TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Riset Amartha menunjukkan 89 persen UMKM binaan mengalami peningkatan pendapatan dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 63 persen setelah mendapatkan akses pembiayaan di Jakarta, 27 April 2026.
Kesenjangan pendanaan masih menjadi tantangan besar bagi ekonomi nasional dengan kebutuhan kredit UMKM diproyeksikan mencapai Rp4.300 triliun pada 2026.
Namun kapasitas pendanaan yang terakomodasi baru sekitar Rp1.900 triliun sehingga menyisakan kesenjangan pembiayaan sebesar Rp2.400 triliun pada 2025 lalu.
Founder dan CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra menyampaikan bahwa akses pembiayaan yang tepat sasaran mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi pelaku UMKM.
“Hasil Sustainability Report Amartha tahun 2025 menunjukkan bahwa 89 persen UMKM Binaan Amartha mengalami peningkatan pendapatan dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 63 persen setelah mendapatkan akses pembiayaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan secara kumulatif dampak tersebut telah dirasakan oleh sekitar 2,3 juta dari 3,9 juta UMKM binaan Amartha yang tersebar di lebih dari 50.000 desa.
Menurutnya, hal ini menegaskan bahwa pembiayaan inklusif tidak hanya membuka akses modal tetapi juga menjadi katalis bagi pelaku usaha untuk bertumbuh dan meningkatkan kesejahteraan.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies Nailul Huda menilai penguatan akses pembiayaan menjadi faktor kunci dalam mendorong mobilitas ekonomi masyarakat.
“Masih ada kesenjangan pembiayaan yang menunjukkan bahwa masih banyak pelaku usaha yang belum terhubung dengan sistem keuangan formal,” jelasnya.
Ia menambahkan ketika akses pembiayaan terbuka maka dampaknya tidak hanya pada peningkatan pendapatan tetapi juga pada ketahanan ekonomi rumah tangga.
“Data menunjukkan kehadiran teknologi finansial, termasuk pinjaman daring, membuat angka inklusi keuangan meningkat, baik secara umum maupun pada masyarakat 40 persen termiskin,” imbuh Huda.
Ia menyebut negara yang mengadopsi teknologi finansial memiliki tingkat inklusi keuangan 41,5 persen lebih tinggi dibandingkan negara yang belum mengadopsinya.
Huda juga menilai kehadiran pinjaman daring membuat akses layanan keuangan semakin terbuka sekaligus mendorong tumbuhnya ekosistem keuangan di desa.
Peningkatan pendapatan tersebut turut membawa perubahan nyata dalam kehidupan pelaku UMKM yang kini mulai mampu mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Mama Redha, nelayan dari Sumba sekaligus mitra Amartha, mengungkapkan akses pembiayaan telah mengubah cara ia menjalankan usahanya.
“Hasil laut tidak menentu karena bergantung pada cuaca dan pergerakan bulan,” jelas Mama Redha.
Ia mengaku membutuhkan pendapatan sampingan agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi di tengah ketidakpastian hasil tangkapan.
“Berkat modal tanpa agunan dari Amartha, kini saya memiliki warung kelontong yang menjadi sumber pendapatan utama bagi keluarga,” jelasnya.
Menutup hal tersebut, Andi Taufan menegaskan Amartha akan terus memperkuat peran dalam memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro.
“Bagi Amartha, pembiayaan merupakan instrumen untuk memperkuat ekosistem usaha mikro sekaligus mendorong peningkatan kapasitas dan pertumbuhan di tingkat akar rumput,” tutupnya.
Ia memastikan ke depan Amartha akan terus memperluas jangkauan layanan agar setiap penyaluran pembiayaan mampu meningkatkan daya saing usaha mikro di Indonesia.