Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Upaya penanggulangan Tuberkulosis di Provinsi Lampung kini menghadapi tantangan krusial, yakni rendahnya angka penemuan kasus dibandingkan estimasi yang ada.
Di tengah klaim keberhasilan pengobatan yang cukup baik, persoalan utama justru terletak pada masih banyaknya kasus yang belum terdeteksi.
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, menyoroti bahwa dari seluruh estimasi kasus TB, angka temuan saat ini masih jauh dari target.
Bahkan, hingga awal 2026, capaian deteksi baru menyentuh sekitar 11–14 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih banyak penderita TB yang belum terjangkau sistem kesehatan.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemprov Lampung mulai mengubah pendekatan dengan memperluas skrining aktif.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah menggandeng organisasi profesi dokter paru guna menghadirkan instrumen pemeriksaan di titik-titik strategis seperti pelabuhan dan bandara.
Langkah ini menandai pergeseran strategi: dari yang sebelumnya lebih pasif (menunggu pasien datang), menjadi lebih proaktif dalam menemukan kasus di lapangan.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Lampung memperlihatkan tren yang menarik.
Pada 2024 dan 2025, tingkat penemuan kasus relatif stabil di angka 65 persen dari estimasi sekitar 31 ribu kasus.
Namun, memasuki 2026, capaian tersebut turun drastis—baru 3.498 kasus ditemukan dari estimasi 30.745 kasus hingga akhir Maret.
Meski demikian, pemerintah menilai kualitas penanganan pasien sudah cukup baik, termasuk pada kasus TB resisten obat. Artinya, ketika pasien berhasil ditemukan dan diobati, peluang kesembuhan tergolong tinggi.
Di sisi lain, rendahnya deteksi ini berpotensi memperbesar risiko penularan di masyarakat.
TB merupakan penyakit menular yang menyebar melalui udara, sehingga keterlambatan diagnosis dapat memperluas rantai penyebaran tanpa disadari.
Pemerintah pun menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengenali gejala sejak dini, seperti batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, hingga keringat malam.
Pemeriksaan di fasilitas kesehatan menjadi langkah kunci untuk memastikan diagnosis.
Selain itu, pendekatan berbasis keluarga juga diperkuat.
Pasien yang terkonfirmasi positif diminta mengajak orang-orang terdekat yang pernah kontak erat untuk ikut diperiksa.
Strategi ini dinilai efektif untuk memutus rantai penularan yang sering terjadi di lingkungan rumah.
Dengan kombinasi strategi baru dan peningkatan kesadaran publik, Pemprov Lampung menargetkan dapat mengejar standar deteksi kasus TB di tingkat ASEAN.
Namun, tanpa peningkatan signifikan dalam penemuan kasus, target tersebut akan sulit tercapai meskipun tingkat keberhasilan pengobatan sudah menunjukkan hasil positif.
( Tribunlampung.co.id )