TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebanyak 10 balita turut terdampak kebakaran di Kelurahan Kairagi Weru, Kecamatan Paal Dua, Manado.
Kondisi mereka miris. Hanya baju di badan, para bayi ini butuh secepatnya pakaian, susu serta pempers.
Amatan Tribunmanado.com, Rabu (29/4/2026), para balita ini ditampung di ruangan lantai dua kantor Lurah Kairagi Weru.
Ada pula yang ditampung di rumah warga.
Seorang balita tampak menangis di pelukan ibunya.
Kelihatan ia kegerahan.
Balita lainnya tengah berlari.
Kontras dengan balita pertama, ia nampak menikmati permainan bersama rekan - rekannya yang lebih besar.
Reni, salah satu ibu menyebut, sang anak Forlan yang masih berusia 4 tahun memakai satu satunya baju yang masih tersisa.
"Ia belum ganti baju sejak peristiwa itu, ini adalah satu satunya baju yang tersisa, baju lainnya musnah," kata dia.
Derita tak hanya ditanggung Forlan seorang.
Dua kakaknya juga demikian.
Keduanya bahkan tidak sekolah gara gara seragam sekolah ludes dimakan api.
"Sepatu, buku, rapor serta tas juga musnah," katanya.
Sekretaris Lurah Mercy Sundah menuturkan, para balita ditampung di ruang lantai dua kantor Lurah.
Mereka butuh uluran tangan.
"Mereka butuh pakaian, makanan, Pempers dan lainnya," katanya.
Korban Kebakaran di Kelurahan Kairagi Weru, Kecamatan Paal Dua, kota Manado, provinsi Sulawesi Utara (Sulut) butuh uluran tangan.
Mereka masih butuh pakaian, makanan cepat saji, tikar serta perlengkapan balita.
Diketahui sebanyak 11 bangunan di Kelurahan Kairagi Weru terbakar setelah dilalap si jago merah pada Selasa (28/4/2026).
Amatan Tribunmanado, Rabu (29/4/2026), suasana masih mencekam.
Puing puing rumah berserakan. Warga belum berani beres-beres karena petugas PLN tengah memperbaiki kabel listrik.
Cuaca mendung. Hujan sesekali turun.
Namun suhu di sana terasa panas menyengat.
"Ini mungkin masih ada sisa sisa bara," kata sejumlah warga.
Sebagian besar warga memadati kantor Lurah Kairagi Weru.
Kantor ini berada di tengah pemukiman, namun anehnya tak turut terbakar.
Warga menjadikannya lokasi pengungsian sementara.
Di lantai satu kantor itu, tampak sejumlah warga tengah antre untuk beroleh pakaian hasil sumbangan pihak Gereja dan Mesjid.
Di lantai dua, sejumlah ibu dan balita tengah beristirahat.
Disini para anak serta balita tidur pada malam hari setelah kebakaran.
Suasana haru kadang tercipta manakala datang teman dari para korban yang membawa bantuan sambil mengucapkan belasungkawa.
Cerita sedih dari para korban membikin haru biru dan air mata tak tahan untuk tumpah.
Marten W Kepala Lingkungan setempat mengatakan, warga masih butuh pakaian, makan dan minum serta tempat tidur.
"Warga saya ini sebagian besar hanya baju di badan, jadi mereka butuh pakaian, juga makanan," katanya.
Ia bercerita banyak warganya yang tidur tanpa alas.
Lurah Kelurahan Kairagi Weru Reki Paparang menuturkan, warga terdampak bencana kebakaran berjumlah 86 orang.
"Mereka ditampung di kantor ini serta rumah warga, ada pula yang tinggal bersama keluarga terdekat," katanya.
Ungkap dia, bantuan berdatangan sejak Selasa malam berupa makanan cepat saji dan pakaian.
Bantuan datang dari Gereja, Mesjid, para pengusaha serta warga sekitar.
Sekretaris Lurah Mercy Sundah menuturkan, pihaknya kini tengah mendata para korban bencana.
"Data ini nantinya akan diberikan ke pihak terkait sebagai basis untuk bantuan nanti," katanya. (Art)