WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Shofiah (32) seharusnya melakukan perjalanan biasa pada Senin (27/4/2026) malam.
Bersama Nuryati (62) dan Putri, ibu dan anak perempuannya berumur lima tahun, Shofiah berangkat menuju Cikarang untuk mengunjungi keluarga.
Namun, malam itu takdir berkata lain.
Dalam hitungan detik, perjalanan itu berubah menjadi tragedi yang merenggut nyawa orang yang paling dicintainya.
Baca juga: Karyawan Kompas TV Meninggal Akibat Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur
KRL Commuter Line yang mereka tumpangi melaju dalam rutinitas malam, hingga pukul 20.50 WIB, suasana mendadak berubah.
Dari peron sebelah, terdengar kabar KRL rute Cikarang-Bekasi dilaporkan menabrak mobil taksi listrik.
Taksi itu tertemper KRL di perlintasan kereta api di Jalan Ampera, Kota Bekasi, hingga diduga menyebabkan dua kereta tabrakan di Stasiun Bekasi Timur.
Belum sempat penumpang memahami situasi, hantaman keras mengguncang KRL yang ditumpangi Shofiah.
Baca juga: Sopir Taksi Green SM Diamankan di Polres Metro Bekasi Kota usai Kendaraannya Tertabrak KRL di Bekasi
KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi menabrak bagian belakang KRL atau gerbong wanita yang berhenti di peron 2 Stasiun Bekasi Timur.
"Saya dampingi mama ke rumah kembaran saya, berangkat jam tujuh malam dari rumah, terus kereta jalan jam delapan arah ke Cikarang," kata Shofiah di rumah duka, Jalan Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026).
"Dalam perjalanan, sekitar jam 9-an, kereta di peron sebelah mengalami kecelakaan, tabrakan, enggak lama kereta yang saya tumpangi itu ditabrak sama kereta lain," ucapnya dengan suara bergetar.
Seketika itu, di tengah gelap dan kepanikan, teriakan penumpang bersahutan, pintu tertutup, akses keluar terhambat.
Baca juga: Dedi Mulyadi Beri Kompensasi untuk Korban Meninggal Tabrakan KRL di Bekasi
Saat itu Shofiah hanya memikirkan menyelamatkan anaknya hingga jendela terbuka dan tanpa ragu mengangkat anaknya keluar dari gerbong.
Namun di dalam kereta yang gelap, ibunya masih tertinggal.
"Saya sudah pasrah sama orang tua saya di dalam itu gimana," katanya.
"Alhamdulillah petugas security langsung membukakan pintu KRL, saya langsung bawa orang tua saya keluar, dia syok terus nggak lama pingsan," tutur Shofiah.
Baca juga: Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi, AHY Desak Pengamanan Ketat di Perlintasan Sebidang
Di tengah hiruk-pikuk evakuasi dan banyaknya korban, Shofiah hanya bisa mendampingi ibunya sambil berdoa.
"Saya sudah panik dan pasrah sambil menunggu pertolongan," ucapnya.
Waktu terasa berjalan lambat, sampai sekitar pukul 21.30 WIB, satu per satu ambulans berdatangan ke Stasiun Bekasi Timur.
Takdir berkata lain, dalam perjalanan ke rumah sakit, Nuryati yang punya riwayat sakit jantung itu dinyatakan meninggal dunia.
Baca juga: Tabrakan 2 Kereta di Indonesia Jadi Sorotan Dunia, Evakuasi Dramatis Viral
Tangis Shofiah pecah, perjalanan singkat yang semula hanya kunjungan keluarga berubah menjadi perpisahan dengan ibunya.
Saat itu Shofiah bersama anak dan ibunya ada di gerbong tengah, bukan gerbong paling belakang.
Meski gerbong tengah, guncangan akibat tabrakan itu terasa kencang.
Nuryati, yang dikenal sebagai pedagang sembako sederhana, ini sedang menyiapkan pernikahan anak keenamnya pada 6 Juni 2026.
Bagi Shofiah, bayangan malam itu masih terus menghantui. (m31)