Tribunlampung.co.id, Bali - Teror gigitan anjing liar membuat warga di Kelurahan Banyuning, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Bali, resah dalam beberapa hari terakhir.
Belasan warga dilaporkan menjadi korban setelah diserang anjing yang diduga liar di sejumlah titik permukiman.
Serangan itu membuat warga khawatir, terutama karena korbannya bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang sedang beraktivitas di sekitar rumah.
Data sementara mencatat ada 18 orang yang mengalami gigitan anjing dalam kejadian tersebut.
Pemerintah setempat pun mulai bergerak melakukan penyisiran untuk mencari anjing yang diduga menyerang warga.
Baca juga: Ditinggal Mandi, Balita Tewas Diserang 3 Anjing Liar, Ayah Histeris Peluk Jenazah
Dikutip dari Tribun-Bali.com, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan peristiwa gigitan itu pertama kali dilaporkan pada Jumat (24/4/2026) malam.
Total ada 18 warga yang menjadi korban gigitan.
"Korbannya mulai dari anak-anak hingga dewasa. Rata-rata korban digigit pada bagian kaki," ucapnya, Senin (27/4/2026).
Kasus gigitan ini tidak terjadi di satu lokasi saja, melainkan di beberapa titik di wilayah Banyuning.
Meski begitu, para korban sudah mendapatkan penanganan medis di puskesmas maupun rumah sakit, termasuk vaksin anti rabies (VAR).
Dari keterangan salah satu korban, anjing yang menyerang memiliki ciri-ciri berukuran sedang, warna putih, dengan bulu ekor yang sedikit lebih panjang.
Petugas dari dinas terkait kemudian turun ke lapangan untuk melakukan pencarian, namun anjing tersebut belum ditemukan.
Tak berhenti sampai di situ, pada Senin (27/4/2026) pagi pihak dinas kembali menerima laporan gigitan anjing dari wilayah yang sama.
Kali ini korbannya seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang mengalami luka gigitan di kaki kiri.
Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan mendatangi lokasi bersama aparat kelurahan.
Menurut Melandrat, anjing yang menggigit pada kejadian kedua memiliki ciri berbeda dengan kejadian sebelumnya.
Jika pada laporan pertama anjingnya berwarna putih, pada kejadian kedua anjing yang menyerang justru berwarna hitam.
"Saat ini sampel otak anjing sudah diambil untuk dibawa ke Balai Besar Veteriner Denpasar," ujarnya.
Sementara itu, Kasi Pemerintahan Kelurahan Banyuning, Putu Novi Mahendra, mengatakan kejadian yang menimpa anak 11 tahun itu terjadi pada Minggu (26/4/2026) sekitar pukul 14.00 Wita.
Lokasinya berada di kawasan perumahan BTN Grahadi Teras, Kelurahan Banyuning.
"Saat itu korban sedang bermain di lingkungan sekitar rumahnya. Namun tiba-tiba seekor anjing liar berwarna hitam datang dan langsung menggigit bagian kaki korban," katanya.
Korban kemudian dibawa ke RSUD Buleleng untuk mendapatkan penanganan medis serta vaksinasi.
Tim Siaga Rabies (Tisira) Kelurahan Banyuning bersama dinas terkait juga langsung bergerak melakukan vaksinasi terhadap hewan peliharaan warga.
Selain itu, mereka juga menangani anjing liar yang berpotensi membahayakan masyarakat.
Terkait kasus gigitan yang menyebabkan 18 orang menjadi korban, Novi memastikan seluruh korban sudah mendapatkan penanganan.
Upaya pencarian anjing liar juga terus diperluas hingga wilayah Penarukan.
"Penyisiran dilakukan hingga malam hari, melibatkan Tim Tisira, aparat kepolisian, serta pihak kelurahan," ujarnya.
Tangis seorang ayah pecah ketika melihat tubuh kecil anaknya terbujur kaku. Ia memeluk erat putrinya yang sudah tak lagi bernyawa setelah menjadi korban serangan anjing liar.
Peristiwa memilukan itu terjadi di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Seorang anak perempuan berusia empat tahun ditemukan dengan luka parah di leher dan wajah.
Anak malang itu bernama Ni Made Sukma Diatmika, warga Banjar Ulun Danu, Desa Songan. Ia diduga diserang beberapa ekor anjing liar saat bermain di depan warung milik keluarganya.
Kejadian tragis tersebut menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban. Warga sekitar pun dibuat syok dengan peristiwa yang menimpa anak kecil itu.
Tangis keluarga semakin pecah ketika tubuh korban dipeluk oleh sang ayah yang tak kuasa menerima kenyataan pahit tersebut.
Tangis ayah pecah peluk tubuh anaknya yang sudah tidak bernyawa setelah dikeroyok anjing liar.
Anak usia empat tahun tersebut mengalami luka serius di leher dan wajah diduga akibat gigitan anjing liar di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali.
