Ini Makna Haji Mabrur Menurut Buya Yahya, Ternyata Bukan Sekadar Ibadah di Tanah Suci
Amirullah April 29, 2026 03:03 PM

SERAMBINEWS.COM - Istilah haji mabrur kerap didengar umat Muslim, terutama saat musim haji. Namun, tak sedikit yang belum memahami makna sebenarnya dari ibadah yang disebut-sebut memiliki balasan surga ini.

Dalam sebuah kajian, Buya Yahya menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT. 

“Mabrur itu maknanya diterima oleh Allah. Jadi haji mabrur adalah haji yang dikabulkan dan diterima oleh-Nya,” ujar Buya Yahya dikutip dari YouTube Al Bahjah, Rabu (29/4/2026).

Buya Yahya menekankan bahwa tanda haji mabrur bukan hanya terlihat saat seseorang berada di Tanah Suci, seperti menangis di depan Ka’bah atau tampak khusyuk saat ibadah.

Menurutnya, ukuran utama justru terlihat setelah kembali ke kehidupan sehari-hari.

“Tanda haji mabrur itu setelah pulang. Apakah dia jadi lebih baik? Lebih baik kepada orang tua, pasangan, dan sesama? Itu kuncinya,” jelasnya.

Baca juga: Tak Perlu Takut! Buya Yahya Tegaskan Dosa Tak “Dibongkar” Saat Haji atau Umrah, Justru Diampuni

Ia bahkan mengingatkan bahwa seseorang bisa saja terlihat religius saat di Makkah, namun kembali berbuat buruk setelah pulang.

Perubahan perilaku menjadi indikator paling jelas dari haji yang diterima. Sekecil apa pun perubahan menuju kebaikan, itu sudah menjadi tanda.

Contohnya:

  • Mulai memperbaiki hubungan keluarga
  • Berusaha meninggalkan kebiasaan buruk
  • Timbul keinginan kuat untuk hidup lebih halal dan bersih
  • Meningkatkan silaturahmi

“Kalau setelah haji masih suka zalim, sombong, atau tidak berubah, maka perlu dipertanyakan kemabruran hajinya,” tegasnya.

Buya Yahya juga membedakan antara manasik zahir (lahir) dan manasik batin.

Manasik zahir: seperti ihram, tawaf, sa’i, dan tahallul

Baca juga: 5 Bahaya Istri Curhat ke Lawan Jenis Menurut Buya Yahya, Bisa Picu Masalah Rumah Tangga

Manasik batin: membersihkan hati, menyesali dosa, memperbaiki hubungan dengan sesama

Menurutnya, justru manasik batin inilah yang lebih berat namun sangat menentukan kualitas ibadah haji.

“Bukan sekadar ritual, tapi bagaimana hati berubah. Menangis karena ingin memperbaiki diri, itulah yang utama,” ungkapnya.

Di akhir kajian, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk tidak hanya fokus pada pelaksanaan ibadah haji secara fisik, tetapi juga memperhatikan perubahan diri setelahnya.

Ia berharap setiap Muslim yang menunaikan haji mampu membawa pulang nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Carilah tanda setelah haji. Jika ada perubahan menuju kebaikan, itu tanda haji Anda diterima oleh Allah,” pungkasnya.

Wallahu a’lam bishawab.

(Serambinews.com/Firdha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.