Usul Pemindahan Gerbong Wanita di KRL Tuai Kritik, Menteri PPPA Minta Maaf: Saya Sadar Kurang Tepat
ninda iswara April 30, 2026 05:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Suasana duka masih menyelimuti insiden kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur yang merenggut 16 korban jiwa, menyisakan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Di tengah situasi tersebut, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Choiri Fauzi, sempat melontarkan usulan terkait reposisi gerbong perempuan.

Namun, pernyataan itu justru menuai sorotan publik karena dinilai tidak tepat disampaikan dalam momen penuh empati tersebut.

Arifah kemudian menyadari bahwa waktunya kurang bijak dan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan di tengah proses evakuasi yang masih berlangsung.

Ia pun memilih untuk menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat.

Menurutnya, kepekaan terhadap situasi menjadi hal penting, terlebih ketika keluarga korban masih berada dalam suasana berduka.

Baca juga: DPR Kritik Usul Menteri PPPA soal Gerbong Wanita di Tengah, Kurang Tepat: Tak Menyelesaikan Masalah

"Terkait pernyataan saya pasca-insiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur, saya menyadari bahwa pernyataan tersebut kurang tepat. Untuk itu, saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban," ujar Arifah dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026).

Permintaan maaf tersebut ditujukan tidak hanya kepada korban, tetapi juga kepada publik luas yang merasa kurang nyaman dengan pernyataan sebelumnya.

Langkah ini menjadi bentuk tanggung jawab sekaligus refleksi atas pentingnya komunikasi yang lebih sensitif dalam situasi krisis.

Peristiwa ini pun menjadi pengingat bahwa empati harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap penyampaian kebijakan maupun pendapat di ruang publik.

Petaka di Stasiun Bekasi Timur

Tragedi memilukan ini bermula pada Senin malam (27/4/2026), saat sebuah taksi listrik mengalami korsleting hingga mogok di perlintasan Ampera Bekasi sekitar pukul 20.47 WIB.

Taksi dari Green SM tersebut tertemper KRL rute Kampung Bandan–Cikarang, yang memaksa rangkaian kereta berhenti darurat di jalur KM 28+920, sekitar 100 meter dari perlintasan Ampera.

Kondisi kian mencekam pada pukul 20.57 WIB.

Di tengah kepanikan insiden pertama, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju kencang dari arah belakang menghantam telak bagian ekor KRL yang sedang terhenti.

Benturan hebat ini menghancurkan gerbong paling ujung dan merenggut nyawa seluruh penumpang perempuan yang berada di dalamnya.

Fokus pada Empati dan Keselamatan Universal

Menanggapi kritik yang menyebut usulannya mengabaikan keselamatan penumpang pria, Arifah menegaskan bahwa keselamatan seluruh warga adalah prinsip nomor satu tanpa memandang gender.

"Tidak ada maksud dari saya untuk mengabaikan keselamatan penumpang lainnya. Saya memahami bahwa dalam situasi duka seperti ini, yang menjadi fokus utama adalah keselamatan, penanganan korban, serta empati kepada seluruh keluarga," tuturnya.

Baca juga: Jelang Pernikahan Anak, Nuryati Tewas Kecelakaan Kereta, Suami Sempat Mau Nikahkan di Depan Jenazah

Menteri PPPA, Arifah Fauzi (KOMPAS.com/Ardito Ramadhan)

Pendampingan Psikologis

Selain memastikan penanganan 90 korban luka dilakukan secara cepat sesuai arahan Presiden, Kementerian PPPA juga hadir untuk memastikan hak-hak anak yang kehilangan orang tua dalam tragedi ini terlindungi.

Pihak kementerian telah menerjunkan tim untuk memberikan pendampingan psikologis bagi keluarga yang mengalami trauma mendalam.

Sebelumnya, saat mengunjungi korban di RSUD Bekasi, Arifah mengusulkan agar gerbong khusus perempuan dipindah ke bagian tengah rangkaian demi keamanan dalam situasi darurat.

"Usulan tersebut kami sampaikan karena melihat gerbong ujung menjadi titik paling rawan. Namun, saat ini mari kita fokus pada penanganan korban dan upaya perbaikan sistem keselamatan secara menyeluruh," pungkasnya.

(TribunTrends/Tribunnews/Fahdi Fahlevi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.