Momentum Hari Kartini, Nila Yani Hardiyanti: Keterwakilan Perempuan Harus Lahirkan Kebijakan Nyata
Sudarma Adi April 27, 2026 03:14 AM

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Willy Abraham

TRIBUNJATIM.COM, GRESIK – Momentum Hari Kartini menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan Indonesia belum selesai.

Anggota DPR RI Komisi VII, Nila Yani Hardiyanti, menegaskan bahwa keterwakilan perempuan saat ini tidak cukup hanya sebatas angka atau simbol, tetapi harus melahirkan kebijakan nyata yang melindungi dan memberdayakan perempuan.

Hal itu disampaikan Nila Yani dalam Sarasehan Hari Kartini yang digelar di Kabupaten Gresik.

Menurutnya, perempuan masa kini masih menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari ketimpangan akses pendidikan dan ekonomi hingga meningkatnya kasus kekerasan seksual, termasuk kekerasan berbasis gender di ruang digital.

Baca juga: Ramalan Cuaca Jatim Minggu 26 April 2026, Gresik Jombang Pasuruan Mojokerto Hujan Ringan

Menjawab Tantangan Kekerasan Berbasis Gender di Era Digital

“Karena Kartini masa kini bukan hanya soal hadirnya perempuan di ruang publik, tetapi bagaimana negara memastikan mereka aman, terlindungi, dan memiliki akses yang setara dalam pendidikan, ekonomi, dan ruang digital,” ujar Nila Yani, Minggu (26/4/2026).

Politisi muda ini menilai meningkatnya kekerasan seksual, baik secara langsung maupun melalui media digital, menjadi alarm bahwa negara tidak boleh abai terhadap perlindungan perempuan.

Karena itu, DPR RI melalui fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran disebut terus mendorong kebijakan yang berpihak kepada perempuan.

Mulai dari penguatan regulasi perlindungan perempuan, memastikan institusi pendidikan dan tempat kerja memiliki sistem pencegahan serta penanganan kekerasan seksual, hingga memastikan anggaran negara benar-benar menyentuh kebutuhan perempuan secara langsung.

Baca juga: PDIP Jatim Instruksikan Kader Solid Usai Penunjukan Syaifudin Zuhri Jadi Ketua DPRD Surabaya

Selain itu, Komisi VII DPR RI juga memberi perhatian terhadap pengembangan ekosistem industri dan digital yang inklusif bagi perempuan.

Transformasi digital, kata dia, tidak boleh menjadi ruang baru terjadinya eksploitasi, namun harus menjadi sarana pemberdayaan perempuan, khususnya generasi muda, dalam sektor ekonomi kreatif, UMKM, dan industri digital.

Nila Yani menegaskan, keterwakilan perempuan di dunia politik harus mampu menghasilkan kebijakan berdampak nyata.

Menurutnya, politik tidak cukup berhenti pada kuota keterwakilan, tetapi harus menjawab persoalan riil perempuan, seperti keamanan di kampus dan tempat kerja, perlindungan di ruang digital, akses pembiayaan usaha, hingga perlindungan hak cipta karya perempuan.

“Semangat Kartini hari ini adalah memastikan perempuan muda aman untuk tumbuh, berani bersuara, dan kuat menjadi pengambil keputusan. Politik harus melindungi, ekonomi harus memberdayakan, dan digitalisasi harus memanusiakan,” pungkas politisi muda PDI Perjuangan tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.