TRIBUNJAKARTA.COM, TAMBORA - Terbatasnya lahan untuk bermain sepak bola di Jakarta, menginspirasi Kiwil untuk membentuk turnamen sepak bola bernuansa street soccer layaknya di negara Brasil.
Dia pun menamakan turnamen yang dibuatnya ini bernama Liga Akamsi alias anak kampung sini, sebuah istilah yang sudah tak asing didengar di kalangan anak Jakarta.
“Awalnya itu benar-benar ide yang enggak sengaja. Saya lagi bengong di jalan, terus lihat anak-anak main di pinggir kali dengan penuh semangat, seolah-olah mereka main di stadion besar,” ujar Kiwil ditemui TribunJakarta.com di sela gelaran Liga Akamsi edisi Pasar Buah Angke di kawasan Gang Kiara RW 05, Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat Minggu (26/4/2026).
Dari momen itu, Kiwil tergerak untuk menghadirkan ruang bermain yang lebih terorganisir bagi anak-anak di lingkungan padat perkotaan.
Awalny, Liga Akamsi hanya direncanakan digelar di tempat tinggal Kiwil di kawasan Tanggul, Jakarta Utara.
Namun di luar dugaan, respons masyarakat dan warganet begitu besar. Liga Akamsi pun mulai digelar di berbagai titik di Jakarta. Adapun wilayah Pasar Buah Angke menjadi edisi kedua legaran Liga Akamsi.
“Awalnya cuma mau bikin di kampung sendiri, tapi ternyata responnya sangat antusias. Akhirnya kita bikin keliling kampung,” katanya.
Ke depan, Kiwil berencana memperluas jangkauan ke wilayah lain di Jakarta.
"Yang terdekat, Liga Akamsi ini bakal digelar di kawasan Lodan, Ancol," kata Kiwil.
Di balik gegap gempita pertandingan di jalanan kampung, Kiwil menegaskan bahwa Liga Akamsi bukan sekadar soal sepak bola.
Menurutnya, olahraga ini memiliki makna lebih dalam bagi anak-anak yang tumbuh di lingkungan keras perkotaan.
“Di Jakarta banyak anak-anak yang gila bola, tapi enggak punya lapangan. Sepak bola itu bukan cuma permainan, tapi bisa jadi alat perjuangan di tengah krisis harapan,” ujarnya.
Ia melihat, anak-anak yang terlibat dalam Liga Akamsi bermain bukan hanya untuk menang, tetapi juga untuk menjaga semangat hidup dan mimpi mereka.
“Adik-adik kita main dengan penuh semangat, berharap tetap bisa bertahan di lingkungan yang keras seperti ini,” ucapnya.
Meski telah mendapat sambutan positif dari masyarakat, Kiwil mengaku hingga kini belum ada respons dari pemerintah terkait inisiatif tersebut.
“Sejauh ini belum ada respon dari pemerintah. Mudah-mudahan ke depan ada perhatian,” katanya.
Liga Akamsi sendiri dikemas dengan sistem kompetisi liga yang berlangsung sekitar dua setengah bulan hingga tiga bulan.
Pertandingan digelar dua minggu sekali dengan format kandang dan tandang.
"Dan insya Allah next-nya, goals-nya Liga Akamsi, gue pengen bikin Champion Liga Akamsi," kata Kiwil.
Adanya gelaran Liga Akamsi ini diapresiasi oleh warga.
Ketua Karang Taruna RW 05, Fikri mengatakan, pihaknya berkolaborasi dengan panitia Liga Akamsi untuk mengarahkan anak-anak di wilayah tersebut ke arah yang positif dan terarah.
"Di sini tuh banyak kalau malam anak kecil main bola. adanya Liga Akamsi ini untuk mengurangi kegiatan anak-anak itu main bolanya tengah malam.
Yang kedua di sini banyak anak hobi bola tapi mereka itu ga ada wadah. Jadinya gue bersama Liga Akamsi ini mengadakan program ini di wilayah Pasar Buah Angke," kata Fikri.
Pantauan TribunJakarta.com, gelaran Liga Akamsi di kawasan RW 05 Jembatan Lima ini berlangsung meriah.
Warga, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua nampak berkumpul menyaksikan jalannya laga yang menggunakan bola plastik.
Paling banyak warga berkumpul di belakang gawang karena posisinya lebih lebar.
Sebab, jika di sisi lebar lapangan, diisi para pemain dan anak-anak yang memukul drum sepanjang pertandingan.
Untuk sementara pada Minggu sore, jalanan di wilayah permukiman padat penduduk Tambora tak bisa dilalui kendaraan.