Tradisi Syukuran Warga Krian Sidoarjo Hadirkan Tumpeng Tempe Raksasa sebagai Ikon
Mujib Anwar April 27, 2026 06:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Tradisi ruwat desa yang dikenal dengan sajian tumpeng tempe menjadi salah satu warisan budaya yang masih dijaga oleh masyarakat Desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo.

Tradisi ini merupakan bentuk sedekah bumi yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus permohonan keselamatan dan keberkahan bagi seluruh warga desa.

Ruwat desa tidak hanya dimaknai sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah berjasa membangun dan menjaga desa.

Dalam pelaksanaannya, warga berkumpul dan mengikuti doa bersama sebagai wujud spiritualitas serta harapan akan kehidupan yang lebih baik ke depannya.

Selain itu, tradisi ini menjadi momen penting untuk mempererat kebersamaan antarwarga melalui kegiatan gotong royong dan berbagi.

Makna Ruwat Desa 

Dilansir dari Kompas.com, istilah ruwat atau ruwah berkaitan dengan penghormatan terhadap arwah leluhur.

Melalui ruwat desa, masyarakat tidak hanya merawat lingkungan secara fisik, tetapi juga menjaga hubungan spiritual dengan para pendahulu.

Tradisi ini juga identik dengan sedekah, yakni berbagi makanan kepada sesama sebagai bentuk kepedulian sosial.

Bagi masyarakat Jawa, ruwat desa menjadi sarana untuk menyeimbangkan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Nilai-nilai tersebut menjadikan ruwat desa tetap relevan dan terus dilestarikan hingga kini.

Baca juga: ​Tradisi Ngarak Jolen Lumajang, Filosofi Ojo Lali dalam Ritual Berebut Berkah Hasil Bumi

Tradisi Ruwat Desa di Sidoarjo, Warga Rebutan Tumpeng Tempe Setinggi 9 Meter
Tradisi Ruwat Desa di Sidoarjo, Warga Rebutan Tumpeng Tempe Setinggi 9 Meter (Kompas.com)

Tumpeng Tempe sebagai Ikon Tradisi

Ciri khas utama ruwat desa di Sedengan Mijen adalah hadirnya tumpeng tempe raksasa yang menjadi pusat perhatian.

Tumpeng ini dibuat dari tempe hasil produksi warga yang mayoritas berprofesi sebagai pengrajin tempe.

Pembuatan tumpeng dilakukan secara gotong royong oleh warga dengan memanfaatkan hasil olahan kedelai sebagai bahan utama.

Pemilihan tempe bukan sekadar simbol makanan, tetapi juga mencerminkan identitas ekonomi desa sebagai sentra industri tempe.

Selain tumpeng utama, warga juga menghadirkan berbagai tumpeng lain berisi hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Prosesi dan Rangkaian Kegiatan

Ruwat desa dengan tumpeng tempe biasanya diawali dengan kegiatan keagamaan seperti istigasah dan doa bersama.

Kegiatan tersebut bertujuan memohon keselamatan serta keberkahan bagi seluruh warga desa.

Setelah itu, tumpeng tempe dan berbagai hasil bumi didoakan sebelum akhirnya dibagikan kepda masyarakat.

Momen pembagian atau perebutan tumpeng menjadi bagian yang paling dinanti karena dipercaya membawa berkah.

Suasana tradisi ini berlangsung meriah dengan tambahan hiburan rakyat seperti pertunjukan seni dan pasar jajanan.

Baca juga: Dari Sumber Hajar, Tradisi Ithuk-ithukan Jadi Simbol Syukur Warga Banyuwangi

edekah bumi untuk sambut Ramdan, di Sidoarjo, Jawa Timur.
edekah bumi untuk sambut Ramdan, di Sidoarjo, Jawa Timur. (Kompas.com/Andhi Dwi)

Warisan Budaya dan Daya Tarik Wisata

Tradisi ruwat desa dengan sajian tumpeng tempe tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga potensi sebagai daya tarik wisata budaya.

Keunikan tumpeng tempe raksasa menjadi ciri khas yang jarang ditemui di daerah lain.

Dikutip dari sidita.disbudpar.jatimprov.go.id, tradisi ini juga didukung oleh berbagai pihak sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus mengangkat potensi lokal.

Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkenalkan identitas desa kepada masyarakat luas.

Ruwat desa dengan tumpeng tempe pun menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat terus hidup dan berkembang melalui kebersamaan dan gotong royong.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.