TRIBUNSUMSEL.COM - Kepergian Nuryati (63) dalam kecelakaan maut KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur meninggalkan duka yang teramat dalam bagi keluarganya.
Di balik duka tersebut, terselip fakta pilu, Nuryati berpulang tepat saat dirinya tengah mempersiapkan hari pernikahan untuk putri bungsunya.
Tetangga korban, Ustazah Dewi Ani, mengungkapkan bahwa rencana pernikahan tersebut seharusnya digelar sekitar dua pekan lagi.
“Anaknya banyak, perempuan-perempuan kalau enggak salah. Malah mau nikahin, kalau enggak salah dua minggu lagi mau nikahin anaknya yang bungsu. Kasihan gitu,” ungkap Dewi Ani, di rumah duka Nuryati, Jalan Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026), dilansir dari Tribunnews.com.
Baca juga: 7 Orang Tewas, Detik-Detik Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, Berawal KRL Versus Taksi
Menurutnya, perjuangan Nuryati sebagai seorang ibu sangat luar biasa dalam membesarkan anak-anaknya hingga tumbuh menjadi pribadi yang baik.
“Jadi perjuangannya, fighting-nya luar biasa. Anaknya juga aku lihat sih jadi orang-orang,” ujarnya.
Niat tulus untuk melihat sang anak bersanding di pelaminan kini terkubur bersama jasadnya. Nuryati menjadi salah satu dari 14 korban tewas yang dievakuasi dari gerbong wanita yang hancur dalam insiden Senin (27/4/2026) malam tersebut.
Di mata tetangga, Nuryati dikenal sebagai sosok yang sederhana namun memiliki dedikasi tinggi dalam kehidupan beragama.
Dia aktif mengikuti pengajian dan tetap istikamah meski sempat mengalami sakit.
“Jadi beliau itu hidupnya rajin ngaji di mana-mana. Memang beliau sempat sakit ya, ada jantung, terus sembuh, sakit lagi, tapi ngajinya rajin ke mana pun dia pergi,” ujarnya.
Selain itu, Nuryati juga tercatat sebagai pengurus Muslimat NU di tingkat Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kemayoran, khususnya di bidang dakwah.
Keterlibatannya dalam organisasi menjadi bentuk pengabdian yang konsisten.
“Dan beliau termasuk pengurus Muslimat NU di PAC, Anak Cabang Kemayoran, bidang dakwah. Itu pengabdian beliau,” ujar Dewi Ani.
Baca juga: Sosok Nur Ainia Eka Rahmadhynna, Karyawati KompasTV Tewas Kecelakaan KA Argo Bromo Vs KRL Bekasi
Diungkapkan Dewi, Nuryati dikenal sebagai pribadi yang kalem, tidak banyak bicara, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekitar.
“Beliau itu termasuk orang baik, tidak banyak bicara. Tetangga dengan tetangga care. Pokoknya orang baik deh, ibu-ibu yang salehah, akhlaknya baik,” katanya.
Dewi juga menggambarkan Nuryati sebagai sosok yang santun dan patuh kepada guru.
“Dia tidak comel, tidak cerewet, kalem. Terus sama guru, ‘Iya Bu, iya Ustazah’, iya-iya aja pokoknya gitu,” ucapnya.
Bagi Dewi Ani, kepergian Nuryati menjadi duka mendalam, terlebih di saat ia tengah menyiapkan momen bahagia bagi keluarganya.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, Nuryati sempat melontarkan kalimat yang penuh kebingungan terkait insiden yang dialaminya.
Ia seolah tidak menyadari bahwa di depan matanya sebuah bahaya besar sedang mengintai.
Hal itu diutarakan korban sesaat setelah Nuryati berhasil dievakuasi dari dalam gerbong, sebelum akhirnya pingsan dan meninggal dunia.
“Sempat setelah keluar dari kereta beliau mengucapkan, ‘Ini ada apa?’, lalu pingsan dan akhirnya meninggal dunia,” ujar menantu korban, Andi Ayubi (39), di rumah duka di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026), dilansir dari Wartakotalive.com.
Nuryati merupakan satu dari belasan korban meninggal dunia yang mayoritas berada di gerbong wanita.
Seperti diketahui, gerbong khusus tersebut mengalami kerusakan paling parah karena dihantam langsung oleh lokomotif kereta jarak jauh.
