Lipsus: Caregiver Bermunculan di Rumah Sakit Palembang, Bantu Administrasi dan Dampingi Pasien
Odi Aria April 28, 2026 08:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG-- Munculnya jasa pendamping pasien atau caregiver non-resmi di lingkungan rumah sakit di Kota Palembang kian menjadi fenomena yang tak terelakkan.

Meski kehadirannya diakui sangat membantu keluarga pasien dalam mengurus proses administrasi, pihak rumah sakit kini menghadapi dilema.

Pasalnya, hingga saat ini, belum ada regulasi khusus yang mengatur profesi ini sebagai bagian dari sistem pelayanan kesehatan publik di Indonesia, khususnya di rumah sakit.

Sementara disisi lain, pasien dan keluarganya terkadang benar-benar membutuhkan uluran tangan untuk membereskan hal-hal terkait administrasi pasien dan lain-lain.  

Rasiman (54), warga Sumbawa, Banyuasin yang ditemui menceritakan pengalamannya mendampingi sang istri, Suyatmi (53), yang tengah menjalani pengobatan di Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang.

Dalam proses berobat yang panjang dan melelahkan, Rasiman mengaku sangat terbantu dengan kehadiran jasa caregiver.

Suyatmi diketahui menderita stroke di bagian saraf sebelah kiri yang disertai komplikasi. Penyakit tersebut telah dideritanya selama kurang lebih tujuh bulan sejak 2025.

Sebelumnya, ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit lain sebelum akhirnya dirujuk ke RSMH Palembang.

Rasiman mengungkapkan bahwa awalnya ia tidak mengenal caregiver bernama Yuri. Kontak dengan caregiver tersebut justru didapat dari anaknya melalui media sosial.

"Sebelumnya belum kenal dengan Mbak Yuri, tapi anak saya yang menghubungi lewat handphone. Anak saya tahu dari media sosial,” kata Rasiman saat diwawancarai di RSMH Palembang, Senin (27/4/2026).

Menurut Rasiman, menggunakan jasa caregiver membuat proses pengobatan menjadi lebih mudah dan efisien. Ia merasa sangat terbantu, terutama dalam mengurus berbagai tahapan pelayanan di rumah sakit.

“Lebih enak, lebih cepat. Dari awal sampai selesai dibantu, jadi sangat membantu,” katanya.

Sejauh ini, Rasiman sudah tiga kali menggunakan jasa caregiver tersebut. Ia menyebut, dalam satu kali kunjungan ke rumah sakit, mereka biasanya berangkat sejak pukul 06.00 pagi dan baru selesai pada sore hari.

Bahkan, pernah ia harus menjalani proses berobat hingga sembilan jam lamanya, sampai pukul 17.00 WIB.

Saat ini, Suyatmi masih menjalani pemeriksaan lanjutan dan tengah menunggu hasil tes darah.

Selain itu, ia juga direncanakan akan menjalani operasi batu empedu dalam waktu dekat.

Dalam kesehariannya, Rasiman yang merupakan pensiunan dari salah satu perusahaan kini beralih profesi sebagai pedagang sayuran di pasar.

Ia mengaku harus membagi waktu antara bekerja dan mendampingi istrinya berobat.

“Kalau dagangan tidak habis di pasar, saya keliling jual lagi,” tuturnya.

Seluruh biaya pengobatan Suyatmi saat ini ditanggung melalui program BPJS Kesehatan.

Sementara itu ketiga anaknya menurutnya saat ini tinggal di Sumbawa dan memiliki kesibukan masing-masing, sehingga tidak dapat selalu mendampingi.

Dengan adanya caregiver, Rasiman merasa tanggungjawabnya menjadi lebih ringan, terutama dalam mengurus proses administrasi dan pendampingan selama di rumah sakit.

Sementara itu pihak Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang (RSMH) tengah menyoroti keberadaan jasa caregiver non-resmi yang mulai muncul di lingkungan rumah sakit.

Fenomena ini dinilai memiliki sisi positif, namun juga memerlukan pengaturan agar tidak menimbulkan persoalan dikemudian hari.

Manajer Hukum dan Humas RSMH, Susilo, mengungkapkan keberadaan caregiver di RSMH Palembang memang terpantau ada dari pihak luar bukan dari RSMH Palembang.

"Adanya caregiver tersebut memiliki dampak positif karena membantu pasien dan keluarga. Selama ini belum ada komplain dari pasien," kata Susilo saat dikonfirmasi, Senin (27/4/2026).

Namun demikian, pihak rumah sakit belum dapat mengambil langkah konkret karena belum adanya regulasi yang mengatur secara khusus profesi caregiver di lingkungan pelayanan publik seperti rumah sakit.

“Kami masih melihat aturan yang ada. Di tempat lain seperti bandara atau hotel, layanan pendamping seperti ini sudah umum.

Tapi di rumah sakit, perlu penyesuaian karena menyangkut pelayanan publik,” jelasnya.

Menurutnya, pihak rumah sakit telah mulai mendiskusikan kemungkinan menghadirkan layanan caregiver. Namun memang harus dicari dulu aturannya seperti apa.

