TRIBUNKALTIM.CO - Info terkini seputar kecelakaan kereta hari ini di Bekasi kembali menyita perhatian publik setelah insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/4/2026).
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) PT Kereta Api Indonesia, Bobby Rasyidin, menyampaikan pembaruan data korban pada Selasa pagi (28/4/2026).
Hingga saat ini tercatat 7 orang meninggal dunia dan 81 orang luka-luka yang telah dievakuasi serta mendapatkan penanganan medis.
Proses evakuasi dilakukan secara hati-hati oleh tim gabungan dari Basarnas, PMI, kepolisian, dan petugas KAI.
Baca juga: Daftar 19 Perjalanan Kereta Jarak Jauh yang Dibatalkan Imbas Tabrakan di Bekasi Timur
Seluruh rangkaian kereta turut diperiksa untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal di dalam gerbong.
Berdasarkan keterangan awal di lapangan, seperti dilansir Kompas.com, insiden bermula dari gangguan di perlintasan sebidang yang diduga melibatkan sebuah taksi berwarna hijau.
Kejadian tersebut disebut memicu terganggunya perjalanan kereta di sekitar Stasiun Bekasi Timur.
Seorang penumpang menyebutkan bahwa KRL sempat berhenti di stasiun setelah sebelumnya terjadi insiden di jalur perlintasan.
Tidak lama kemudian, dari arah belakang melaju KA Argo Bromo Anggrek yang kemudian menabrak rangkaian KRL tersebut.
Benturan keras menyebabkan sejumlah gerbong mengalami kerusakan dan kondisi perjalanan di lintasan tersebut menjadi terganggu.
Pihak KAI menegaskan bahwa penyebab pasti kecelakaan masih dalam proses investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Imbas insiden tersebut, operasional KRL Commuter Line mengalami penyesuaian.
Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menjelaskan bahwa perjalanan KRL lintas Jakarta–Cikarang sementara hanya dilayani sampai Stasiun Bekasi.
Sementara itu:
Pihak KAI Commuter mengimbau penumpang untuk menyesuaikan jadwal perjalanan dan mengikuti informasi resmi dari petugas di lapangan.
Terkait insiden ini, manajemen taksi listrik Green SM Indonesia menyampaikan bahwa pihaknya telah menyerahkan informasi yang relevan kepada pihak berwenang serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung.
Dalam pernyataan resminya, seperti dilansir Kompas.com, Green SM menegaskan bahwa keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam seluruh operasionalnya.
Perusahaan juga berkomitmen untuk terus meningkatkan standar keamanan melalui sistem operasional dan pengawasan yang berkelanjutan.
Green SM menyatakan akan terus memperbarui informasi resmi seiring tersedianya data yang telah diverifikasi oleh pihak berwenang.
Tahun 2025 lalu, Manager Humas KAI Daop 4 Semarang yang saat itu dijabat Franoto Wibowo menjelaskan, istilah tertemper digunakan untuk menggambarkan adanya benturan atau kecelakaan antara kereta api dengan kendaraan atau warga.
"Setiap temperan yang terjadi bukan hanya berdampak pada korban, tetapi juga keselamatan perjalanan kereta api yang membawa banyak nyawa," kata Franoto dalam keterangannya yang diterima Kompas.com, Sabtu (2/8/2025).
Franoto mengatakan, mayoritas kecelakaan tersebut terjadi akibat kelalaian warga yang tidak mematuhi aturan keselamatan di jalur kereta api.
"Keselamatan perjalanan kereta api adalah prioritas yang harus dijaga bersama, karena satu kelalaian kecil dapat berakibat fatal dan menelan korban jiwa dalam jumlah yang banyak," ujarnya.
Baca juga: Kisah Penumpang Selamat dari Tabrakan Kereta di Bekasi karena Sempat Turun
Ia menjelaskan, kecepatan perjalanan kereta api di wilayah Daop 4 Semarang saat ini sudah mencapai rata-rata 120 kilometer per jam.
Meski menjadi kemajuan dari sisi efisiensi layanan, kecepatan tinggi ini membuat jarak pengereman semakin panjang sehingga kereta nyaris mustahil berhenti mendadak jika ada halangan.
"Masyarakat harus memahami, dalam situasi ini keselamatan bergantung pada sikap disiplin dan kewaspadaan mutlak setiap individu," kata Franoto.
Untuk menekan angka kecelakaan, KAI Daop 4 terus melakukan sosialisasi keselamatan lewat berbagai media, mulai dari tatap muka hingga kampanye di media sosial.
"Pesannya sederhana, keselamatan di jalur kereta api adalah tanggung-jawab kita, jangan beraktifitas di area jalur KA. Di pelintasan sebidang KA, ketika melewati pelintasan sebidang, selalu pastikan kemanan dengan menengok kiri dan kanan sebelum melintas," lanjut Franoto.
Ia berharap masyarakat benar-benar menjadikan keselamatan sebagai kesadaran kolektif.
"Di balik setiap klakson panjang kereta, ada tangisan keluarga yang tak ingin kehilangan. Di balik setiap perjalanan kereta, ada harapan banyak orang yang ingin tiba di tujuan dengan selamat," ucapnya saat itu.