SURYA.CO.ID, SURABAYA - Suasana haru sekaligus bangga mewarnai prosesi wisuda Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Rabu (29/4/2026). Di tengah ribuan wisudawan, sosok Elpanta Tarigan mendadak menjadi pusat perhatian, bukan hanya karena postur fisiknya yang mencapai 215 sentimeter, melainkan karena daya juangnya yang luar biasa.
Elpanta, seorang penyandang disabilitas netra, resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan dari Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu Pendidikan.
Tak sekadar lulus, pria kelahiran 16 Agustus 2001 ini membuktikan, bahwa keterbatasan bukan penghalang dengan menyelesaikan studi hanya dalam waktu 7 semester.
Kehilangan penglihatan total pada usia 12 tahun sempat menjadi titik terendah dalam hidup Elpanta. Namun, ia menolak untuk menyerah. Selama menempuh pendidikan di Unesa, Elpanta memanfaatkan teknologi asistif berupa perangkat pembaca layar (screen reader) pada laptopnya, untuk melahap materi perkuliahan.
Ketekunannya membuahkan hasil manis. Di saat mahasiswa reguler berjuang menyelesaikan skripsi di semester 8 atau lebih, Elpanta justru melampaui target dengan durasi kelulusan yang lebih cepat.
Berikut adalah beberapa poin kunci keberhasilan Elpanta Tarigan:
Prestasi luar biasa Elpanta memantik apresiasi langsung dari Rektor Unesa, Prof Dr Nurhasan M.Kes., atau yang akrab disapa Cak Hasan. Di hadapan ribuan hadirin, Cak Hasan memberikan penawaran langka kepada Elpanta sebagai bentuk penghargaan atas dedikasinya.
"Tarigan ini bukan sekadar wisudawan, dia adalah simbol ketangguhan. Saya persilakan dia memilih, melanjutkan studi S2 dengan beasiswa penuh atau langsung bergabung menjadi pegawai tetap di lingkungan Unesa," tegas Cak Hasan dengan nada bangga.
Elpanta menjatuhkan pilihannya untuk menjadi pegawai tetap. Keputusan ini dinilai cerdas oleh Rektor, mengingat status pegawai di Unesa tetap memberikan akses terbuka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister (S2) hingga Doktoral (S3) di masa depan melalui skema beasiswa internal.
Kisah Elpanta dijadikan momentum oleh pihak kampus untuk menegaskan komitmen inklusivitas dan kesejahteraan mahasiswa. Di tengah isu kenaikan biaya pendidikan secara nasional, Unesa menjamin bahwa faktor ekonomi tidak boleh menghentikan langkah mahasiswa untuk berprestasi.
Bagi Elpanta Tarigan, tawaran mengabdi di Unesa adalah babak baru yang tak pernah ia bayangkan saat pertama kali kehilangan penglihatannya di Medan dahulu. Kini, ia siap memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan luar biasa di lingkungan kampus yang telah membesarkannya.