Oleh:
Ramlah Umar, S.Pd
Mahasiswa Prodi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
DI tengah gegap gempita transformasi pendidikan yang semakin menekankan teknologi, efisiensi, dan capaian numerik, ada satu hal yang diam-diam ditinggalkan: sastra sebagai ruang berpikir. Sekolah hari ini tampak begitu sibuk mengejar kompetensi terukur, tetapi lupa bahwa manusia tidak hanya hidup dari kemampuan menjawab soal, melainkan juga dari kemampuan memahami makna.
Sastra, yang dulu menjadi jantung pembelajaran bahasa, kini sering direduksi menjadi sekadar pelengkap. Ia hadir hanya sebagai teks bacaan yang harus dianalisis secara mekanis – mencari tema, tokoh, dan amanat – tanpa pernah benar-benar dihidupkan. Akibatnya, siswa mengenal sastra sebagai objek ujian, bukan sebagai pengalaman batin.
Padahal, sastra memiliki kekuatan yang tidak dimiliki disiplin ilmu lain: ia melatih kepekaan. Ketika seorang siswa membaca cerita tentang kehilangan, ia tidak hanya memahami alur cerita, tetapi juga belajar merasakan luka orang lain. Ketika ia membaca puisi tentang alam, ia tidak sekadar mengidentifikasi majas, tetapi juga belajar menghargai kehidupan. Di sinilah sastra bekerja sebagai pendidikan kemanusiaan.
Masalahnya, sistem pendidikan kita belum sepenuhnya memberi ruang bagi fungsi ini. Kurikulum cenderung menuntut kecepatan dan ketepatan, bukan kedalaman. Guru pun sering terjebak dalam tuntutan administratif, sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk mengajak siswa “berdialog” dengan teks sastra. Diskusi yang seharusnya hidup berubah menjadi kegiatan satu arah yang kering.
Lebih jauh lagi, generasi digital saat ini hidup dalam arus informasi yang serba cepat dan dangkal. Mereka terbiasa membaca potongan teks singkat, bukan narasi panjang yang menuntut kesabaran dan refleksi. Jika sastra tidak dihadirkan secara bermakna di sekolah, maka kita sedang membiarkan generasi tumbuh tanpa kemampuan memahami kompleksitas kehidupan.
Yang dibutuhkan bukan sekadar menambah porsi sastra dalam kurikulum, tetapi mengubah cara mengajarkannya. Sastra harus dikembalikan sebagai pengalaman, bukan sekadar materi. Guru perlu diberi kebebasan untuk mengeksplorasi metode yang lebih dialogis – membaca bersama, berdiskusi terbuka, bahkan mengaitkan teks dengan realitas kehidupan siswa.
Selain itu, penting untuk menghadirkan sastra yang dekat dengan konteks siswa. Karya-karya lokal, cerita rakyat, hingga sastra kontemporer dapat menjadi jembatan agar siswa merasa bahwa sastra bukan sesuatu yang jauh dan asing. Ketika siswa merasa terhubung, mereka tidak hanya membaca, tetapi juga memahami.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mencetak individu yang cerdas secara akademis, tetapi juga manusia yang utuh. Sastra memiliki peran penting dalam proses ini karena ia mengajarkan empati, refleksi, dan kebijaksanaan – nilai-nilai yang tidak bisa diukur dengan angka.
Jika sekolah terus mengabaikan sastra sebagai ruang berpikir, maka kita mungkin akan menghasilkan generasi yang cakap secara teknis, tetapi miskin makna. Dan ketika itu terjadi, pendidikan kehilangan salah satu tujuan utamanya: memanusiakan manusia. (*)