5 Daerah di Kalimantan Timur dengan Minat Membaca Buku Paling Rendah 2025
Briandena Silvania Sestiani April 28, 2026 06:12 PM

TRIBUNKALTIM.CO - Berikut tingkat kegemaran membaca buku masyarakat Kalimantan Timur, daerah mana yang minat bacanya paling rendah?

Indikator ini tidak hanya menggambarkan kebiasaan membaca semata, tetapi juga mencerminkan kualitas sumber daya manusia (SDM), termasuk kemampuan berpikir kritis dan daya serap informasi di suatu daerah.

Dalam kajian literasi, indikator ini biasanya diukur melalui frekuensi membaca (seberapa sering seseorang membaca), durasi membaca (lama waktu membaca), jumlah bahan bacaan yang dikonsumsi, hingga akses terhadap sumber informasi seperti internet.

Baca juga: 5 Daerah di Kalimantan Timur Paling Gemar Membaca Buku 2025

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengolah Survei Tingkat Kegemaran Membaca dari Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa tingkat minat baca nasional tahun 2025 berada di angka 54,80 persen.

Angka ini menurun cukup signifikan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 72,44 persen.

Penurunan tersebut turut berdampak pada posisi Kalimantan Timur secara nasional.

Jika pada tahun 2024 provinsi ini masih mencatat skor 69,53, maka pada 2025 angkanya turun menjadi 57,86 persen, menempatkannya di peringkat ke-21 secara nasional.

Kondisi ini menunjukkan adanya dinamika dalam perilaku membaca masyarakat, baik karena perubahan metode pengukuran maupun faktor sosial lainnya yang memengaruhi kebiasaan literasi.

Posisi Kalimantan Timur Secara Nasional

Dalam daftar provinsi dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi tahun 2025, Kalimantan Timur berada di posisi ke-21 dengan skor 57,86 persen.

Posisi ini menempatkannya di bawah sejumlah provinsi lain seperti Kalimantan Barat (59,85 persen) dan Sulawesi Selatan (59,84 persen).

Sementara itu, posisi teratas ditempati oleh Nusa Tenggara Timur dengan angka 62,05 persen, disusul Nusa Tenggara Barat (61,19 persen) dan Sumatera Selatan (60,86 persen).

Sebaliknya, beberapa provinsi berada di posisi bawah seperti Papua Barat (50,77 persen) dan Sulawesi Barat (48,63 persen).

Penurunan posisi Kalimantan Timur dari tahun sebelumnya menjadi perhatian, mengingat pada 2024 provinsi ini masih berada dalam kategori cukup kompetitif di tingkat nasional.

Perbandingan dengan Tahun 2024

Jika melihat data tahun sebelumnya, terjadi perubahan signifikan dalam peta literasi nasional.

Pada 2024, DI Yogyakarta sempat menjadi provinsi dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi dengan skor 79,99 persen.

Namun pada 2025, posisi DI Yogyakarta justru merosot ke peringkat 30 dengan angka 55,44 persen.

Perubahan ini menunjukkan bahwa tingkat literasi masyarakat bersifat dinamis dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan metode survei.

Kalimantan Timur sendiri mengalami penurunan dari 69,53 persen pada 2024 menjadi 57,86 persen di 2025, yang berarti terjadi penurunan lebih dari 10 poin.

Daftar Tingkat Kegemaran Membaca di Kaltim 2025

Secara regional, berikut gambaran tingkat kegemaran membaca di kabupaten/kota di Kalimantan Timur:

1 .Bontang: 60,47 persen

2. Balikpapan: 58,76 persen

3. Samarinda: 58,55 persen

4. Paser: 58,18 persen

5. Kutai Timur: 57,76 persen

6. Berau: 57,65 persen

7. Kutai Kartanegara: 57,02 persen

8. Penajam Paser Utara: 55,88 persen

9. Kutai Barat: 55,53 persen

10. Mahakam Ulu: data tidak tersedia
 
5 Daerah dengan Minat Membaca Paling Rendah di Kaltim 2025

Berdasarkan data tersebut, berikut lima daerah dengan tingkat kegemaran membaca paling rendah di Kalimantan Timur tahun 2025:

  • Kutai Barat – 55,53 persen
  • Penajam Paser Utara – 55,88 persen
  • Kutai Kartanegara – 57,02 persen
  • Berau – 57,65 persen
  • Kutai Timur – 57,76 persen

Kelima wilayah ini berada di bawah rata-rata beberapa kota besar di Kaltim seperti Bontang dan Balikpapan.

Makna Angka Literasi bagi Pembangunan Daerah

Tingkat kegemaran membaca tidak hanya berkaitan dengan dunia pendidikan, tetapi juga memiliki dampak luas terhadap pembangunan daerah.

Wilayah dengan tingkat literasi tinggi umumnya memiliki masyarakat yang lebih adaptif terhadap perubahan, mampu menyerap informasi dengan baik, serta memiliki daya saing lebih tinggi.

Sebaliknya, daerah dengan tingkat kegemaran membaca yang relatif rendah berpotensi menghadapi tantangan dalam peningkatan kualitas SDM. Hal ini dapat berdampak pada sektor ekonomi, sosial, hingga inovasi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.