Guru Besar STIA LAN Bandung: Kualitas Kebijakan Publik Tak Optimal Jika Meritokrasi Masih Lemah
Muhamad Syarif Abdussalam April 28, 2026 08:30 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Prof. Septiana Dwiputrianti resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Kepakaran Kebijakan dan Governansi Publik di Politeknik STIA LAN Bandung.

Dalam kepakarannya, Prof. Septiana menekankan bahwa kebijakan publik bukan hanya soal regulasi, tetapi menyangkut bagaimana negara mengelola sumber daya demi kepentingan masyarakat. 

Sebagai institusi di bawah Lembaga Administrasi Negara (LAN), Politeknik STIA LAN memiliki mandat strategis, salah satunya membina jabatan fungsional analis kebijakan.

“Substansi kebijakan publik ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas kebijakan, baik di tingkat nasional maupun daerah,” ujar Prof. Septiana saat ditemui di STIA LAN, Jalan Hayam Wuruk, Sabtu (25/4/2026).

Menurutnya, kualitas kebijakan tidak bisa dilepaskan dari sistem meritokrasi dalam birokrasi. 

Ia menilai, penerapan meritokrasi di Indonesia saat ini masih jauh dari optimal, meskipun arah menuju sistem tersebut sudah mulai terbentuk.

“Meritokrasi adalah nilai mendasar dalam mengelola pemerintahan karena berkaitan langsung dengan kinerja dan akuntabilitas aparatur sipil negara,” katanya.

Ia menjelaskan, tanpa sistem merit yang kuat, pengelolaan sumber daya negara berisiko dipengaruhi oleh kepentingan politik dan praktik yang tidak profesional. Padahal, ASN memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola anggaran dan sumber daya publik.

Namun, membangun meritokrasi bukan perkara instan. Prof. Septiana menekankan pentingnya internalisasi nilai, etika, dan integritas sejak dini. Ia bahkan mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru muncul ketika nilai-nilai tersebut tidak tercermin dari para pimpinan.

“Bagaimana nilai itu bisa tumbuh kalau pimpinan tidak memberikan contoh?” ujarnya.

Selain meritokrasi, Prof. Septiana juga menyoroti pentingnya kesiapan ASN dalam menghadapi era disrupsi digital. Ia menilai, kemampuan adaptasi terhadap teknologi kini menjadi kebutuhan mutlak, bukan lagi pilihan.

“Kita berada di era disruptif, mau tidak mau, suka tidak suka, perubahan harus dilakukan. ASN harus melek digital,” tegasnya.

Menurutnya, kepemimpinan di sektor publik saat ini tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi substantif, tetapi juga harus mampu membaca dan merespons perkembangan teknologi. 

Hal ini menjadi krusial dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik.

Dalam kajiannya, Prof. Septiana juga menemukan bahwa besarnya anggaran tidak selalu berbanding lurus dengan hasil pembangunan. Ia menilai, persoalan utama justru terletak pada tata kelola dan pemanfaatan anggaran.

“Kadang anggaran besar, tapi dampaknya tidak signifikan. Artinya, masalahnya bukan pada jumlah anggaran, tapi pada bagaimana anggaran itu dikelola,” jelasnya.

Ia menambahkan, bahkan desain kebijakan yang baik pun tidak akan menghasilkan dampak optimal jika dijalankan oleh sumber daya manusia yang tidak memiliki integritas dan akuntabilitas.

“Desain policy bisa saja sudah benar, tapi kalau dijalankan oleh ASN yang tidak amanah, hasilnya tetap tidak optimal,” katanya.

Untuk itu, ia menawarkan konsep meritokrasi adaptif yang menekankan pentingnya integrasi berbagai aspek, mulai dari desain kebijakan, penganggaran, hingga pemanfaatan teknologi. Ia juga menegaskan bahwa pembangunan tidak bisa dilakukan secara parsial.

“Harus ada kolaborasi antar aktor, tidak hanya pemerintah, tapi juga swasta dan masyarakat,” ujarnya.

Terkait pembangunan di Jawa Barat, Prof. Septiana menilai provinsi ini memiliki potensi besar, baik dari sisi sumber daya maupun pertumbuhan ekonomi. 

Namun, ia mengingatkan bahwa potensi tersebut harus dioptimalkan melalui kepemimpinan yang akuntabel dan mampu memanfaatkan kekuatan yang ada.

“Kita tidak bicara benar atau salah, tapi sejauh mana akuntabilitas pimpinan dalam membawa Jawa Barat menjadi lebih baik,” katanya.

Di balik capaian akademiknya, Prof. Septiana juga membagikan refleksi personal sebagai seorang perempuan yang berhasil mencapai posisi guru besar. 

Ia menekankan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, melainkan melalui komitmen, konsistensi, dan dukungan dari banyak pihak.

“Capaian itu tidak ada yang sifatnya solo. Ini adalah hasil dari collective action,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara karier, kesehatan fisik, dan kehidupan keluarga. Menurutnya, dukungan keluarga menjadi faktor kunci dalam perjalanan kariernya.

“Tanpa dukungan suami, anak, dan keluarga, saya mungkin tidak bisa sampai di titik ini,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.