Songko tengah go public.
Hantu dari Minahasa ini menasional lewat pemutaran film "Songko" yang mulai tayang di bioskop sejak Kamis (23/4/2026).
Saya sesungguhnya sangat anti film horor.
Tapi demi menyaksikan Songko yang sudah sangat viral sebelum diputar (katanya produk Manado tak pernah gagal), saya memutuskan menanggalkan kebencian itu, setidaknya untuk satu malam.
Kamis manis berubah menjadi darah dan ketegangan, saat saya nonton film itu bersama ratusan orang di Lippo Plaza Manado.
Harus saya akui, Songko sukses sebagai film horor.
Ketakutan jadi candu, hingga seolah tak ada pilihan bagi saya selain terus menyaksikan film itu hingga selesai.
Padahal sebelum nonton saya sudah berjanji untuk berada di sana tak lebih dari setengah jam.
Narasi hantu tersusun dari keseharian orang Minahasa; Cap tikus, mabuk, bahasa belanda, paduan suara, gereja, karlota dan lainnya.
Ini membuat teror serasa di beranda rumah kita.
Dan memori gelap film itu terus terbawa dalam perjalanan saya menuju rumah.
Dalam kungkungan memori itu, ingatan kembali pada belasan tahun lalu, saat saya masih wartawan baru.
Kala itu, viral teror pok pok, hantu yang mirip Songko, di salah satu kampung di Manado.
Malam datang, begitu pun ketakutan.
Tapi dasar orang Manado, ketakutan hanya suatu sisi.
Sisi lainnya adalah rasa kepo. Rasa ingin tahu yang kelewat besar membuat kampung itu justru didatangi banyak warga yang penasaran dengan Pok Pok.
Saya coba bercerita dari tulisan teman wartawan saya.
Malam (30/9/2010). Jarum jam menunjuk pukul 22.30 Wita.
Gelap mencekam di salah satu sudut yang tak jauh dari pusat kota Manado.
Ada lampu jalan tapi belum seterang saat ini.
Namun suasana bak siang. Ada banyak orang yang berkerumun.
Jalan depan lorong penuh dengan sepeda motor dan mobil yang parkir.
Ada hening sejenak lantas keriuhan pecah. Heboh. Semua orang berteriak bersahut-sahutan.
"Napa dia so datang ulang (Ini, dia datang lagi)," ucap ratusan warga serentak seperti koor.
Dan memang benar Pok Pok itu muncul.
Wartawan menjadi saksi kemunculannya.
Terlihat seperti ada bola api yang melayang- layang di udara sekitar jarak 20 meter.
Bola api ini berwarnah merah ke-oranyean.
Sesekali ia mendekat ke kerumunan warga, namun sesekali juga ia menjauh.
Wajahnya tidak kelihatan, namun bentuk jantung dan organ dalam tubuh lain bisa terlihat walaupun samar-samar.
Kemunculan Pok Pok terjadi sekitar 10 menit, kemudian sosok tersebut menghilang dengan sendirinya, entah kemana.
Hardi Hetaria, seorang warga setempat saat diwawancarai menuturkan, awalnya ia tidak percaya tentang keberadaan Pok Pok ini.
Namun, lantaran diajak temannya sekitar dua hari lalu untuk menonton kejadian aneh tersebut, ia akhirnya percaya juga.
"Saya melihat sosok Pok Pok diam di atas pohon mangga," ucap dia
sembari menunjuk ke arah pohon mangga tersebut.
Sementara itu, seorang ahli kepada wartawan menuturkan, kemunculan hari ini merupakan tindakan balas dendam dari manusia jadi-jadian ini.
"Dua hari lalu, kami sudah membunuh Pok Pok perempuannya. Sekarang datang si Pok Pok lelaki untuk meminta tumbal dari anak bayi atau orok dari warga di kampung ini," ucap ahli tanpa menyebutkan nama.
Maklum saja menurut warga setempat Pok Pok kerjaanya suka mengincar bayi yang baru lahir.
Dan seperti kebetulan, di sana ada beberapa wanita yang baru saja melahirkan bayi dan ada beberapa lagi yang sementara mengandung.
Seorang ibu, mengaku khawatir dengan kemunculan pok Pok ini.
Di titik ini, saya melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar cerita hantu. Ini adalah potret cara berpikir.
Saya kira, inilah logika mistik yang masih mencengkeram masyarakat kita.
Sesuatu yang pernah coba dilawan oleh Tan Malaka melalui gagasannya tentang Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog).
Ia percaya bahwa misteri bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipahami melalui akal dan pembuktian.
Tanpa logika, bangsa ini akan terus berjalan di tempat. Pikiran mistik dapat melahirkan sikap pasrah, bahkan tunduk tanpa pertanyaan.
Namun ironi muncul.
Di tengah kemajuan zaman, mistik justru kerap menemukan ruang baru.
Bahkan dalam dunia politik, keputusan sering kali tak lepas dari hitungan gaib dan primbon.
Apakah Tan Malaka kalah?
Saya kira tidak. Harapan itu masih ada. Ia hidup dalam generasi muda milenial dan Gen Z yang mulai akrab dengan cara berpikir kritis.
Di Manado, misalnya, buku Madilog justru menjadi buku yang paling diminati di Gramedia.
Mungkin, di situlah kita menemukan keseimbangan.
Bahwa horor seperti Songko tetap bisa dinikmati sebagai karya budaya, sebagai cerita, sebagai hiburan.
Namun di saat yang sama, kehidupan nyata menuntut lebih dari sekadar rasa takut. Ia menuntut keberanian untuk berpikir. (Arthur Rompis)