, kemudian menyerahkan kepada kedua pria tadi. Dia pun lantas menuju ke toko langganannya.

Sesampai di sana, si penjual yang heran akan ekspresi "aneh" Aini buru-buru bertanya, "Ibu, kenapa?"

Masih dengan sedikit bengong, Aini menjawab, "Anu ... saya mau tukar tambah. Tapi barangnya dibawa teman adik saya."

Aini menoleh ke belakang, menyapukan pandangan ke halaman parkir. Kedua orang tadi sudah tak ada. Maka, seperti disadarkan, ia pun berteriak histeris. "Tadi mereka ada di situ .... Mereka bawa emas saya….!”

Lain lagi cerita Pak Benny, duda pensiunan di Surabaya yang suatu ketika mengunjungi anaknya di Jakarta. Selagi anak dan menantunya bekerja, dia selalu sendiri kalau mau pergi. Ke pertokoan, mengunjungi kerabat, atau ke mana saja.

Menjelang siang di lantai teratas pusat perbelanjaan termewah di Jakarta, Pak Benny dikagetkan oleh teguran seorang pria berpakaian rapi. Dia berkulit gelap dengan hidung mancung.

"Pak Benny, ya?"

Seketika Pak Benny sadar. Dia tidak kenal orang itu.

Dalam beberapa detik ia langsung bisa mengingat, cirinya sama dengan penipu yang pura-pura jadi orang asing di beberapa bank di Yogyakarta, yang tergulung aparat keamanan awal 1994.

Pak Benny tahu, penipuan model begitu menggunakan ilmu tertentu. Meski tak punya ilmu apa pun, rasa penasarannya muncul.

Dia justru ingin mencoba, kalau perlu melawannya. Maka, dengan penuh keyakinan, dia layani ajakan bersalaman si lelaki. "Kalau memang mau menipu, tipulah saya," pikir Pak Benny dalam hati.

Begitu pun ajakan berdialog yang tak jelas juntrungannya dilayaninya. Menanyakan barang anu tokonya yang mana, apakah kalau membayar dengan kartu kredit mendapat potongan harga, dst. Semua ditanggapi Pak Benny dengan kewaspadaan tak berkurang.

Sampai akhirnya, si lelaki berkulit gelap mengakhiri perbincangan. "Aduh, Pak. Sudah pukul 11.00. Saya ada janji dengan kawan di lantai bawah," katanya sambil ngeloyor pergi.

Magic, hipnotisme, dan magnetisme

Penipuan model begitu masih sering kita dengar. Terutama di tempat keramaian, pasar, pusat perbelanjaan, halte bus, bahkan pemukiman. Banyak pula korban, namun ada yang berhasil menggagalkannya dengan kewaspadaan tinggi seperti Pak Benny.

Saat ditipu, korban merasa kehilangan kesadarannya. Tangan dan organ lain bergerak bukan atas perintah otak, melainkan seturut kehendak si penipu. Setelah "siuman" biasanya barang-barang bawaan, terutama yang berharga, sudah beralih tangan.

Anehnya, korban bisa beraneka ragam. Bahkan seseorang yang sudah punya "pagar" seperti Bangi pun kena.

Kekuatan atau ilmu apa gerangan yang dipakai, sehingga mampu memblok otak dan "memerintahkan" sesuatu kepada orang yang belum dikenal?

"Dalam istilah Jawa, itu disebut ilmu gendam. Mempengaruhi seseorang lewat pikiran dengan menggunakan mantra-mantra tertentu," kata Ir. RMH Gembong Danudiningrat, paranormal asal Yogyakarta yang juga membuka praktek pengobatan di Jakarta.

Dia membedakan gendam, yang termasuk kategori magic, dengan hipnotis yang lebih empiris karena proses penjalaran gelombang telekinesis. "Kalau magic jangkanya bisa lama, sedangkan gendam atau hipnotis hanya berlangsung sesaat."

Menurut Gembong, yang juga sering dimintai pendapat perihal kasus semacam ini, gendam ataupun telekinesis bisa diterapkan untuk mengalihkan perhatian orang. Setelah perhatian berubah, sasaran telekinesis bisa berlanjut ke alam bawah sadar, membuat orang tertegun dan bingung. Sesudahnya, korban gampang saja diperintah.

Dalam konteks dunia supranatural, mekanisme yang terjadi adalah penembusan ambang kesadaran dengan rapal atau getaran tertentu. Dijelaskan oleh Ny. Indah SP, wanita paranormal dari Bekasi, awalnya adalah untuk memecah konsentrasi, merusak kesadaran.

"Baik dengan asap rokok yang sudah dimantrai, atau tepukan telapak tangan yang pada dasarnya untuk mengalirkan getaran magnetis,” jelasnya.

Senada dengan Gembong dan Ny. Iin SP, namun dalam pengertian yang lebih empiris, dr. Erwin Kusuma, psikiater yang mendalami hipnotis untuk pengobatan, mengkonstruksikan jenis penipuan itu sebagai magnetisme. "Si penipu mengeluarkan materi badan halus (bioelektromagnetik) untuk mempengaruhi badan halus si korban, sehingga otak si korban tak ingat apa-apa lantaran diblok,” jelasnya.

