Menteri PPPA Arifah Choiri Minta Maaf Usai Usulannya Viral soal Pindah Gerbong Perempuan KRL
Rita Noor Shobah April 30, 2026 07:19 AM

TRIBUNKALTIM.CO -  Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Choiri Fauzi, menjadi sorotan publik setelah pernyataannya mengenai posisi gerbong khusus perempuan pascainsiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur.

Arifah sebelumnya mengusulkan agar gerbong perempuan yang selama ini berada di depan dan belakang dipindahkan ke bagian tengah rangkaian kereta.

Usulan tersebut memicu kritik karena dianggap bias gender terhadap korban kecelakaan.

Menyadari hal itu, Arifah kemudian menyampaikan permintaan maaf.

Baca juga: Sosok Arifah Fauzi, Menteri PPPA yang Viral Usul Gerbong Wanita KRL Dipindah ke Tengah

Permintaan Maaf

Dalam pernyataannya, Rabu (29/4/2026), Arifah mengakui bahwa ucapannya kurang tepat.

"Terkait pernyataan saya pasca insiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur, saya menyadari bahwa pernyataan tersebut kurang tepat. Untuk itu, saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti atau tidak nyaman atas pernyataan tersebut," kata Arifah dalam pernyataannya, Rabu (29/4/2026).

Dirinya menegaskan tidak ada niat untuk mengabaikan keselamatan penumpang lain.

Ia menilai dalam situasi duka, perhatian utama seharusnya difokuskan pada penanganan korban dan empati kepada keluarga terdampak.

"Tidak ada maksud dari saya untuk mengabaikan keselamatan penumpang lainnya. Saya memahami bahwa dalam situasi duka seperti ini, yang menjadi fokus utama adalah keselamatan, penanganan korban, serta empati kepada seluruh keluarga yang terdampak," katanya.

Baca juga: Update Jumlah Korban Kecelakaan Kereta Api di Bekasi Timur Hari Ini 29 April 2026: Nama Korban Tewas

Keselamatan adalah Prioritas

Arifah mengatakan keselamatan seluruh masyarakat, tanpa memandang gender, merupakan prioritas utama pemerintah.

Saat ini, kata Arifah, prioritas utama Pemerintah adalah memastikan penanganan terbaik bagi seluruh korban, baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka. 

"Kita semua sepakat bahwa keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas nomor satu, baik perempuan maupun laki-laki," ujarnya.

Lebih lanjut, Arifah menyebut penanganan korban dilakukan sesuai arahan Presiden secara cepat, adil, dan menyeluruh. 

Kementerian PPPA, kata Arifah, turut memastikan hak-hak korban, termasuk anak-anak yang ditinggalkan, tetap terlindungi.

"Kementerian PPPA hadir untuk memastikan hak korban dan anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya dalam tragedi ini tidak terabaikan," ucapnya.

Baca juga: Kabar Duka, Karyawan Kompas TV Nur Ainia Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Kereta Bekasi

Pendampingan Psikologis

Sebagai bentuk komitmen, KemenPPPA juga akan memberikan pendampingan psikologis bagi korban dan keluarga yang mengalami trauma.

Arifah mengajak seluruh pihak untuk memusatkan perhatian pada penanganan korban serta perbaikan sistem keselamatan transportasi publik ke depan.

"Mari kita bersama-sama memusatkan perhatian pada penanganan korban, doa, serta upaya perbaikan sistem keselamatan transportasi publik agar tragedi serupa tidak kembali terjadi. Keselamatan seluruh penumpang harus menjadi prioritas tertinggi dalam setiap kebijakan transportasi ke depan," pungkasnya.

Baca juga: Arti Tertemper dan Update Kecelakaan Kereta di Bekasi Terbaru 28 April 2026, Green SM Buka Suara

Sebelumnya, Arifah mengusulkan perubahan penempatan gerbong khusus perempuan pada rangkaian KRL.

Arifah mengatakan, usulan tersebut sudah disampaikan kepada  PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Selama ini, gerbong khusus perempuan ditempatkan di bagian depan dan belakang rangkaian kereta untuk menghindari penumpukan penumpang.

“Kalau tadi kami ngobrol dengan KAI, kenapa ditaruh di paling depan dan belakang itu supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kami mengusulkan kalau bisa gerbong perempuan ditempatkan di tengah,” ujar dia saat mengunjungi korban di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4).

Arifah beralasan, perubahan gerbong khusus perempuan ini menjadi bagian tengah dinilai lebih aman, terutama dalam situasi darurat atau kecelakaan.

Dengan posisi tersebut, gerbong perempuan tidak berada di titik paling rawan saat terjadi kecelakaan.

Ia menjelaskan,gerbong bagian depan dan belakang dapat diisi penumpang laki-laki, sementara yang khusus perempuan berada di bagian tengah rangkaian.

“Jadi yang laki-laki di ujung depan dan belakang sementara yang perempuan di tengah,” jelasnya.

Penjelasan PT KAI

Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan posisi gerbong wanita di gerbong depan dan belakang untuk alasan kemudahan.

Bobby menuturkan tidak ada perbedaan dari aspek keselamatan antara gender laki-laki dan perempuan.

"Dari tingkat keselamatan tidak kita bedakan," kata Bobby di Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4/2026).

Pemisahan gerbong khusus wanita tujuannya dari awal adalah mencegah terjadinya harassment atau pelecehan.

Bobby menekankan bahwa gerbong khusus wanita juga diberikan pengamanan lebih dibanding gerbong campur.

"Selama ini kami melakukan pemisahan itu karena ada beberapa aspek, aspek pertama adalah supaya tidak terjadi yang namanya harassment, Yang kedua adalah memberikan kemudahan-kemudahan akses untuk para perempuan atau para wanita juga," kata Bobby.

Dirut PT KAI tak memberikan jawaban lugas perihal permintaan usulan tersebut.

Sebab menurutnya aspek kemudahan dan keselamatan yang diutamakan.

"Jadi untuk sementara aspek itu yang kita gunakan," sambungnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.