Mungkin bisa melalui skema vendor maupun bentuk kelembagaan seperti yayasan. Hal ini juga mencakup pengaturan sistem pembayaran dan pelaporan agar tetap transparan dan sesuai dengan ketentuan pemerintah.

Meski demikian, Susilo menekankan jika kedepannya layanan ini dihadirkan, orientasinya tidak boleh semata-mata mencari keuntungan.

“Harapannya lebih kepada membantu masyarakat. Jangan terlalu profit-oriented, tapi lebih ke pelayanan sosial,” tegasnya.

RSMH akan terus mengkaji wacana ini dengan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk potensi manfaat dan risiko, sebelum mengambil keputusan resmi terkait pengelolaan jasa caregiver di masa mendatang. 

Lari, Antre dan Sabar

DI TENGAH padatnya aktivitas pelayanan kesehatan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin atau RSMH Palembang, sosok Yuri dan Tiwi siap mendampingi pasien yang membutuhkan bantuan atau istilah umumnya caregiver.

Sejak pagi hari, Yuri dan rekannya Tiwi sudah berada di rumah sakit terbesar di Sumatera Selatan tersebut untuk mendampingi pasien mereka. Pada hari itu saja, Yuri menangani dua pasien sekaligus.

"Ini pasien kedua yang saya bantu, tadi sudah selesai satu. Kalau yang ini dari daerah Sumbawa,” kata Yuri saat ditemui di RSMH, Senin (27/4/2026).

Yuri ibu dua anak ini menceritakan, mengaku profesi caregiver yang ia jalani sejak 2025 berawal dari kebiasaan membantu keluarga dan kerabat yang membutuhkan pendampingan di rumah sakit.

“Saya sering mengantar keluarga, anak, saudara berobat. Dari situ saya melihat banyak pasien dari luar kota yang kesulitan karena belum memahami alur di rumah sakit yang luas ini,” jelasnya.

Berbekal pengalaman dan bimbingan rekannya di Jakarta yaitu Ari, Yuri mulai mempromosikan jasanya melalui media sosial dengan nama “Yuri Caregiver Palembang”.

Kini, ia melayani pasien dari berbagai daerah seperti dari Sumsel, Bangka, Bengkulu, Jambi dan lain-lain.

Sebagai caregiver, Yuri tidak hanya mendampingi pasien kontrol ke poli, tetapi juga membantu proses administrasi, mengambil obat, hingga mengurus pemeriksaan seperti MRI, dan lainnya sesuai kebutuhan pasien.

Dalam sehari wanita berusia 34 tahun, ia bisa bolak-balik antar lantai dan poli, bahkan hingga berlari untuk mengejar antrean.

“Kita harus sabar dan ikhlas. Kadang harus lari cari kursi roda, dorong pasien, atau bolak-balik dari lantai satu sampai tiga,” ujarnya.

Tarif jasa yang ia tawarkan berkisar Rp 30 ribu per jam, tergantung jenis layanan. Untuk pasien dengan kondisi kompleks, pendampingan bisa berlangsung seharian penuh.

Meski banyak yang ingin bergabung, Yuri mengaku tetap selektif dalam merekrut anggota tim. Ia tidak ingin kualitas pelayanan menurun dan justru merepotkan pasien.

“Kita ini jasa pelayanan, jadi harus benar-benar paham alur dan tanggung jawab. Untuk sekarang saya berteman dengan Tiwi, jadi sering gabung bersama,” katanya.

Sementara itu, Tiwi rekan seprofesi Yuri yang sama-sama berusia 34 tahun mengatakan, bahwa ia menekuni pekerjaan ini sejak 2020.

Berawal dari membantu keluarga sendiri, ia kemudian menerima permintaan dari tetangga hingga pasien luar kota.

“Awalnya dari ngurus keluarga, bapak, adik dan keluarga. Lama-lama orang lain minta tolong,” ujarnya.

Ibu tiga anak yang tinggal di kawasan Pusri ini mengaku penghasilan dari caregiver cukup membantu ekonomi keluarga. Ia juga mengatur waktu dengan membagi peran bersama keluarga di rumah.

“Anak-anak sudah cukup mandiri, jadi bisa ditinggal saat kerja,” katanya.

Tiwi menjelaskan, layanan caregiver yang ia berikan cukup beragam, mulai dari rawat jalan, rawat inap non-medis, pendampingan pasca melahirkan, hingga menjaga balita (toddler) juga bisa sesuai permintaan pasien.

Selain itu, ia juga kerap membantu kebutuhan lain seperti mencari donor darah, mengurus resep, hingga memastikan pasien mendapatkan tempat tidur yang layak.

“Kita bertanggung jawab dari awal sampai pasien pulang,” tegasnya.

Dalam sehari, Tiwi bisa menangani hingga lima pasien untuk layanan ringan seperti pendaftaran atau pengambilan obat. Namun untuk pendampingan intensif, biasanya maksimal dua pasien.

