Sakit Hati Mantan Istri Nikah Lagi, Gareng Tusuk Suami Barunya Hingga Tewas, Pisau Dapur Jadi Bukti
Murhan April 27, 2026 11:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sakit hati mantan istri menikah lagi, seorang pria membunuh suami barunya. Dia menusuk suami mantan istri dengan pisau.

Kini, jajaran kepolisian dari Polsek Baleendah bersama Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Bandung berhasil meringkus seorang pria berinisial CS alias Gareng (41) itu.

Dia merupakan terduga pelaku pembunuhan di wilayah Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Adanya peristiwa berdarah tersebut terjadi di Kampung Lembur Tengah, RT 06 RW 09, Kelurahan Jelekong, pada Sabtu (25/4/2026) sekitar pukul 15.30 WIB. 

Korban yang berinisial HI, dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian setelah mendapatkan serangan senjata tajam di bagian perut.

Kapolsek Baleendah AKP Hendri Noki Rukmansyah, mengungkapkan bahwa motif di balik aksi nekat pelaku didasari oleh faktor asmara dan rasa sakit hati. 

Baca juga: Kebakaran Dini Hari Di Kebunsari Amuntai HSU, Susi Sempat Panik dan Selamatkan Kucing

Pelaku diketahui tidak menerima kenyataan bahwa mantan istrinya, LS, telah menikah siri dengan korban sejak dua bulan terakhir.

"Dugaan sementara, pelaku tidak menerima perceraian dan pernikahan kembali mantan istrinya dengan korban," katanya dikonfirmasi, melalui keterangan tertulis, Senin (26/4/2026).

Insiden ini bermula saat pelaku mendatangi rumah kerabat LS di wilayah Kampung Bera untuk mencari keberadaan mantan istrinya. 

Pada saat yang bersamaan, korban dan LS memang tengah berkunjung ke rumah saudara mereka.

Saat korban hendak pulang, pelaku tiba-tiba muncul dan memanggil HI.

Pertemuan tersebut berujung pada cekcok mulut di antara keduanya. 

Di tengah keributan itu, LS mendengar teriakan kesakitan dari sang suami. 

Ketika dihampiri, ia menemukan korban sudah bersimbah darah sementara pelaku melarikan diri melalui gang sempit.

Pihak kepolisian yang mendapatkan laporan segera bergerak cepat melakukan pengejaran. 

Pelarian CS pun berakhir pada Sabtu malam sekitar pukul 23.30 WIB di wilayah Manggahang.

"Kami amankan pelaku di wilayah Manggahang saat hendak melarikan diri," kata Hendri.

Selain mengamankan tersangka, petugas juga menyita sejumlah barang bukti yang digunakan pelaku saat melancarkan aksinya, di antaranya satu bilah pisau dapur atau pisau daging serta pakaian yang dikenakan pelaku saat kejadian.

Kini, CS alias Gareng harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Polisi masih terus mendalami kasus ini guna melengkapi berkas perkara.

"Saat ini, tersangka telah diamankan di Mapolsek Baleendah guna menjalani proses hukum lebih lanjut," katanya.

Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran

Datang ke pernikahan mantan kerap dianggap sebagai tolok ukur kedewasaan emosional. Ini merupakan usulan topik pilihan dari Kompasianer Nurul Rahmawati: Diundang Kawinan Mantan, Datang atau Tidak?

Hal yang menonjol dari konten-konten yang dibuat Kompasienr adalah keberaniannya menantang tekanan sosial. 

Ekspektasi untuk "tampak kuat", "sudah move on", atau "bersikap dewasa" seringkali berbenturan dengan kebutuhan batin yang lebih sunyi.

Topik Pilihan ini pada akhirnya bukan tentang mantan, melainkan tentang relasi seseorang dengan masa lalunya sendiri.

Kami coba rangkumkan untukmu bagaimana sudut pandang Kompasianer terkait topik pilihan ini.

1. Datang ke Pernikahan Mantan? Happy Banget, Foto Bareng Malahan!

Kompasianer Riana Dewie menceritakan pengalamannya ketika datang ke pernikahan mantan tanpa drama, justru dengan perasaan bahagia dan penuh syukur.

Apalagi datang ke pernikahan mantan dipandang sebagai simbol bahwa hidup terus berjalan dan setiap orang berhak menemukan kebahagiaannya masing-masing.

Kisah personal Kompasianer Riana Dewie dengan mantan semasa SMA menjadi contoh bagaimana relasi bisa berkembang dari cinta remaja menjadi persahabatan dewasa.

"Punya mantan yang baik, pisah dengan baik, dan bisa berkomunikasi jangka panjang dengan sehat itu ternyata anugerah," tulisnya. 

2. Datang ke Pernikahan Mantan, Apakah Bukti Move On?

Konten yang dibuat Kompasianer Lisa Puspa Karmila membuka pembahasan dari momen sederhana tetapi sarat makna: menerima undangan pernikahan mantan. Reaksi yang muncul kerap bukan kegembiraan, melainkan kebingungan dan pergulatan batin.

Undangan tersebut memaksa seseorang menimbang antara hadir sebagai simbol kedewasaan dan bukti move-on atau menghindar demi menjaga ketenangan diri.

Move on sering disalahartikan sebagai kemampuan untuk hadir di acara-acara yang melibatkan masa lalu. 

Padahal, tulis Kompasianer Lisa Puspa Karmila berdamai tidak selalu perlu panggung dan saksi. Ia bisa terjadi secara sunyi, pelan-pelan, dan sangat personal.

Respons terhadap undangan mantan menjadi cermin kejujuran batin: sejauh mana seseorang mengenal dirinya dan berani memilih yang paling sehat bagi kondisi emosionalnya. 

3. Perlukah Mengundang Mantan Datang ke Kawinan Kita?

Sebagai pengampu Topik Pilihan ini, Kompasianer Nurul Rahmawati membuat konten yang sedikit berbeda: yakni jika kita menikah, apakah akan mengundang mantan?

Saat memutuskan mengundang mantan ke pernikahan, undangan itu bukan tanpa dilema, apalagi hubungan mereka berakhir bukan karena hilang rasa, melainkan faktor eksternal seperti restu keluarga.

Kontennya menyoroti keberanian dan kompleksitas emosional di balik keputusan mengundang mantan. Kehadiran mantan di resepsi, dengan senyum yang ditahan dan sikap penuh hormat, menjadi potret kedewasaan emosional yang tidak mudah dijalani.

Pada akhirnya, Kompasianer Nurul Rahmawati memaknai pengalaman itu sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membentuk dirinya hari ini. Mantan tidak selalu harus menjadi luka, melainkan bisa menjadi fase yang ditutup dengan cara baik.

(Banjarmasinpost.co.id/Kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.