SURYA.CO.ID, SURABAYA - Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, mengambil langkah strategis dengan mendorong transformasi total Posyandu di seluruh wilayah Jawa Timur. Langkah ini bertujuan untuk mendekatkan layanan dasar, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui standarisasi pelayanan yang lebih komprehensif.
Khofifah menginstruksikan seluruh Posyandu di Jawa Timur untuk segera menerapkan 6 standar pelayanan minimal (SPM). Hal ini dianggap krusial sebagai fondasi dalam meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, guna menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
"Posyandu adalah garda terdepan pelayanan masyarakat. Melalui transformasi berbasis 6 SPM, Posyandu kini tidak hanya fokus pada layanan kesehatan, tetapi berkembang menjadi pusat layanan terpadu yang menyentuh berbagai aspek kehidupan," ujar Khofifah, Rabu (29/4/2026).
Dalam paradigma baru ini, bahwa Posyandu tidak lagi sekadar tempat menimbang bayi. Khofifah merinci 6 bidang pelayanan minimal yang kini diintegrasikan ke dalam fungsi Posyandu, antara lain:
Transformasi ini merupakan upaya konkret Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim dalam menghadirkan layanan publik yang lebih cepat, responsif dan inklusif di tingkat akar rumput. Dengan integrasi ini, warga tidak perlu lagi menempuh jarak jauh untuk mendapatkan akses birokrasi dasar.
Keberhasilan program ini didukung oleh infrastruktur sosial yang sangat masif di Jawa Timur. Saat ini, tercatat ada 46.414 unit Posyandu yang aktif beroperasi. Kekuatan utama dari gerakan ini, terletak pada dedikasi 301.013 kader kesehatan yang tersebar hingga pelosok dusun.
Khofifah menekankan bahwa keberadaan puluhan ribu Posyandu ini bukan hanya sekadar bangunan fisik, melainkan sarana pemberdayaan masyarakat. Posyandu berfungsi sebagai wadah partisipatif di mana warga bisa menyalurkan aspirasi pembangunan desa secara langsung.
"Kader Posyandu adalah ujung tombak yang bekerja dengan penuh dedikasi. Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kontribusi luar biasa mereka dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan masyarakat," tambah Khofifah.
Khofifah mengingatkan, bahwa transformasi ini tidak bisa dilakukan sendirian oleh pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan tenaga kesehatan, perangkat desa, hingga sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial.
Melalui penguatan pilar pembangunan berbasis komunitas ini, optimisme untuk menciptakan generasi unggul yang sehat dan berdaya saing semakin nyata. Transformasi Posyandu menjadi kunci utama dalam menekan angka stunting, dan meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) di Jawa Timur.
Bagi masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai jadwal layanan Posyandu terintegrasi, dapat menghubungi kantor desa atau kelurahan setempat untuk mendapatkan jadwal kunjungan rutin dari para kader terampil.