TRIBUNNEWS.COM - Rangkaian peristiwa internasional menjadi sorotan dalam 24 jam terakhir.
White House Correspondents' Dinner 2026 yang digelar di Washington Hilton, Sabtu (25/4/2026) malam, berubah drastis dari acara penuh kemewahan menjadi situasi darurat.
Kepanikan terjadi setelah suara tembakan terdengar saat Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump sedang menghadiri acara tersebut.
Sementara itu, serangan balasan Iran terhadap instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk dalam operasi Epic Fury ternyata menimbulkan dampak jauh lebih besar daripada yang sebelumnya disampaikan ke publik.
White House Correspondents' Dinner 2026 yang digelar di Washington Hilton, Sabtu (25/4/2026) malam, berubah drastis dari acara penuh kemewahan menjadi situasi darurat.
Kepanikan terjadi setelah suara tembakan terdengar saat Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump sedang menghadiri acara tersebut.
Jamuan tahunan yang biasanya menjadi simbol hubungan antara Gedung Putih dan media nasional itu mendadak lumpuh.
Dilansir CNN, Trump, Ibu Negara Melania Trump, Wakil Presiden JD Vance, para menteri kabinet, anggota Kongres, jurnalis senior, hingga tamu internasional langsung dievakuasi.
Suasana ballroom yang sebelumnya dipenuhi pidato, makan malam formal, dan perbincangan politik mendadak berubah menjadi kepanikan.
Beberapa tamu berlindung di bawah meja.
Sebagian lainnya tiarap di lantai.
Agen Secret Service berlari menuju panggung sambil meneriakkan “shots fired” atau “tembakan dilepaskan”.
Momen itu menjadi salah satu insiden keamanan paling serius dalam masa jabatan kedua Trump.
Berikut ini Tribunnews.com rangkum fakta-fakta terkait penembakan di acara makan malam Trump:
Menurut kesaksian para saksi dan laporan CNN, suara keras pertama kali terdengar dari bagian belakang area acara, tidak jauh dari jalur masuk menuju ballroom utama.
Trump saat itu sedang berada di panggung bersama Melania Trump.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Serangan balasan Iran terhadap instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk kini mulai mengungkap gambaran yang jauh lebih kompleks dari yang sebelumnya disampaikan ke publik.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa dampak nyata dari operasi militer bertajuk Operation Epic Fury kemungkinan jauh lebih besar, baik dari sisi kerusakan infrastruktur, kerugian alutsista, maupun gangguan operasional yang nilainya bisa mencapai miliaran dolar.
Sejumlah pejabat Amerika Serikat, staf Kongres, serta pihak yang memahami laporan penilaian kerusakan yang masih bersifat rahasia mengungkapkan bahwa serangan Iran menghantam puluhan target di sedikitnya tujuh negara di Timur Tengah.
Fakta ini menggugurkan narasi awal yang menyebut kemampuan balasan Teheran telah lumpuh setelah serangan pembuka AS-Israel pada 28 Februari 2026.
Dimensi strategis konflik ini semakin dalam setelah laporan NBC News mengonfirmasi bahwa sebuah jet tempur F-5 milik Iran berhasil melakukan pengeboman terhadap Camp Buehring di Kuwait.
Serangan ini menembus sistem pertahanan udara berlapis milik Amerika yang dilengkapi rudal Patriot, interceptor jarak pendek, radar canggih, serta jaringan pengawasan regional yang aktif.
Serangan tersebut secara langsung meruntuhkan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menegaskan bahwa Angkatan Udara Iran telah “sepenuhnya dihancurkan”.
Bukti di lapangan justru menunjukkan bahwa Teheran masih memiliki kemampuan tempur udara yang cukup untuk menyerang instalasi militer Amerika yang dilindungi ketat.
Peristiwa ini juga menjadi salah satu kejadian paling langka dalam peperangan modern Amerika, di mana pesawat tempur berawak milik musuh berhasil menjatuhkan bom ke pangkalan utama AS di Timur Tengah, meski berada di bawah perlindungan sistem pertahanan udara berlapis yang dirancang untuk mencegah skenario seperti itu.
Laporan NBC tertanggal 25 April 2026 menyebutkan bahwa serangan Iran merusak gudang logistik, hanggar pesawat, markas komando, infrastruktur komunikasi satelit, landasan pacu, sistem radar canggih, serta puluhan pesawat militer. Total biaya perbaikan diperkirakan mencapai miliaran dolar.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Seorang jurnalis Amerika Serikat (AS) mengatakan dia merasa "dikhianati" saat mengkritik perang Presiden AS Donald Trump terhadap Iran.
