TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kisah Muhammad Rizki, seorang anak kecil dari Bandung Barat, Jawa Barat, mendadak menjadi sorotan publik setelah video dirinya makan rumput beredar luas di media sosial.
Peristiwa ini bukan sekadar viral, tetapi membuka mata banyak orang tentang kondisi sosial yang masih memprihatinkan di sejumlah wilayah.
Di balik video yang menghebohkan itu, tersimpan cerita pilu tentang keterbatasan ekonomi yang dialami keluarganya sehari-hari.
Rizki disebut hidup dalam kondisi serba kekurangan, di mana kebutuhan dasar seperti makanan tidak selalu dapat terpenuhi dengan layak.
Situasi tersebut membuatnya harus berhadapan dengan kenyataan pahit sejak usia yang masih sangat belia.
Warga sekitar mengaku prihatin dengan kondisi keluarga tersebut yang sudah lama hidup dalam tekanan ekonomi.
Namun, bantuan yang diterima dinilai belum cukup untuk mengangkat mereka dari kesulitan.
Kisah ini pun memicu reaksi luas dari masyarakat dan warganet yang turut bersimpati.
Banyak pihak mendesak agar ada perhatian lebih serius dari pemerintah dan lembaga sosial terkait.
Di tengah sorotan publik, kisah Muhammad Rizki menjadi pengingat bahwa masih ada warga yang membutuhkan uluran tangan nyata, bukan sekadar perhatian sesaat.
Baca juga: Ribuan Anak Putus Sekolah di Kota Bandung Jabar, Faktornya Terbongkar: Ekonomi & Kecanduan Gadget
Seperti diketahui, sebuah video yang memperlihatkan seorang anak penyandang disabilitas mengonsumsi rumput di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, viral di media sosial.
Di balik rekaman tersebut, terungkap fakta mengenai kondisi keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan dan minimnya akses bantuan sosial.
Muhammad Rizki (11) atau akrab disapa Kiki, merupakan warga Kampung Babakan Cianjur, Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah.
Kiki merupakan penyandang disabilitas dengan gangguan mental dan tunawicara yang tinggal bersama ayah dan neneknya.
Ayah Kiki, Asep Setiawan (49), mengonfirmasi bahwa putranya memang memiliki kebiasaan mengonsumsi dedaunan, mulai dari rumput liar hingga pucuk tanaman.
Menurut Asep, kondisi ini dipicu oleh dua persoalan utama yang saling berkaitan.
"Memang ada dua faktor. Pertama karena keterbatasan mentalnya. Kedua karena faktor ekonomi," ungkap Asep saat ditemui Kompas.com, Selasa (28/4/2026).
Asep menduga, tindakan memakan rumput tersebut merupakan cara Kiki merespons rasa lapar yang tidak bisa ia komunikasikan secara verbal.
"Mungkin karena dia tidak bisa bicara kalau lapar, jadi makan daun. Kalau diambil suka marah," tuturnya.
Asep mengaku pertama kali mengetahui kebiasaan tersebut saat Kiki berusia sekitar empat tahun.
Saat itu, ia menemukan anaknya sedang mengunyah daun talas di dalam kamar setelah ditinggal sebentar.
“Waktu saya balik bawa nasi dari orang tua, saya lihat Kiki lagi makan daun talas di dalam kamar. Ternyata dia bawa dari luar dan disimpan di sakunya,” tutur Asep.
Sejak saat itu, kebiasaan tersebut terus berulang.
Kondisi ekonomi keluarga ini kian terpuruk karena Asep terpaksa berhenti bekerja sebagai penjual sandal keliling.
Keputusan itu ia ambil lantaran harus siaga di rumah karena Kiki memerlukan pengawasan penuh selama 24 jam.
"Kalau tidak dijaga, dia bisa pergi dan tidak tahu jalan pulang," ucap Asep.
Meski hidup dalam keterbatasan, Asep mengaku keluarganya belum pernah terdata sebagai penerima bantuan sosial pemerintah, baik itu Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
Dampaknya, Kiki tidak bisa mendapatkan terapi medis maupun pendidikan khusus yang dibutuhkannya.
"Harapan saya anak saya bisa sekolah dan dapat terapi atau pengobatan. Sekarang belum bisa karena terkendala biaya," ujarnya penuh harap.
Ketua RT setempat, Cecep Mulyana, menyatakan bahwa pihak kewilayahan kini tengah berupaya memperbaiki administrasi kependudukan keluarga Asep agar mereka bisa segera masuk ke dalam sistem penerima bantuan.
Cecep juga mendesak agar pemerintah daerah segera turun tangan memberikan solusi jangka panjang, baik untuk penanganan medis Kiki maupun pemberdayaan ekonomi bagi Asep.
"Saya mohon pemerintah turun tangan. Beri penanganan untuk anaknya, juga ayahnya beri pekerjaan agar bisa memberikan penghidupan," pungkas Cecep.
(TribunNewsmaker.com/Eri Ariyanto)(Kompas.com)