PROHABA.CO - Kecelakaan kereta api di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/4/2026) kembali menyeret perhatian publik pada keberadaan taksi listrik Green SM.
Kendaraan tersebut diduga menjadi pemicu awal rangkaian insiden fatal yang melibatkan KRL Commuter Line dan Kereta Api Argo Bromo Anggrek, hingga menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar serta gangguan operasional perkeretaapian.
Peristiwa di Bekasi Timur itu bukan yang pertama melibatkan taksi listrik dengan moda kereta api.
Berdasarkan catatan, setidaknya terdapat tiga insiden serupa yang terjadi dalam kurun waktu 2025 hingga 2026.
Insiden pertama terjadi pada 10 Oktober 2025, ketika sebuah taksi Xanh SM terserempet KRL di perlintasan antara Stasiun Bojong Indah dan Taman Kota, Cengkareng, Jakarta Barat.
Meski kendaraan rusak di bagian depan, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Insiden kedua terjadi pada 31 Desember 2025, sebuah taksi listrik Green SM kembali terlibat kecelakaan di Kemayoran, Jakarta.
Dalam video yang beredar, mobil terlihat berada di dalam palang perlintasan dan tertabrak kereta hingga bagian depan rusak parah.
Beruntung, tidak ada korban jiwa.
Puncak tragedi terjadi di Bekasi Timur pada 27 April 2026.
Dalam kejadian ini, sebuah taksi listrik Green SM diduga mogok di tengah rel perlintasan sebidang.
Kondisi tersebut menyebabkan KRL yang melaju dari arah Cikarang tidak dapat menghindar dan menabrak kendaraan tersebut.
Benturan itu kemudian memicu tabrakan beruntun ketika rangkaian KRL yang terdampak dihantam dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.
Insiden ini dilaporkan menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai 84 lainnya.
Baca juga: Tabrakan Maut KA Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi Timur, Dua Tewas dan Puluhan Luka
Tragedi tersebut juga memicu gelombang kritik terhadap pernyataan resmi Green SM Indonesia.
Klarifikasi yang disampaikan melalui media sosial dinilai tidak menunjukkan empati karena tidak disertai permintaan maaf atau belasungkawa kepada korban.
Dalam pernyataannya, perusahaan hanya menegaskan komitmen untuk mendukung investigasi dan menjadikan keselamatan sebagai prioritas.
Klarifikasi yang dirilis melalui akun Instagram resmi @id.greensm pada Selasa (28/4/2026) dini hari dinilai minim empati karena tidak memuat permintaan maaf maupun belasungkawa kepada korban.
Insiden tragis yang terjadi di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam itu menewaskan lima orang dan menyebabkan puluhan lainnya luka-luka.
Peristiwa bermula dari sebuah taksi listrik milik Green SM yang mogok di perlintasan sebidang.
Langkah perusahaan yang menutup kolom komentar di media sosial semakin memperkeruh suasana.
Banyak warganet menilai sikap tersebut sebagai bentuk penghindaran tanggung jawab moral di tengah duka mendalam para korban.
Kritik publik semakin meluas karena insiden ini dianggap bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan berkaitan dengan keselamatan sistem transportasi publik.
Sementara itu, data korban terus diperbarui.
Hingga Selasa (28/4/2026) pagi, total korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 14 orang, sementara 84 lainnya mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan di berbagai rumah sakit di wilayah Bekasi.
Baca juga: Dugaan Pelecehan Tahanan Perempuan di Polrestabes Medan, Tiga Polisi Diperiksa Propam
VP Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia (Persero), Anne Purba, menyampaikan bahwa proses penanganan korban masih terus berlangsung. “Proses penanganan masih berlangsung,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, memastikan bahwa seluruh biaya pengobatan korban luka serta pemakaman korban meninggal dunia akan ditanggung oleh pihak asuransi dan KAI.
Penanganan korban luka dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya RSUD Bekasi, RS Siloam Bekasi Timur, RS Mitra Keluarga Bekasi Timur, serta beberapa rumah sakit lainnya.
Selain fokus pada korban, KAI juga mengamankan barang-barang milik penumpang yang ditemukan di lokasi kejadian.
Seluruh barang tersebut kini berada di layanan lost and found dan dikelola bersama pihak kepolisian guna mendukung proses identifikasi.
Kecelakaan ini bermula terjadi pada Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.52 WIB ketika KRL Commuter Line menabrak taksi listrik yang mogok di perlintasan sebidang kawasan Bulak Kapal, Bekasi Timur.
Tak lama setelah itu, rangkaian KRL tersebut ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah berlawanan.
Kombinasi dua benturan keras inilah yang menyebabkan dampak besar dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah signifikan.
Saat ini, aparat berwenang masih melakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti insiden serta mengevaluasi sistem keselamatan di perlintasan sebidang.
Peristiwa ini menjadi salah satu kecelakaan kereta paling serius dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia dan kembali menyoroti pentingnya keselamatan transportasi di jalur perlintasan aktif.
Baca juga: Tragedi Tebing Tinggi: 9 Penumpang Minibus Tewas Terseret Kereta Api di Perlintasan Tanpa Palang
Baca juga: Ibu dan Dua Anak Tewas Tersambar Kereta Api Harina di Pekalongan
Baca juga: Tabrakan Toyota Hiace vs Truk Fuso di Aceh Selatan, 2 Luka Berat dan 3 Luka Ringan