WALHI Jambi Ungkap Pesan soal Gelondongan Kayu Tersangkut Jembatan Beatrix saat Banjir
Duanto AS April 29, 2026 09:11 AM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Walhi Jambi merilis pernyataan resmi atas bencana ekologis banjir yang melanda Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun.

Direktur Eksekutif Wilayah Walhi Jambi, Oscar Anugrah, melalui pernyataan resmi Walhi Jambi pada Selasa (28/4/2026), menyebut hujan yang turun tanpa jeda sejak Sabtu malam (25/4) hingga Minggu (26/4) dini hari menjadi awal dari cerita panjang yang menyedihkan di hulu Kabupaten Sarolangun. 

Di Kecamatan Batang Asai, air Sungai Batang Asai naik dengan cepat, meluap, membawa lumpur, batang kayu, dan kecemasan yang tidak sama seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Tak hanya Batang Asai, banjir juga menjalar ke Limun hingga Bathin VIII, menegaskan satu hal bahwa wilayah ini berada dalam lingkaran rentan bencana ekologis.

Di tengah arus deras itu, ada pemandangan yang tak bisa diabaikan. 

Gelondongan kayu tersangkut di sekitar Jembatan Beatrix datang bersama banjir, seolah membawa pesan dari hulu yang selama ini luput dari perhatian. 

Bagi Desk Disaster WALHI Region Jambi dan WALHI Jambi, ini bukan sekadar kayu hanyut, melainkan penanda adanya kerusakan serius di kawasan atas Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Asai.

Menurut WALHI, banjir itu tidak bisa lagi dibaca sebagai peristiwa alam semata. 

Curah hujan memang tinggi, tetapi daya rusak yang ditimbulkan mengarah pada persoalan yang lebih dalam.

Hal itu meliputi menurunnya daya dukung lingkungan, akibat aktivitas ekstraktif yang terus berlangsung tanpa kendali, termasuk praktik penambangan emas tanpa izin (PETI).

Terkait hal tersebut, Direktur Eksekutif Wilayah WALHI Jambi, Oscar Anugrah menegaskan bahwa peristiwa itu adalah cermin dari kerusakan bentang alam di wilayah hulu. 

Menurutnya, banjir di Batang Asai bukan peristiwa biasa, melainkan bencana ekologis yang lahir dari rusaknya wilayah tangkapan air. 

Kehadiran kayu-kayu yang hanyut hingga ke hilir merupakan indikasi kuat bahwa kondisi hulu sedang tidak baik-baik saja.

“Kami mendesak agar ada pengusutan serius terhadap aktor-aktor yang terlibat dalam perusakan lingkungan ini,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Koordiantor Desk Distarter Walhi Region Jambi, Nariski Andri.

Dia mengatakan, temuan itu bukan sekadar persoalan kayu hanyut. 

Gelondongan kayu yang terbawa arus berpotensi memperparah dampak banjir, menyumbat aliran sungai, merusak infrastruktur jembatan, serta mengancam keselamatan warga.

“Ini adalah alarm keras bahwa ekosistem penyangga di wilayah hulu sedang mengalami tekanan”. Tegasnya.

Pihaknya menerangkan, bencana ekologis seperti itu akan terulang kembali, jika tata kelola sumber daya alam masih abai terhadap daya dukung lingkungan dan keselamatan rakyat. 

Sehingga, mereka berpendapat sudah saatnya perlindungan kawasan hulu menjadi prioritas utama. 

“Desk Disaster WALHI Region Jambi dan WALHI Jambi menyatakan solidaritas penuh kepada masyarakat terdampak banjir di Batang Asai, Limun, Bathin VIII, dan wilayah lainnya,” terangnya.

“Keselamatan warga harus menjadi prioritas, serta pemulihan lingkungan harus dijalankan secara serius dan berkeadilan,” pungkasnya.

Merespons situasi itu, WALHI Jambi mendesak pihak terkait untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Berikut empat tuntutan Desk Disaster WALHI Region Jambi bersama WALHI Jambi terkait bencana tersebut:

1. Pemerintah Kabupaten Sarolangun, Pemerintah Provinsi Jambi, dan aparat penegak hukum untuk melakukan investigasi menyeluruh terkait asal-usul gelondongan kayu di Sungai Batang Asai.

2. Penanganan darurat yang cepat dan memadai bagi warga terdampak, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, dan distribusi logistik.

3. Upaya pemulihan ekologis DAS Batang Asai melalui rehabilitasi hutan serta perlindungan kawasan tangkapan air.

4. Penyusunan sistem mitigasi bencana berbasis komunitas yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam perlindungan wilayahnya. (Tribun Jambi/Syrillus Krisdianto)

Baca juga: Setelah Banjir Merangin, Warga Sulit Dapat Air Bersih, Jembatan Nyaris Putus

Baca juga: Jembatan Nyaris Putus, Warga Tiang Pumpung Merangin Pakai Perahu Tempel Imbas Banjir Bandang

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.