TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Batalyon Infanteri (Yonif) 700 Raider membantah keras adanya keterlibatan anggotanya dalam peristiwa aksi demonstrasi yang berujung ricuh di kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI), Jumat (24/4/2026) malam.
Bantahan tersebut disampaikan langsung oleh pihak Yonif 700 Raider menyusul beredarnya informasi viral di media sosial yang menyebut adanya anggota TNI dari satuan tersebut berada di lokasi kejadian.
Kepada awak media, perwakilan intelijen Yonif 700 Raider menegaskan, tidak ada satu pun personel mereka yang berada di lokasi saat aksi berlangsung.
“Tidak ada anggota Yonif 700 Raider di lokasi seperti yang beredar di media sosial. Informasi tersebut tidak benar,” tegas Danyonif 700, Letkol Inf Iwan Sunarya, Minggu (26/4/2026) dalam rilis ke tribun.
Ia juga menjelaskan bahwa dua pria yang sempat disebut-sebut sebagai anggota Yonif 700 Raider dalam video yang beredar, dipastikan bukan bagian dari satuan tersebut, melainkan warga sipil.
“Dua orang tersebut bukan anggota kami. Mereka adalah masyarakat sipil. Bahkan informasi yang kami terima, mereka sempat dipaksa untuk mengaku sebagai anggota Yonif 700 Raider, namun sebenarnya mereka tidak mengakui hal tersebut,” ungkapnya.
Baca juga: Puluhan Mahasiswa Ditangkap Usai Demo Peringatan Amarah UMI Berakhir Ricuh
Pihak Yonif 700 Raider juga menyayangkan beredarnya informasi yang dinilai tidak akurat, termasuk yang muncul di berbagai platform media sosial dan sejumlah media daring.
Menurutnya, penyebaran informasi yang tidak benar dapat memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat serta merugikan institusi.
Hingga saat ini, situasi pasca aksi demonstrasi di kampus UMI dilaporkan telah berangsur kondusif, sementara pihak terkait masih terus melakukan penelusuran terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam kericuhan tersebut.
Demonstran yang Ditangkap Dipulangkan
Puluhan mahasiswa yang ditangkap saat demo peringatan tiga dekade April Makassar Berdarah (Amarah) di Kampus UMI, dipulangkan.
Demo diwarnai aksi penutupan Jl Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (24/4/2026) malam berakhir ricuh.
Kericuhan terjadi saat sejumlah pria berjaket ojek online mendatangi pendemo yang menutup jalan.
Kedatangan driver ojol ini membuat pendemo berlarian masuk ke dalam kampus hingga terjadi perlawanan.
Aksi saling lempar batu dan petasan antara pendemo dan kelompok ojol tak terhindarkan.
Polisi yang tiba di lokasi meminta driver ojol meninggalkan kampus.
Setelah itu, polisi melakukan penyisiran dalam kampus dan mengamankan puluhan mahasiswa.
Polisi juga menyita sejumlah senjata tajam, jenis busur, badik, kerambit dan senjata rakitan Papporo.
Kurang dari 8 jam, mahasiswa yang diamankan di Polrestabes Makassar itu, dipulangkan.
Hal ini disampaikan Kasi Humas Polrestabes Makassar Kompol Wahiduddin.
"Sudah dipulangkan tadi jelang pagi. Mereka cuma didata, diambil keterangan dan dibina, setelah itu dipulangkan," ujarnya dikonfirmasi, Sabtu (25/4/2026) siang.
"Sekarang sudah tidak ada lagi mahasiswa yang diamankan di kantor, semua sudah dipulangkan," tambahnya.
Diketahui ada tiga mahasiswa UMI yang gugur dalam penyerbuan aparat kepolisian dalam kampus UMI, pada 24 April 1996.
Ketiganya adalah Andi Sultan Iskandar, Muh Tasrif, dan Syaiful Bya.
Nama mereka terus dikenang sebagai simbol perjuangan mahasiswa Makassar.
Tragedi Amarah sendiri bermula dari gelombang protes mahasiswa terhadap kebijakan kenaikan tarif angkutan kota di Makassar pada April 1996 yang dinilai memberatkan masyarakat kecil.
Saat itu, tarif angkutan kota naik dari Rp300 menjadi Rp500 berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Makassar, yang kemudian memicu penolakan besar-besaran dari mahasiswa berbagai perguruan tinggi.
Pada 24 April 1996, aksi demonstrasi memanas setelah bentrokan terjadi antara mahasiswa dan aparat keamanan.
Situasi semakin ricuh ketika aparat bersenjata lengkap masuk ke area kampus UMI.(*)