SURYA.CO.ID - Terungkap gelagat Harum Anjasari (27) sebelum menjadi korban tewas dalam kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur, pada Senin (27/4/2026).
Seolah akan pergi untuk selamanya, Harum menunjukkan gelagat yang tidak biasa kepada orangtuanya.
Kepada ibunya, Sri Lestari, Harum yang bekerja di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat menyampaikan hendak pulang ke rumah orangtuanya di Cipayung, Jakarta Timur.
Sehari-hari Harum tinggal bersama suami dan dua anaknya di kawasan Tambun, Bekasi.
"Katanya mamah aku pengen pulang ke rumah mamah, aku ingin pulang. Aku kangen sama mamah. Nanti hari Jumat aku pengen ke rumah mamah boleh ya," kata Sri, Rabu (29/4/2026).
Sri mengaku tidak terbesit apapun saat mendengar keinginan sang putri, dia hanya mempersilakan Harum untuk pulang ke rumah guna melepas rindu kepada Sri dan sang ayah Tuin Sumarlin.
Baca juga: Alasan Kemenhub Sidak Pool Taksi Hijau Imbas Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek Vs KRL, Ada Temuan
Bahkan Harum juga sempat mengajak teman-temannya untuk datang bermain ke rumah sang ibunda, hal ini berdasarkan keterangan sejumlah teman Harum kepada pihak keluarga.
Namun tidak ada yang menyangka bahwa Harum akan pulang ke rumah orangtuanya dalam keadaan meninggal, setelah menjadi korban tewas kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur.
"Sama teman-temannya juga bilang nanti kumpul ya di rumah mamah tanggal segini, nanti ramai-ramai, banyak teman-teman datang. Tapi kita enggak ada yang engeh kalau terjadi sekarang," ujarnya.
Harum adalah anak pertama dari tiga bersaudara.
Sri menuturkan semasa hidup Harum merupakan anak yang baik, pekerja keras dan selalu berbakti kepada kedua orangtua.
Sejak usia 19 tahun atau selepas menamatkan pendidikan dari tingkat sekolah menengah atas (SMA), Harum memutuskan bekerja untuk membantu menafkahi keluarga.
"Dari umur 19 tahun memang sudah bekerja. Hebat, saya salut sama dia. Dia memang niatnya mau membahagiakan mamah sama ayahnya," kata Sri di Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026).
Harum kini tercatat sebagai supervisor sebuah perusahaan skincare atau perawatan wajah yang berkantor di kawasan Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Setiap harinya Harum berangkat menggunakan KRL dari rumahnya di kawasan Tambun, Bekasi ke Tanah Abang, karena korban kini tinggal bersama suami dan dua anaknya di Tambun.
Saat awal mengetahui tragedi KRL dengan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, pihak keluarga seketika panik berupaya mencari keberadaan Harum.
"Saya dapat kabar duka jam 22.00 WIB dari suaminya, Harum. Suaminya bilang kalau Harum ada di kereta, di gerbong kereta yang sedang kecelakaan. Langsung kamo menyebar, mencari Harum," ujarnya.
Sri menuturkan pihak keluarga berbagi tugas mendatangi sejumlah rumah sakit tempat korban luka kecelakaan KRL dengan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek dirawat.
Nahas upaya tak berhasil, pihak keluarga lalu disarankan mendatangi RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur tempat 10 jenazah korban kecelakaan tragedi KRL diidentifikasi.
Di RS Polri Kramat Jati pihak keluarga lalu menyerahkan data pembanding antemortem berupa sidik jari, dan foto gigi Harum untuk proses identifikasi jenazah yang dilakukan Tim DVI.
"Di RS Polri, kami menyerahkan data foto yang kelihatan giginya, golongan darah, sama ijazah yang ada stempel tiga jari. Setelah itu baru sorenya ketahuan kalau anak saya ada," ujar Sri.
Usai dinyatakan teridentifikasi, jenazah Harum sempat disemayamkan di rumah duka orangtuanya di wilayah RT 03/RW 03, Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
Jenazah Harum kemudian dimakamkan di TPU Cipayung, proses pemakaman dihadiri keluarga besar, suami Harum, kedua anak laki-laki Harum, sahabat, hingga jajaran Pemkot Jakarta Timur.
Lurah Setu, Dwi Widiastuti menuturkan pihaknya menyampaikan dukacita mendalam kepada pihak keluarga Harum dan berupaya membantu proses pemakaman jenazah.
"Pemakaman tidak ada kendala. Semoga keluarga diberikan ketabahan, apalagi almarhum meninggalkan dua anak. Tentunya menjadi berat bagi orang tuanya, dan juga bagi suami," tutur Dwi.
Saat proses pemakaman, pihak keluarga dan sahabat yang datang ke TPU Cipayung tampak tidak kuasa menahan tangis ketika melihat peti jenazah bertuliskan nama almarhumah dikebumikan.
Usai petugas Sudin Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Timur memakamkan jenazah, pihak keluarga dan sahabat tampak memanjatkan doa di atas pusara mendiang Harum.
Pihak keluarga Harum menyampaikan terima kasih kepada petugas tim search and rescue (SAR) gabungan dan seluruh petugas terkait terlibat penanganan korban kecelakaan KRL.
"Terima kasih untuk petugas Damkar, Basarnas, relawan yang sudah membantu evakuasi. Saya ucapkan terima kasih banyak," tuturnya. (tribun jakarta)