Nyeri Haid Sering Dianggap Sepele, Dokter Ungkap Risiko yang Jarang Disadari
Erik S April 27, 2026 02:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak perempuan menganggap nyeri haid sebagai hal biasa yang harus ditahan setiap bulan. Namun, siapa sangka, rasa sakit yang kerap diabaikan ini bisa menjadi tanda gangguan serius pada organ reproduksi.

Dalam sejumlah kasus, nyeri menstruasi yang berlebihan dapat mengarah pada Endometriosis—kondisi yang sering terlambat disadari karena gejalanya dianggap 'normal'.

“Pada beberapa kondisi, nyeri yang dirasakan bisa lebih intens, seperti pada kasus endometriosis,” ujar Fita Maulina, dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dalam sebuah intimate talkshow di Jakarta, Minggu (26/4/2026).

Talkshow juga menghadirkan Managing Director PT Beurer Healthcare and Wellbeing Indonesia Aria Verdin serta influencer Zata Ligouw.

Dikatakan Fita, secara medis, menstruasi merupakan proses alami peluruhan dinding rahim akibat tidak terjadinya pembuahan. Siklusnya normalnya berlangsung 21–35 hari dengan durasi 2–7 hari.

Namun faktanya, lebih dari 50 persen perempuan di dunia mengalami nyeri haid, dan sebagian di antaranya berkaitan dengan kondisi medis yang lebih serius.

Masalahnya, banyak perempuan memilih diam dan menahan rasa sakit tanpa mencari tahu penyebabnya.

Padahal, menurut dr Fita, nyeri yang berlebihan bukan sesuatu yang boleh diabaikan. Edukasi sejak dini dan dukungan keluarga menjadi kunci penting, terutama bagi remaja yang baru pertama kali mengalami menstruasi.

“Intinya, saat mengalami nyeri harus dibuat nyaman. Obat bukan menjadi jalan utama, dan perempuan perlu merasa bahagia karena itu membutuhkan dukungan keluarga,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa faktor yang sering luput justru berasal dari gaya hidup. Tekanan mental berlebih dan kurangnya asupan nutrisi dapat memengaruhi siklus menstruasi.

Baca juga: Tips Meringankan Nyeri Haid Secara Alami

“Batas gangguan siklus menstruasi itu tiga bulan. Jika terlambat satu hingga dua bulan, belum tentu dianggap gangguan. Namun, kondisi mental yang baik sangat berperan dalam menjaga siklus tetap teratur,” katanya.

Selain nyeri, ada tanda lain yang kerap diabaikan, seperti menstruasi lebih dari tujuh hari atau perdarahan berlebihan. Kondisi ini seharusnya menjadi alarm untuk segera melakukan pemeriksaan.

Langkah sederhana seperti mencatat siklus haid, durasi, hingga frekuensi mengganti pembalut bisa membantu deteksi dini gangguan kesehatan reproduksi.

Di sisi lain, pola hidup juga berperan besar. Konsumsi gula berlebih, misalnya, dapat meningkatkan kadar insulin yang memicu produksi hormon estrogen secara berlebihan.

“Jika tidak terkontrol, kondisi ini berpotensi memicu pertumbuhan sel abnormal, termasuk risiko kanker ovarium dan endometrium,” jelasnya.

Tak hanya itu, kurangnya aktivitas fisik juga dapat memperburuk kondisi. Lemak berlebih dalam tubuh diketahui dapat memengaruhi keseimbangan hormon, termasuk estrogen.

Baca juga: Benarkah Nyeri Haid Menghilang Saat Sudah Menikah? Begini Penjelasan Dokter

Karena itu, olahraga ringan secara rutin serta paparan sinar matahari yang cukup tetap dianjurkan, terutama untuk membantu produksi vitamin D secara alami.

Aria Verdin mengatakan, mengatasi nyeri haid tidak harus menggunakan obat namun bisa menggunakan alat dengan teknologi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation dan fungsi panas.

"Dengan menggabungkan teknologi Tens serta terapi panas memberikan rasa hangat dan efek relaksasi. Solusi ini bisa digunakan kapan saja ketika dibutuhkan dengan hanya butuh waktu maksimal 30 menit," kata dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.