MANADO, TRIBUNMANADO.CO.ID - Kandungan logam berat terdeteksi di Danau Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut).
Meski demikian, ikan dari danau tersebut masih dinyatakan layak dikonsumsi dengan sejumlah catatan.
Hal itu disampaikan Akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Prof Ir Kawilarang W. A. Masengi, saat dikonfirmasi, Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan kajian berbagai penelitian, logam berat seperti merkuri (Hg), timbal (Pb) atau lead, tembaga (Cu) atau copper, seng (Zn) atau zinc, serta arsen (As) telah ditemukan di perairan Danau Tondano.
Logam tersebut terdeteksi pada air, sedimen (endapan dasar), hingga biota seperti ikan.
“Secara umum, konsentrasinya masih berada di bawah ambang batas baku mutu lingkungan,” ujar Masengi via WhatsApp
Namun, ia menegaskan kondisi itu menunjukkan adanya tekanan pencemaran akibat aktivitas manusia di daerah aliran sungai (DAS).
Sumber pencemar antara lain limbah rumah tangga, pertanian, budidaya ikan dengan keramba jaring apung (KJA), serta aktivitas industri skala kecil.
Menurutnya, logam berat bersifat beracun, tidak mudah terurai, dan dapat menumpuk dalam tubuh organisme melalui proses bioakumulasi.
“Ikan predator, ikan berumur tua, dan ikan yang hidup di dasar perairan cenderung memiliki kandungan logam lebih tinggi,” katanya.
Meski logam berat telah terdeteksi pada ikan, hasil kajian menunjukkan kadarnya secara umum masih di bawah ambang batas keamanan pangan yang ditetapkan standar internasional seperti WHO dan FAO.
Karena itu, ikan dari Danau Tondano masih dinilai aman dikonsumsi.
“Konsumsi tetap perlu dikendalikan, terutama dalam jangka panjang,” ucapnya.
Ia menyarankan masyarakat memilih ikan berukuran kecil hingga sedang serta menghindari konsumsi berlebihan, khususnya ikan predator.
Selain itu, pemerintah didorong melakukan pemantauan rutin terhadap kualitas air, sedimen, dan ikan guna menjaga keamanan pangan dan keberlanjutan ekosistem Danau Tondano. (Pet)