Dalam pandangan Erwin, setiap manusia mempunyai sisi jasmani dan rohani (batin). Sisi jasmani bisa dipecah lagi menjadi dua bagian, yakni jasmani kasar (badan fisik yang kelihatan) dan jasmani halus (badan halus atau aura).

Badan halus ini berupa materi, yang meski tidak kelihatan, tapi ada lantaran bisa ditangkap dengan teknik fotografi Kirlian. Aura ini melingkupi tubuh kita.

Setelah dipengaruhi rohani, yaitu getaran nonmaterial, jasmani akan mempunyai jiwa yang ditandai oleh adanya kemauan, perasaan, dan pikiran. "Bila diibaratkan, rohani itu pengemudi, sedangkan badan halus dan kasar adalah kendaraannya," ujar Erwin.

Kegiatan seseorang dapat terjadi karena tenaga luar yang diperintah otak dan tenaga dalam yang diperintah oleh rohani. Kalau kita secara sadar berbicara, menghitung, berlari, dsb., maka kita menggunakan tenaga luar.

Tapi, kalau sekali waktu kita dikejar anjing dan tiba-tiba bisa melompati pagar yang dalam keadaan normal tidak bisa kita lewati, maka kita sudah menggunakan tenaga dalam atas perintah rohani.

Proses badan halus memerintahkan badan kasar untuk bergerak dalam dunia psikiatri disebut hipnotis. Contohnya, melompati pagar secara tak sadar tadi.

Selain itu, badan halus bisa pula menggerakkan badan kasar orang lain, dan proses ini disebut magnetisme. Kasus-kasus penipuan di atas adalah contoh nyata dari magnetisme: badan halus si penipu menggerakan badan kasar korban, memerintahkan tangan korban mengambil uang atau perhiasan, kemudian menyerahkannya, dsb.

Dalam penggunaan sehari-hari pengertian hipnotis dan magnetisme sering dipertukarkan.

Ilmu untuk menangkap ikan

Ilmu hipnotis dan magnetisme sebenarnya sudah lama dikenal. Aplikasinya dalam dunia medis, misalnya, dipelopori oleh Anton Mesmer, psikiater asal Prancis yang mengobati pasiennya dengan magnet beneran.

Dalam perkembangannya ilmu ini diterapkan untuk berbagai hal, misalnya untuk mencari sumber air, mencari lokasi pertambangan, SAR, dan dipakai untuk mengobati penyakit-penyakit fungsional (mengembalikan organ tubuh yang tidak berfungsi).

Masyarakat Indonesia ternyata telah mengenalnya secara tradisional. Lihatlah misalnya kehebatan orang Kubu di Jambi dalam menangkap ikan hanya dengan tepukan tangan, yang masih terdengar sampai sekarang. Lalu, masyarakat di pinggir Sungai Serayu, Jawa Tengah, dengan ilmu gendam-nya ini untuk menangkap ikan.

"Saya pernah membuktikannya sendiri dengan membeli ikan langsung di pinggir sungai itu," kata Gembong, alumnus Fakultas Peternakan UGM tahun 1982. "Mereka cari ikan bukan dengan pancing atau jala, tetapi menyelam. Sambil menyelam mereka menggendam ikan, sehingga saat saya memesan ikan dengan jenis dan ukuran tertentu, dengan cepat mereka mendapatkannya."

Sayang, kemampuan yang amat bermanfaat ini, belakangan dipelajari untuk disalahgunakan. Barangkali, menurut Gembong, lepas dari berbakat atau tidaknya seseorang, hipnotis dengan gelombang telekinesis ini mudah dipelajari.

Setiap orang bisa mengaktifkannya. Erwin pun membenarkan, kemampuan ini bisa dilatih, karena pada dasarnya setiap orang mempunyai bekal. Hanya saja, ada yang rajin melatih, sementara yang lain membiarkannya.

Sedangkan Ny. Indah SP memberi perumpamaan, "Setiap orang punya pisau yang ketajamannya berbeda-beda. Ada yang rajin mengasah dan ada yang tidak. Bahkan ada yang cenderung membuangnya."

Soal teknik pelaksanaan yang berbeda-beda, baik dengan tepukan, salaman, atau kepulan asap rokok, memang terjadi karena perbedaan antara magnetisme dengan magic atau kemampuan gaib. Dalam konteks magnetisme, menurut Erwin, prosedur kerja semacam itu sebenarnya tidak berarti apa-apa.

Kalau tepukan atau sorot mata pelaku sudah menimbulkan rasa waswas pada diri calon korban, ia seolah-olah menghipnotis diri sendiri sehingga semakin gampang terkena pengaruh magnetisme.

"Tepukan bahu dan mantra-mantra sebenarnya bukan untuk mempengaruhi si korban, tapi lebih untuk persiapan si penipu. Jadi, waktu dia mengucapkan mantra, menepuk bahu, atau bersalaman, kekuatan magnetnya mengumpul sehingga bisa diarahkan ke calon korban. Itu sekadar cara, tak lepas dari bagaimana dia dulu mempelajarinya," jelas Erwin.

