Anggota DPR RI Komisi XIII Rieke Diah Pitaloka mendesak pengusutan penyebab kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL hingga menewaskan 15 orang.
Rieke menyoroti dugaan keterkaitan perusahaan transportasi Green SM dalam tragedi ini.
Ia menyebut ada kejanggalan proses perizinan dan operasional perusahaan tersebut di Indonesia.
Rieke menuturkan bahwa perusahaan tersebut satu grup dengan pabrikan Vinfast asal Vietnam.
Perusahaan itu diduga mengajukan izin pada Januari 2024 dan memperoleh Nomor Induk Berusaha melalui sistem OSS pada Maret 2024.
Dalam waktu relatif singkat, perusahaan tersebut sudah mulai beroperasi di sejumlah kota besar seperti Jabodetabek, Surabaya, dan Makassar.
“Saya melihat ada satu kejanggalan, ada indikasi kejanggalan bagaimana di tengah taksi Indonesia sendiri dalam keadaan cengap-cengap susah mau bertahan, tiba-tiba ada perusahaan taksi dari luar dengan izin yang mudah,” katanya.
Rieke pun meminta agar audit menyeluruh dilakukan terhadap sistem transportasi, termasuk proses perizinan perusahaan yang beroperasi di sektor tersebut.
Rieke juga mendesak Komisi Pengawas Persaingan Usaha untuk menyelidiki kemungkinan praktik predatory pricing oleh perusahaan tersebut.
Ia menilai persoalan ini tidak bisa dianggap sepele karena berkaitan dengan keselamatan dan persaingan usaha.
Rieke menegaskan bahwa perusahaan Green SM tak ada sediktpun mengucapkan permohonan maaf atas tragedi tersebut.
Rieke juga menyoroti perlunya perbaikan menyeluruh dalam ekosistem perkeretaapian nasional.
Termasuk penanganan perlintasan sebidang yang dinilai masih rawan kecelakaan.
Ia mengapresiasi perhatian Presiden Prabowo Subianto yang disebut telah menyiapkan anggaran untuk penanganan perlintasan kereta api.
Namun, ia meminta agar realisasi program tersebut dipercepat.