Korban bernama Ni Made Sukma Diatmika asal Banjar Ulun Danu, Desa Songan. Anak tersebut digigit anjing saat bermain di depan warung.
Dalam mengantisipasi rabies, pihak terkait melakukan eliminasi terhadap anjing di seputar rumah duka.
Dikutip dari TribunBali.com, Plt Kepala Dinas Kesehatan Bangli, I Dewa Gede Oka Darsana menjelaskan, kejadian terjadi pada 27 April 2026 jam 16.30 Wita.
Saat itu, kata dia, korban setelah mandi bersama ibunya, langsung pergi bermain di depan warung. Sementara anak tersebut ditinggal mandi oleh ibunya.
"Pasien sehabis dimandikan oleh ibunya main di depan warung, dan ditinggal mandi oleh ibunya sekitar 10 menit. Sehabis mandi, ibunya sudah melihat anaknya terkapar di depan warung yang saat itu sudah ada anjing di sampingnya," ungkap Oka Darsana.
Diduga saat digigit anjing, anaknya telah menangis minta tolong. Namun karena saat itu sedang hujan lebat, sehingga tangisannya tidak terdengar.
"Saat itu hujan sangat deras sehingga tidak kedengaran suara anaknya saat digigit anjing," ujarnya.
Pasca kejadian itu, sekitar pukul 16.30 Wita, korban langsung dibawa ke Puskesmas Kintamani V, untuk mendapatkan pertolongan dan selanjutnya di rujuk ke RSUD Bangli.
"Tiba di IGD RSUD Bangli pukul 18.05 Wita, kondisi pasien sangat lemah, tidak sadar, nadi sangat lemah, dan mengalami henti jantung," ungkapnya.
Saat itu, pihak medis telah memberikan tindakan resusitasi. Namun pasien tidak ada respon dan dinyatakan meninggal pukul 18.20 Wita.
"Ditemukan luka robek diduga karena gigitan anjing, yang luas di sekitar leher dan wajah yang mengakibatkan perdarahan masif," ungkap Oka Darsana.
Pasca kejadian tersebut, Dinas PKP Bangli melakukan eliminasi terhadap sejumlah anjing di sekitar TKP.
"Tim PKP Bangli sudah melakukan eliminasi terbatas pada anjing di sekitar rumah duka, 9 ekor sudah dieliminasi. Tim di sekitar rumah duka sudah melakukan KIE untuk penanggulangan rabies termasuk edukasi agar anak di bawah umur perlu pengawasan yang baik," jelasnya.
Rupanya korban tewas bukan karena digigit satu anjing, melainkan diduga ada sekitar tiga ekor anjing liar. Masyarakat yang resah akan keberadaan anjing liar di seputaran lokasi, telah meminta dinas terkait melakukan eliminasi.
Per Selasa 28 April 2026, sudah ada sembilan ekor anjing liar yang telah dieliminasi oleh Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli.
Kerabat korban, I Nyoman Muliawan, mengatakan bahwa lokasi kejadian berada di warung ibu korban yang berada di jalur pendakian Gunung Batur, yang dikenal memang sepi.
Saat itu, seusai dimandikan ibunya, korban mendengar ada anjing ribut, lalu ia pun keluar untuk melihat. Muliawan menuturkan tidak ada yang tahu secara persis, terkait bagaimana korban bisa digigit.
Namun informasinya, ada yang melihat anak tersebut dikerubungi sekitar tiga ekor anjing. Di mana semua anjing tersebut merupakan anjing liar.
"Katanya ada yang melihat ada sekitar 3 ekor yang mengerubuti korban. Salah satu bulunya dilihat warna putih,” ucapnya.
Pasca kejadian itu, korban yang merupakan anak paling bungsu dari lima saudara ini, mengalami luka serius pada leher dan wajah.
“Setelah dilarikan ke rumah sakit, dinyatakan meninggal dunia,” ujarnya.
Pasca dinyatakan meninggal dunia, pada Senin sekitar pukul 22.00 Wita, jenazah korban telah dimakamkan di Setra Desa Songan.
"Kami tidak menyangka kalau korban akan pergi dengan secepat itu, dan dengan jalan yang memilukan,” ujarnya dengan nada sedih.
Kepala Dinas PKP Bangli, I Wayan Sarma mengatakan, pihaknya bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangli telah turun ke TKP.
Di sana, pihaknya mendapati warga setempat resah terhadap keberadaan anjing liar di seputaran lokasi. Mereka pun meminta agar anjing liar tersebut dieliminasi.
Dan, pihaknya telah melakukan eliminasi. Total ada sembilan ekor anjing liar yang telah dieliminasi.
"Tidak ada indikasi rabies. Eliminasi dilakukan atas permintaan masyarakat untuk mengurangi risiko penularan rabies dan gangguan keamanan," ujarnya.