Korban diketahui tengah melakukan perjalanan dari Stasiun Bekasi menuju Cikarang untuk mengunjungi anaknya. Ia berangkat bersama anak dan cucunya yang masih berusia lima tahun.
"Jadi untuk kronologinya, Senin malam, ya, kebetulan saya sebagai menantu, dan mertua itu ada rencana ingin menengok anaknya, adik istri saya yang di Cikarang," tuturnya.
"Cucunya itu usia 5 tahun, kalau adik istri itu mamanya si cucu ini usia 30 tahun. Kalau mertua usianya 63 tahun," lanjut dia.
Dijelaskan Andi, anak dan cucu Nuryati yang berusia lima tahun berhasil dievakuasi lebih awal melalui jendela.
“Karena usia beliau sudah 63 tahun, mungkin proses evakuasinya lebih sulit. Beliau dievakuasi terakhir,” jelas Andi.
Anak dan cucu Nuryati mengalami trauma dan masih dalam kondisi panik saat menghubungi keluarga.
“Awalnya kami ditelepon, dibilang mama pingsan. Kami bingung. Sekitar satu jam kemudian baru ada kabar kalau beliau sudah meninggal,” ujarnya.
Jenazah Nuryati rencananya akan dimakamkan di TPU Karet Tengsin usai salat zuhur.
Informasi terbaru, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno akan datang ke rumah duka sebelum zuhur.
Sementara jenazah saat ini sedang dimandikan.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, mengungkapkan bahwa insiden ini diduga bermula dari KRL yang menabrak mobil lstrik VinFast taksi hijau di perlintasan.
Dia menduga insiden di perlintasan tersebut menjadi salah satu faktor yang berujung pada tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL.
“Kejadian ini dimulai dengan adanya temperan taksi hijau di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplacement Bekasi Timur ini agak terganggu,” ucapnya di Stasiun Bekasi Timur, dilansir dari Kompas.com.
Akibat insiden itu, perjalanan KRL terganggu dan rangkaian kereta harus berhenti di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur.
Sejumlah penumpang disebut sempat panik karena kereta mendadak berhenti cukup lama.
Taksi yang tertemper KRL tersebut juga menyebabkan gangguan pada sistem persinyalan atau gangguan operasional.
Akibatnya, KA Argo Bromo Anggrek rute Gambir-Surabaya Pasarturi tetap melaju dengan kencang sehingga tabrakan pun tidak dapat dihindari dan menghantam gerbong paling belakang KRL dengan keras.
Gerbong yang terkena benturan paling parah merupakan kereta khusus wanita.
Sejumlah penumpang di dalamnya kesulitan mengevakuasi diri karena akses keluar tertutup bangku dan bagian gerbong yang rusak.
Ambulans telah disiagakan di area parkir Stasiun Bekasi Timur, sementara korban luka dievakuasi menggunakan tandu oleh petugas.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penyebab pasti kecelakaan masih menunggu hasil investigasi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Jumlah korban tewas dalam kecelakaan tragis antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur terus bertambah.
Hingga Selasa (28/4/2026) pukul 08.45 WIB, tercatat sebanyak 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.
Informasi ini disampaikan oleh Anne Purba selaku VP Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia.
"Update 08.45 WIB, korban meninggal dunia 14, korban luka 84 orang," ujar Anne Purba dalam pernyataannya, Selasa(28/4/2026).
Anne Purba juga memastikan bahwa Masinis KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak Commuter Line dari belakang dilaporkan selamat seusai insiden maut tersebut.
KAI juga menyampaikan bahwa barang-barang milik pelanggan yang ditemukan di lokasi kejadian telah diamankan dan saat ini berada di layanan lost and found.
Pendataan dan pengelolaan barang tersebut dilakukan secara terkoordinasi bersama pihak kepolisian untuk mendukung proses identifikasi dan kebutuhan penanganan lebih lanjut.
Informasi awal menyebutkan sejumlah kru kereta meninggal dunia, namun belum dipastikan apakah seluruhnya berasal dari KRL atau sebagian dari tim masinis KA Argo Anggrek.
Selain itu, seorang petugas Customer Service on Train (CSOT) dilaporkan menjadi korban, serta tiga penumpang mengalami luka karena terjepit rangkaian.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com