Grid.ID - Aktris muda Shalom Razade kembali berperan dalam film horor terbaru. Kali ini, ia turut memainkan film The Bell: Panggilan Untuk Mati dengan karakter yang berbeda.
Shalom memerankan sosok Isabel dalam film tersebut. Karakter ini adalah wanita yang tinggal di Belitung dan memiliki darah Belanda.
Karakter Isabel juga memiliki keterkaitan dengan sosok Penebok. Penebok dikenal sebagai hantu tanpa kepala dari mitos dan legenda urban masyarakat Belitung.
Peran Isabel sendiri membuat Shalom harus melakukan persiapan khusus. Salah satunya adalah belajar bahasa Belanda demi kebutuhan peran dan alasan mengapa ia memilih untuk menggunakan bahasa Belanda.
"Karena melihat Isabel ini, bagaimana cara dia menyampaikan pesan ke orang Belandanya, biar orang Belandanya tuh mengerti bahwa, 'Oh, ini Isabella tuh serius'," ujarnya saat berada dikawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Senin (27/4/2026).
Tidak hanya mendalami karakter, Shalom juga memberikan ide kreatif dalam pengembangan perannya. Ia mengusulkan penggunaan bahasa Belanda untuk memperkuat latar belakang karakter.
"Dan ya, of course dia (Isabel) juga keturunan Belanda gitu. Makanya aku ngasih ide, 'Pak, saya ganti ya ke bahasa Belanda'. Akhirnya nyesel, tapi nggak apa-apa," jelasnya.
Keputusan tersebut ternyata menjadi tantangan tersendiri bagi Shalom. Ia harus belajar bahasa Belanda dari nol demi totalitas perannya.
"Aduh, harus belajar sama siapa gitu ya. Tapi akhirnya terjadi karena menurut aku itu penting juga buat Isabel," kata anak Wulan Guritno ini.
Selain tantangan bahasa, cerita dalam film ini juga menjadi daya tarik tersendiri baginya. Shalom menilai sosok Penebok memiliki latar belakang yang kuat.
"Tapi kenapa awalnya aku tertarik (main film The Bell) karena ternyata si hantu Penebok ini juga ada alasan kenapa dia mengumpulkan si kepala ini," ungkapnya.
Menurut wanita berusia 27 tahun ini, karakter hantu dalam film ini tidak sekadar menghadirkan teror. Ada sisi emosional yang jarang ditemukan dalam kisah horor lainnya.
"Bukan sekadar teror-teror saja, tapi sebenarnya, 'Oh, ternyata apa hantunya ini sebenarnya punya hati'. Maksudnya dia cuma kepingin ketemu orang yang sangat dicintainya, kepingin orang itu melihat dia seutuhnya gitu. Dan aku nggak pernah melihat ini dari hantu-hantu lain gitu," jelasnya.
Shalom bahkan mengaku tersentuh saat pertama kali membaca naskah film tersebut. Ia menemukan makna mendalam di balik cerita yang diangkat.
"Dan aku juga malah jadi terharu pas baca skripnya karena, 'Oh, ternyata kenapa dia mengumpulkan kepala ini karena ada tujuannya, ada ada makna di balik itu'. Itu sih yang bikin aku tertarik sama hantu Penebok ini," pungkasnya.