TRIBUNTORAJA.COM, RANTEPAO - Sekretaris Daerah (Sekda) Toraja Utara, Salvius Pasang, menegaskan pentingnya menghidupkan kembali budaya bertutur di tengah masyarakat khususnya di kalangan pelajar.
Hal tersebut ia sampaikan dalam sambutan sebelum membuka lomba bertutur tingkat Sekolah Dasar (SD) se-Toraja Utara di aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Toraja Utara, Sulsel, Selasa (28/4/2026).
Lomba bertutur adalah ajang kompetisi yang menilai kemampuan peserta dalam menyampaikan cerita secara lisan dengan menarik, runtut, dan ekspresif.
Peserta tidak sekadar membaca, tetapi menceritakan kembali sebuah cerita dengan gaya sendiri.
Sekda juga menyampaikan harapan agar kegiatan tersebut berjalan lancar dan membawa manfaat.
Menurut Sekda, lomba bertutur bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan sarana untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Toraja yang kental dengan tradisi lisan.
Ia mengungkapkan saat ini perubahan cara berkomunikasi generasi muda yang dinilai mulai mengalami penurunan kesantunan, utamanya yang sering dilihat di media sosial.
"Budaya Toraja adalah budaya tutur. Namun saat ini kita melihat cara bertutur anak-anak mulai berubah. Ini yang harus kita benahi bersama," ujarnya.
Ia berharap seluruh sekolah dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan serupa, serta menjadikan lomba ini sebagai awal pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah.
Peran guru dan orang tua dinilai sangat penting dalam membimbing anak-anak untuk bertutur dengan santun.
Sekda mengingatkan penggunaan gawai yang berlebihan di kalangan anak-anak, akan berdampak pada kesehatan dan interaksi sosial.
Ia mengajak semua pihak untuk mengendalikan penggunaan teknologi tanpa harus melarang sepenuhnya.
"Teknologi tidak bisa dihindari, tapi harus dikendalikan. Anak-anak perlu diarahkan agar tetap belajar budaya dan menjaga kesehatan," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Toraja Utara, Yonatan Manturino, menjelaskan bahwa kegiatan lomba bertutur merupakan bagian dari program pembudayaan gemar membaca yang telah direncanakan sejak tahun sebelumnya.
Dimana kegiatan ini menyasar siswa kelas IV dan V SD serta madrasah.
Yang tujuannya, menjadikan generasi muda sebagai pelopor dalam meningkatkan minat baca di daerah.
"Kami ingin anak-anak menjadi pionir dalam menumbuhkan budaya membaca. Dengan membaca, wawasan akan terbuka luas," jelasnya.(*)