TRIBUNBANYUMAS.COM, BATANG – Kematian tragis Diva Maelisa (15), remaja asal Desa Ngroto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta, menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah mengenai fenomena anak di bawah umur yang nekat merantau demi tuntutan ekonomi.
Wakil Bupati Batang, Suyono, menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi pelajaran pahit bagi seluruh warga agar tidak melepaskan anak usia sekolah bekerja di kota besar tanpa pengawasan dan kesiapan mental yang matang.
“Kejadian itu menjadi pelajaran bagi kita semua. Anak-anak seusia sekolah seharusnya masih mendapatkan pendampingan penuh dari keluarga dan lingkungan. Di luar daerah tantangannya berat,” ujar Suyono saat mengunjungi rumah duka, Rabu (29/4/2026).
Desak Pengusutan Tuntas
Selain menyoroti fenomena sosial tersebut, Suyono meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas penyebab kematian Diva guna memberikan keadilan bagi keluarga. Ia berharap fakta sebenarnya di balik tragedi di Benhil tersebut dapat terungkap secara transparan.
“Kami berharap proses hukum berjalan tuntas sehingga keluarga mendapat kejelasan atas peristiwa ini,” tegasnya.
Dorongan Mandiri di Tengah Keterbatasan
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Diva berasal dari keluarga sederhana. Orang tuanya bekerja sebagai buruh harian lepas dan petani penggarap. Keputusannya merantau ke Jakarta didorong oleh keinginan kuat untuk mandiri dan membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Suswandi, warga setempat, mengenal Diva sebagai sosok yang ceria dan ramah. Ia menyebut fenomena remaja seusia Diva merantau sebenarnya bukan hal yang lazim terjadi di Desa Ngroto.
Baca juga: Daftar 10 KA di Daop 5 Purwokerto yang Dibatalkan Hari Ini
“Anaknya baik dan mudah akrab. Dia ingin mandiri, mungkin ingin punya penghasilan sendiri seperti teman-temannya. Tapi sebenarnya jarang anak seusia itu di sini yang merantau untuk bekerja,” ungkap Suswandi.
Pekerjaan Rumah Pemerintah dan Sosial
Kematian Diva mencerminkan realitas pahit di mana keterbatasan ekonomi memaksa anak usia sekolah masuk ke pasar kerja yang rentan tanpa perlindungan.
Berdasarkan data nasional, pekerja anak di bawah umur seringkali terjebak dalam situasi yang membahayakan keselamatan mereka karena kurangnya kematangan emosional dan jaminan keamanan di perantauan.
Saat ini, suasana duka masih menyelimuti rumah keluarga korban. Pemerintah desa setempat memilih untuk memberikan ruang bagi keluarga guna memulihkan kondisi psikologis mereka sebelum menggali keterangan lebih lanjut.
Tragedi ini menjadi pengingat bagi para pemangku kebijakan bahwa akses pendidikan dan penguatan ekonomi di tingkat desa tetap menjadi pekerjaan rumah (PR) besar guna mencegah hilangnya nyawa anak-anak di tanah rantau. (Ito)