Kesaksian Anak yang Ayahnya Dikeroyok hingga Tewas di Pinang Merah Kota Jambi
asto s April 27, 2026 10:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Tragedi berdarah terjadi RT 10, Pinang Merah, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi. Masalah kecil berujung hilangnya nyata seorang bapak di Kota Jambi, Indra Kusuma (39).

Seorang anak SMA dan dua temannya, tega menusuk dan membunuh Indra Kusuma.

Okta (18), anak Indra Kusuma, menuturkan runutan peristiwa itu. Kejadian bermula saat adiknya bermain di depan rumah pelaku. 

Saat itu, seekor anjing menggonggong. Lalu, anak-anak yang berada di lokasi menyebut kata anjing.

"Diduga, mamanya pelaku mengira adik kami menyebut anaknya anjing, jadi langsung marah dan mengejar adik kami," ujar Okta saat diwawancara di lokasi kejadian.

Adik Okta berlari dan bersembunyi di semak-semak karena ketakutan. 

Peristiwa itu sempat disaksikan beberapa warga.

Bagaimana peristiwa itu terjadi? Berikut petikan wawancara Reporter Tribun jambi, Rifani Halim, bersama Okta, putri dari almarhum Indra Kusuma, dalam program Saksi Kata Tribun Jambi:

Tribun Jambi: Izin, Kak. Bisa diceritakan bagaimana awal kejadian itu terjadi?

Okta: Awalnya itu masalah kecil. Adik kami sedang main sama anak-anak lain di depan rumah terduga pelaku. 

Lokasinya di jalan menuju rumah paman kami. Di bagian atas jalan itu ada anjing.

Tribun Jambi: Lalu apa yang terjadi?

Okta: Anjing itu menggonggong. Terus ada kawan adik kami yang bilang, “Ih, ada anjing.” 

Tapi mamak (ibu) dari terduga pelaku mengira adik kami mengatai anaknya anjing. Dari situ mamaknya langsung marah.

Tribun Jambi: Apa reaksi mamak (ibu) terduga pelaku saat itu?

Okta: Dia langsung mengejar adik kami dan kawan adik kami. 

Adik kami sampai lari ketakutan dan sembunyi di semak-semak.

Tribun Jambi: Apakah ada saksi yang melihat kejadian itu?

Okta: Ada. Orang-orang di bagian atas jalan itu lihat. 

Salah satunya Dewa, yang kemudian datang ke rumah kami, ke tempat paman, dan cerita kalau mamak terduga pelaku nyari-nyari adik kami sambil marah-marah.

Tribun Jambi: Adik yang dikejar itu adik kandung Kakak?

Okta: Iya, adik kandung kami.

Tribun Jambi: Setelah itu, apa yang dilakukan keluarga Kakak?

Okta: Mamak (ibu) kami (saya) mendatangi mamak terduga pelaku untuk menanyakan kejadian itu. 
Tapi mamaknya bilang dia ngomong baik-baik. 

Padahal kalau baik-baik, adik kami nggak mungkin lari sampai sembunyi.

Tribun Jambi: Lalu bagaimana situasinya berkembang?

Okta: Waktu itu ada sepupu kami yang jadi saksi. 

Terus anak dari mamak itu, yang kemudian membunuh bapak kami, menegur sepupu kami, katanya jangan ngomong macam-macam dan menyuruh duduk masing-masing. 

Nada bicaranya keras.

Tribun Jambi: Apa respons ayah Kakak saat itu?

Okta: Bapak kami menegur balik, nanya kenapa dia nyegak-nyegak atau marah-marah ke sepupu kami. 

Tapi malah bapak kami yang disegak juga sama pelaku.

Tribun Jambi: Setelah itu pelaku pergi?

Okta: Iya. Dia langsung pergi ambil motor. Setelah itu dia balik lagi ke lokasi bersama keluarganya.

Tribun Jambi: Saat kembali itu, apakah pelaku sudah membawa senjata?

Okta: Iya. Dia datang sudah bawa mandau dan pisau.

Tribun Jambi: Apa yang terjadi selanjutnya?

Okta: Begitu datang, bapak kami langsung ditusuk. Kena di bagian pinggang dan punggung.

Tribun Jambi: Apakah korban sempat melawan?

Okta: Nggak. Bapak kami nggak melawan sama sekali. 

Beliau langsung lari ke dalam rumah untuk menyelamatkan diri.

Tribun Jambi: Namun tetap dikejar?

Okta: Iya. Dikejar sampai ke dalam rumah, lalu dikeroyok. 

Kejadiannya cepat sekali.
 
Tribun Jambi: Jumlah pelaku ada berapa orang?

Okta: Tiga orang. Semuanya masih keluarga, saudara dari mamak pelaku.

Tribun Jambi: Sebelumnya ada tanda-tanda rencana?

Okta: Iya. Mamak pelaku sempat bilang, “Saudaraku marah, tunggu abang aku datang.” 

Dia juga telepon-telepon. Jadi menurut kami (saya) memang sudah ada niat.

Tribun Jambi: Usia pelaku bagaimana, Kak?

Okta: Satu masih seumuran kami (saya), masih SMA. Dua lainnya sudah dewasa.

Tribun Jambi: Yang masih SMA itu sudah diamankan?

Okta: Iya, katanya sudah ditangkap. Yang satu dewasa masih kabur. Umurnya, saya kurang tahu, tapi sudah tua.

Tribun Jambi: Kakak korban juga terluka ya?

Okta: Iya. Abang kami terluka karena berusaha melindungi bapak. 

Lukanya di tangan kiri dan kanan, bagian dada atas dekat tulang, dan kaki kanan.

Demikian petikan jurnalis Rifani Halim dalam program Saksi Kata Tribun Jambi. (Tribun Jambi/Asto)

Baca juga: Kronologi Tragedi Berdarah di Pinang Merah Kota Jambi, Anak SMA Datang Bawa Parang

Baca juga: Viral Video Kayu Hanyut di Sungai Batang Hari, Belum Ada Penjelasan Resmi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.