Histeris, kagetan, dan pikiran kosong

Kadang-kadang, belum digarap dengan magnetisme pun korban sudah terpengaruh. Ini bisa terjadi lantaran sugesti. Misalnya si penipu mengenakan pakaian rapi, ramah, dan tampan, sehingga calon korban terpesona dan mudah "digiring".

Ketiga pakar di atas setuju, bahwa korban selalu orang yang sedang mengalami kekosongan jiwa. Kekosongan jiwa ini terjadi karena berbagai sebab.

Misalnya saja sedang dalam keadaan marah, sakit, emosional, atau menstruasi. Menurut Erwin, kepribadian yang histeris, kagetan, dan latah gampang dipengaruhi oleh ilmu ini.

Dalam kondisi di bawah pengaruh, kata Ny. Indah SP, korban bisa saja membenarkan apa pun omongan si pelaku. Atau, bisa saja si pelaku asal menebak nama atau keadaan calon korban, dan dibenarkan, karena biasanya orang yang punya kekuatan supranatural sering tepat menebak.

Ini pula sebabnya, sebelum beraksi si pelaku bisa mengecek dulu "kekuatan" calon korbannya tanpa diketahui. Atau, paling tidak, ia secara selektif membaca pikiran korban, apakah sedang dalam keadaan linglung atau tidak.

Soalnya sekarang, bagaimana cara mengatasinya? Seorang pembaca harian Kompas (7 Januari 1994) menyarankan, kalau ada orang tidak dikenal menepuk bahu kita, segera tepuk kembali ba-hu si penepuk itu.

Barangkali benar, karena dengan menepuk kembali menunjukkan bahwa kita berada dalam kesadaran penuh. Ini memang menjadi kunci, walaupun ketiga pakar di atas menuturkannya secara berbeda.

Namun Gembong, yang menganggap gelombang jahat adalah bagian dari proses alam, menyarankan peredaman dari alam juga. "Batu-batuan semacam topas dan rubi adalah peredam gelombang jahat," katanya.

Dia juga tak mengabaikan ketenangan, konsentrasi, dan permohonan keselamatan setiap mau bepergian. Berpikiran positif, 'memusatkan pikiran, dan memohon keselamatan sangat dianjurkan. "Dengan berdoa sebenarnya kita memasang pagar."

Bagi mereka yang punya kepekaan badan halus, saran Erwin, bisa membentengi diri dengan badan halus ini. Yang penting lagi adalah berdoa kepada Tuhan. "Pokoknya, jangan gampang cemas."

Hal senada juga disarankan Ny. Indah SP. Dia bilang, setiap kali bepergian, hendaknya kita tidak membawa masalah.

Bila tiba-tiba muncul perasaan ragu - jadi pergi atau tidak - ambil keputusan yang paling kuat, yakni keputusan yang pertama. Kalaupun sedang apes jadi sasaran, jangan ragu. Langsung konsentrasikan pikiran ke satu titik di tubuh pada kesempatan pertama.

"Jangan mau dikuasai orang lain: Ibaratnya, badan milik saya sendiri, tak ada pihak lain yang bisa mengontrolnya kecuali saya. Jangan sekali-sekali membiarkan diri terbawa omongan," sambung paranormal yang sering membantu orang mengatasi krisis rumah tangga, masalah perjodohan, karier, bisnis, dan peruntungan ini.

Yang penting lagi, tambah Ny. Indah, hati-hati jangan sampai kehilangan kesadaran bila diajak ngobrol, dinasihati, atau ditepuk bahu kita oleh orang yang belum kita kenal. "Jadi waspada kepada seseorang sangat perlu. Kalau bisa kita segera menghindari. Tapi kalau toh nggak mungkin, kita ganti serang dengan pertanyaan untuk menghilangkan konsentrasi lawan."

Gembong juga menganjurkan untuk tidak gampang ramah, terutama kepada orang yang tak dikenal. "Pesan saya, terutama untuk para wanita, berhati-hatilah kalau menerima sapaan. Banyak sudah yang tak cuma tertipu, tetapi juga dilecehkan."

Wanita, ujar Gembong lagi, memang sering jadi sasaran lantaran punya sifat tidak tegaan dan gampang dipengaruhi.

Sebetulnya bukan hal yang sukar untuk dilakukan. Sekurang-kurangnya menurut ketiga pakar tadi. Kalaupun jabaran praktisnya agak sulit, bisalah dirumuskan secara sederhana, sebelum kesialan menimpa.

Sikap tenang, konsentrasi penuh kepada setiap hal, dan selalu waspada. Ini berlaku untuk keadaan apa pun saat kita berada di mana pun.

Gampangnya, seperti nasihat yang dituturkan orang tua: "Aja ngalamun, merga ngalamun iku koncone setan" alias jangan melamun, sebab dengan melamun kita berteman dengan setan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.