TRIBUN-BALI.COM - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai mulai memberi tekanan signifikan ke pasar keuangan domestik. Nilai tukar rupiah di pasar spot berhasil menguat pada akhir perdagangan hari Jumat (24/4) kemarin.
Rupiah ditutup di level Rp 17.229 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi ini menguat 0,33 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.286 per dolar AS.
Meski menguat di akhir pekan, tekanan terhadap rupiah sepanjang minggu masih cukup signifikan. Bahkan, pada Kamis (23/4) pukul 09.35 WIB, rupiah sempat menembus level Rp 17.310 per dolar AS, yang menjadi posisi terlemah sepanjang masa alias all time high (ATH).
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi berpandangan, level tersebut tidak lagi dipandang sebagai fluktuasi harian biasa, melainkan sinyal stres di pasar. Dampaknya langsung terasa di pasar keuangan Indonesia. Efek pertama muncul di pasar obligasi.
Baca juga: JASAD Ardianan Ditemukan di Kedalaman 7M, Pegawai BPS Buleleng Tenggelam di Air Terjun Tembok Barak
Baca juga: 2 PETANI Tewas di Tegallalang Diduga Tenggak Racun, Gusti NP Kaget Lihat Jasad Istrinya & Tetangga!
Investor asing cenderung meminta premi risiko lebih tinggi saat rupiah melemah tajam, sehingga yield Surat Berharga Negara (SBN) berpotensi naik dan harga obligasi tertekan.
“Investor asing cenderung meminta premi risiko lebih tinggi saat rupiah melemah tajam, sehingga yield SBN berpeluang naik dan harga obligasi tertekan,” ujar Syafruddin, Kamis (23/4).
Tekanan kemudian merembet ke pasar saham, terutama pada emiten yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, utang dalam valuta asing, serta permintaan domestik yang sensitif terhadap inflasi. Selain itu, pelemahan rupiah juga mendorong pergeseran dana ke aset berbasis dolar AS dan instrumen lindung nilai.
Akibatnya, likuiditas rupiah di pasar keuangan berisiko mengetat. Jika depresiasi berlangsung berkepanjangan, dampaknya bisa meluas ke inflasi impor, margin korporasi, hingga peningkatan biaya utang.
“Pada titik itu, pasar keuangan tidak lagi menghadapi koreksi biasa tetapi fase penyesuaian valuasi yang lebih berat,” jelasnya.
Dari sisi penyebab, Syafruddin menilai konflik di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Ketegangan geopolitik tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, mendorong kenaikan harga minyak, serta memperkuat dolar AS sebagai aset safe haven.
Namun demikian, ia menekankan bahwa faktor domestik juga berperan. Hal ini tercermin dari pelemahan rupiah yang lebih dalam dibandingkan mata uang regional lainnya seperti ringgit Malaysia dan baht Thailand.
“Artinya pasar juga menilai faktor domestik seperti fiskal, kebutuhan pembiayaan, dan kredibilitas kebijakan ikut memengaruhi premi risiko,” katanya. (kontan)
Dalam kondisi ini, otoritas moneter masih memiliki ruang untuk meredam tekanan. Bank Indonesia (BI) dapat melakukan intervensi terukur di pasar valuta asing dan obligasi, menjaga likuiditas rupiah, serta mempertegas arah kebijakan suku bunga jika diperlukan. Hal ini dikatakan Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi, Kamis (23/4).
Langkah tersebut dinilai akan lebih efektif jika diiringi dengan disiplin fiskal pemerintah serta komunikasi kebijakan yang konsisten guna menjaga kepercayaan pasar.
Lebih lanjut, Syafruddin melihat tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut. Apalagi, mata uang Garuda saat ini telah mencetak level terlemah dalam periode mingguan, bulanan, hingga tahunan, yang mengindikasikan tren depresiasi masih aktif.
Ia menyebut, arah rupiah ke depan sangat bergantung pada tiga faktor utama, yakni pergerakan dolar AS, perkembangan konflik energi global, serta kredibilitas respons kebijakan domestik.
Selama ketiga faktor itu belum membaik, tekanan masih akan bertahan. Risiko pelemahan lanjutan tetap terbuka jika sentimen memburuk.
“Karena itu, fokus utama bukan menebak angka terburuk, melainkan mencegah agar depresiasi tidak berubah menjadi krisis kepercayaan,” tandasnya. (kontan)