Laporan Reporter Tribunjabar.id Rahmat Kurniawan
TRIBUNJABAR.ID, CIMAHI - Pengguna sepeda motor listrik di wilayah Bandung Raya diklaim terus mengalami pertumbuhan seiring meningkatnya pengatahuan dan pemahaman terhadap kendaraan listrik.
Penggunaanya dinilai tak hanya terbatas di dalam kota, dengan berbagai inovasi sepeda motor listrik mampu menjelajah lintas kota bahkan provinsi.
"Kegiatan kami macam-macam, ada touring workshop, edukasi. Kalau touring sebenarnya sudah ada yang sampai lintas provinsi dan tidak ada masalah, ada juga yang buat balapan. Sudah mulai banyak yang pakai, masyarakat mulai merasakan manfaatnya," kata perwakilan Electric Bikers Brotherhood Community (EBBC), Indrawan Maryono di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Minggu (26/4/2026).
Indra dan rekan komunitas kerap kali menggelar diskusi untuk mengetahui perkembangan dari kendaraan listrik. Bahkan, komunitasnya kerap diundang langsung oleh brand-brand kendaran listrik untuk diskusi hingga memberikan masukan.
"Jadi kami ini dari pengguna bahkan penghobi kendaraan listrik. EBBC lahir dari kesamaan minat dan juga untuk memasyarakatkan kendaraan listrik," ujarnya.
Indra menegaskan, dari rangkaian diskusi, berbagi pengalaman, bahan uji coba langsung terhadap unit-unit baru, kendaraan listrik telah bertransformasi hingga dapat menjadi kendaraan utama untuk penunjang aktivitas harian.
"Ini sudah dibuktikan oleh teman-teman kami, dari yang ojol, pekerja kantor harian, bahkan pengguna jarak jauh, seperti kurir, sales," tegasnya.
Meski begitu, Indra tetap mewanti-wanti masyarakat yang hendak memiliki dan menggunakan kendaraan listrik di tengah beragamnya pilihan. Pastikan, kendaraan listrik yang hendak dimiliki berasal dari pabrik yang telah melewati uji kelayakan.
"Kalau pabrikan cirinya dia sudah menggunakan pelat nomor. Pabrikan itu beda dengan motor yang dimodifikasi atau rakitan sendiri," tegasnya.
Indra menambahkan, penggunaan kendaraan listrik dinilai semakin relevan di tengah ketidakpastian global hingga terus menyusutnya sumber energi fosil.
Selain soal dukungan terhadap penggunaan transportasi ramah lingkungan, penggunaan kendaraan listrik juga dinilai lebih hemat biaya.
"Kita berkaca seperti Cina, di kota kota besar di sana ada yang 90 persen penggunaan sepeda motor listrik. Ini mungkin salah satu solusi, mungkin kita punya cadangan bahan fosil besar tapi itu akan habis," tandasnya.
Di lokasi yang sama, Kusnadi (60) warga Kota Bandung mengaku telah 2 tahun menggunakan sepeda motor listrik untuk bekerja sebagai ojek online (Ojol).
Baginya, penggunaan sepeda motor listrik bisa menghemat biasa operasional hingga 90 persen.
"Kalau pakai motor biasa, sehari isi bensin itu minimal Rp25 ribu itu paling irit, sekarang bisa dikatakan tanpa biaya, kalau ngecas di PLN pun murah, sampai full itu Rp5 ribu. Jadi hemat 90 persen lah dari biasanya," kata Kusnadi.
Minimnya perawatan rutin juga dinilai menjadi kelebihan dari kendaran listrik. Ganti oli hingga perawatan berkala rutin tak lagi dilakukan usai menggunakan kendaraan listrik.
"Kalau mesin kan harus ganti oli, sekarang tidak lagi, tidak ada biaya perawatan, paling kendala kanvas rem," katanya.
Dia menampik jika kendaraan listrik rawan mogok hingga terjadinya korsleting.
"Saya belum pernah (korsleting) asal jangan diotak-atiklah. Kalau banjir malah lebih aman listrik, karena tidak ada busi knalpot, knalpot masuk air mogok, listrik sudah waterproof, aman," tandasnya.