Menurut  Tiwi tantangan terbesar adalah antrean. Lalu kalau ada pasien yang membutuhkan kursi roda ataupun tempat tidur untuk mobilitas selama rawat jalan juga hari dicarikannya. Kadang harus lari-lari nyarinya.

"Kalau jadi caregiver ini kuncinya harus sabar. Menghadapi pasien seperti apapun kita harus terima dan sabar, karena kita jual jasa.

Namun kami selalu memastikan layanan yang kami berikan baik untuk pasien," katanya.

Sementara itu untuk pengalaman pernah mendampingi pasien namun akhirnya pasien tersebut meninggal juga pernah. "Rasanya sedih kalau lihat pasien meninggal. Kalau kita  bantu dan berusaha yang terbaik saja," katanya.

Untuk menjangkau lebih banyak pasien, keduanya memanfaatkan media sosial. Yuri dikenal melalui akun “Yuri Caregiver Palembang”, sementara Tiwi melalui “Wie Caregiver Palembang”.

Melalui platform tersebut, mereka menerima berbagai permintaan, baik pendampingan langsung maupun layanan online seperti pendaftaran dan konsultasi jadwal medis.

Di tengah kompleksitas layanan rumah sakit modern, kehadiran caregiver seperti Yuri dan Tiwi menjadi solusi nyata bagi pasien, khususnya mereka yang datang dari luar daerah dan membutuhkan pendampingan ekstra.

Beda dengan Relawan
Berbeda dengan Yuri dan Tiwi, Rozi Samsaris (52) juga telah dikenal oleh masyarakat sebagai relawan bagi pasien rujukan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin atau RSMH Palembang dari pelosok daerah.

Namun ia tak sepenuhnya bisa mendampingi pasien di rumah sakit lantaran ia memiliki pekerjaan lain sebagai anggota Sat Pol PP Sumsel.

"Di rumah sakit banyak orang yang butuh bantuan, dan membantunya juga beragama. Kalau saya relawan, maka membantunya gratis bagi yang tidak mampu," kata Ozi sapaan akrabnya, Senin (27/4/2026).

Menurutnya, sebagai relawan yang memiliki pekerjaan sehari-hari sebagai Pol PP, ia tidak bisa menemani pasien dari awal sampai akhir.

Namun ia tetap bisa membantu saat sengang ataupun koordinasi via telepon.

"Kalau yang butuh bantuan dari awal sampai akhir bisa menggunakan caregiver seperti Yuri dan Tiwi, yang memang bersedia menemani pasien dengan tarif yang menyesuaikan," katanya.

Menurutnya, kalau relawan dan jasa caregiver memang beda. Namun tujuannya sama-sama membantu masyarakat.

Biasanya yang menggunakan caregiver itu memang yang punya uang, tapi memiliki kesibukan sehingga dibutuhkan jasa caregiver untuk membantu keluarganya yang sedang berobat.

Dedikasi Rozi membantu sesama sudah dimulai sejak tahun 2000, berawal dari mendampingi warga asal daerahnya, Bengkulu, yang kebingungan saat dirujuk ke rumah sakit di Palembang.

Seiring berjalannya waktu tepatnya sejak 2015, aksi kemanusiaannya meluas setelah ia aktif menggunakan media sosial Facebook dengan akun @Rozi Sam.

Rozi yang tergabung di Rumah Singgah Relawan Pasien Rujukan mengatakan, ia melakukan berbagai bentuk bantuan yang menyentuh langsung kebutuhan pasien.

"Di rumah singgah gratis bagi pasien rujukan yang tidak mampu, lengkap dengan fasilitas antar-jemput ke rumah sakit," katanya.

Tidak hanya itu, Rozi juga aktif dalam kegiatan donor darah gratis, membantu mencarikan stok darah bagi pasien yang membutuhkan, tanpa imbalan apa pun.

Ia bahkan kerap membantu pasien terlantar, serta memberikan bantuan uang atau ongkos bagi pasien yang ingin pulang ke daerah asalnya namun tidak memiliki biaya.

“Apapun keluhan pasien, kita tampung dan kita respon secepat mungkin. Mulai dari ambilkan obat sampai kirim ke pasien, semuanya kita usahakan,” kata Rozi.

Menurutnya, mayoritas pasien yang ia bantu adalah penderita penyakit serius seperti kanker, tumor, gagal ginjal, hingga lupus yang memerlukan perawatan rutin di Palembang.

Banyak dari mereka berasal dari daerah terpencil dan mengalami kesulitan, baik dari segi biaya maupun pemahaman dalam mengurus administrasi rumah sakit yang kini serba digital.

“Banyak yang bingung saat sampai di rumah sakit besar. Mereka tidak tahu harus ke mana, bagaimana mengurusnya. Di situlah kami hadir untuk membantu,” jelasnya.

Kepedulian Rozi tidak muncul tanpa alasan. Ia mengaku sering merasa sedih melihat langsung penderitaan pasien, terutama mereka yang bahkan kesulitan untuk makan dan terpaksa berbagi makanan seadanya. Pengalaman itu semakin menguatkan tekadnya untuk terus membantu. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.