Jurnalis yang merasa dikhianati itu yakni komentator politik dan mantan pembawa acara Fox News, Tucker Carlson.
Dalam sebuah wawancara dengan The Wall Street Journal, Carlson mengatakan, “Saya tidak membenci Trump. Saya membenci perang ini dan arah yang diambil pemerintah AS."
Ia menambahkan bahwa “Saya merasa dikhianati.”
Laporan tersebut menyatakan bahwa Tucker Carlson menentang operasi AS pada 3 Januari 2026 di Venezuela yang menyebabkan penangkapan Presiden Nicolas Maduro, dan menambahkan bahwa ia sekarang adalah "penentang paling terkemuka dari perang Iran" yang diprakarsai oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026.
“Mengapa pemerintah AS tidak bisa bertindak atas nama warganya sendiri?” tanya Carlson sebelum menambahkan, “Ini adalah masalah antargenerasi yang tidak dimulai dengan Trump.”
“Justru, Trump membuktikan bahwa sistem itu lebih kuat daripada dirinya,” ujarnya.
Awal bulan ini, Trump mengatakan dalam sebuah unggahan di Truth Social bahwa Tucker Carlson adalah "orang ber-IQ rendah" yang "selalu mudah dikalahkan" dan "sangat dilebih-lebihkan."
Sebelumnya, Tucker Carlson merupakan salah satu sekutu media Trump yang paling terkemuka.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Pakar militer Mesir, Mayor Jenderal Samir Farag, mengungkapkan mengejutkan tentang perang Arab dengan Israel yang terjadi pada 1967 silam.
Mesir diketahui menjadi satu di antara yang memerangi Israel dalam apa yang dikenal sebagai "Perang Enam Hari".
Terkait itu, Mesir merayakan apa yang mereka gambarkan sebagai "Hari Pembebasan Sinai", tanggal di mana wilayah Semenanjung Sinai kembali ke tangan Mesir, setelah Israel menarik semua pendudukannya di wilayah itu lewat perjanjian Camp David pada 1982.
Dalam konteks terkait, Jenderal Samir Farag menyatakan kalau Mesir adalah satu-satunya negara yang berhasil merebut kembali seluruh wilayahnya yang diduduki secara utuh, tidak seperti Dataran Tinggi Golan Suriah dan Tepi Barat yang dianeksasi oleh Israel.
Mayor Jenderal Farag menekankan Mesir merebut kembali tanahnya "tanpa kehilangan sejengkal pun,".
Dia juga menekankan kalau makna perayaan Hari Pembebasan Sinai terletak pada kerja keras yang telah dilakukan oleh tentara, rakyat, dan polisi di bawah kepemimpinan tiga presiden: Gamal Abdel Nasser, Anwar Sadat, dan Hosni Mubarak.
Dalam pernyataannya kepada sebuah saluran lokal, pakar militer Mesir tersebut menekankan bahwa Mesir telah menjadi satu-satunya negara saat ini yang wilayahnya tidak direbut, berkat keberadaan tentara yang kuat yang melindunginya.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Jumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) yang menjadi sasaran serangan Iran terus dilaporkan meningkat.
Pihak Washington pun mengakui adanya serangan di berbagai negara, khususnya di wilayah Timur Tengah.
Sumber militer dan media Iran menyebutkan jumlah pangkalan yang menjadi sasaran lebih dari selusin, namun Pentagon tampaknya berusaha keras untuk menyembunyikan kerusakan-kerusakan tersebut.
Beberapa jam setelah AS meluncurkan 'Operasi Epic Fury' pada 28 Februari, Iran melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer Amerika di seluruh Timur Tengah, di mana para pejabat AS mengkonfirmasi semakin banyaknya lokasi yang dihantam rudal Iran.
Hal yang menarik, Pangkalan Pangeran Sultan milik AS di Arab Saudi muncul sebagai titik fokus gelombang serangan balasan Iran tersebut.
"Di balik tabir sensor, semakin jelas bahwa kerusakannya mungkin jauh lebih parah daripada yang diakui Pentagon," tuli ulasan RT, Minggu (26/4/2026) membahas soal dampak serangan Iran ke pangkalan-pangkalan militer AS di berbagai wilayah di Asia Barat.
AS Mengecilkan Skala Kerusakan Dampak Serangan Iran
Kerusakan yang diderita pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah "jauh lebih buruk" daripada yang diklaim oleh Presiden AS Donald Trump dan Pentagon, dan akan "menelan biaya miliaran dolar untuk memperbaikinya," demikian laporan NBC News pada 25 April, mengutip beberapa pejabat Amerika.
BACA SELENGKAPNYA >>>
(Tribunnews.com)